Ibadah puasa adalah salah satu jalan untuk membangkitkan semangat dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan dan mengupayakan dengan segala kemampuan yang ada. Puasa dilalui dengan cama menahan makan minum dan semua hal yang membatalkan puasa sampai waktu yang ditentukan sebagai upaya melenyapkan syahwat.

Sebagaimana dengan ibadah – ibadah lain yang di syariatkan, puasa juga mempunyai beberapa larangan, yang jika dikerjakan akan membatalkan puasa seseorang. Tulisan ini menjelaskan secara singkat beberapa hal yang membatalkan puasa

Puasa termasuk dalam rukun Islam, puasa dibagi menjadi puasa wajib dan puasa sunat. Puasa wajib terdiri dari, puasa Ramadhan dan puasa Nazar, sedangkan puasa sunat banyak macamnya, diantaranya: puasa sunat selang-seling, puasa sunat tiga hari setiap bulan, puasa sunat hari senin dan hari kamis, puasa sunat enam hari di bulan Syawwal, puasa sunat hari Arafah, puasa sunat Asyura, puasa sunat Sya‟ban, dan puasa sunat sepuluh hari di bulan Dzulhijjah (Saifullah, 2017).

Puasa sendiri ialah ibadah ini telah Allah khususkan untuk diri-Nya sendiri dan Dia-lah yang langsung mengganjarnya, sehingga pahala puasa tak terhitung lipat gandanya. Doa orang yang berpuasa tidak ditolak. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Puasa memberi syafaat pada pengamalnya di hari kiamat. Bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah daripada bau minyak misk.

Puasa adalah tameng dan benteng yang kuat dari api neraka. Serta di surga ada pintu yang dinamakan dengan ar-Royyan yang tidak dimasuki selain orang yang puasa (Al Munajid, 2010).

Meringkas tulisan Abidin (2010), seperti yang di nukil dari kitab Fath al-Qarib, bahwa perkara yang dapat membatalkan puasa meliputi beberapa hal, antara lain :

1. Sampainya Sesuatu Ke Dalam Lubang Tubuh dengan Disengaja.

Maksudnya, puasa yang dijalankan seseorang akan batal ketika adanya benda (‘ain) yang masuk dalam salah satu lubang yang berpangkal pada organ bagian dalam yang dalam istilah fiqih biasa disebut dengan jauf. Seperti mulut, telinga, hidung.

Termasuk dalam hal ini, Al-Jarullah (2010) memasukkan pada perkara yang membatalkan puasa adalah Infus dan transfusi darah pada orang yang berpuasa, seperti akibat pendarahan. Sedangkan suntikan yang bukan makanan, ulama berbeda pendapat, lebih utama tidak melakukannya kecuali darurat yang mengharuskan berbuka agar keluar dari khilaf.

Berbeda dengan Al-Jarullah (2010), Al Munajid (2010) menuliskan bahwa suntikan yang tidak mengandung unsur makanan dan minuman, hanya sekedar pengobatan, tidaklah membatalkan pusa. Cuci darah tidak membatalkan puasa. Pendapat kuat mengenai suntik biasa, tetes mata dan telinga, cabut gigi dan pengobatan luka, semua itu tidaklah membatalkan. Spray penyakit asma juga tidak membatalkan.

Periksa darah tidak membatalkan puasa. Obat kumur tidak membatalkan puasa selama tidak ditelan. Pembiusan ketika pengobatan gigi dan rasanya masuk sampai ditenggorokan tidak membatalkan puasanya.

2. Mengobati dengan cara memasukkan benda (obat atau benda lain) pada salah satu dari dua jalan (qubul dan dubur).

3. Muntah dengan sengaja.

Akan tetapi jika seseorang muntah tanpa disengaja atau muntah secara tiba-tiba (ghalabah) maka puasanya tetap dihukumi sah selama tidak ada sedikit pun dari muntahannya yang tertelan kembali olehnya.

Lebih jauh Al Munajid (2010) menuliskan bahwa siapa yang tiba-tiba muntah tidak harus mengganti puasanya. Siapa yang sengaja muntah hendaknya mengganti puasanya. Jika muncul mual seolah akan muntah tetapi kemudian kembali normal secara sendirinya, puasanya tidak batal. Adapun ludah dan dahak jika menelannya sebelum sampai kemulutnya, puasanya tidak batal, tetapi jika dia menelannya setelah sampai di mulutnya maka puasanya batal. Makruh mencicipi makanan tanpa hajah.

4. Melakukan Hubungan Seksual dengan Lawan Jenis (Jima’) dengan Sengaja

Bahkan, dalam konteks ini terdapat ketentuan khusus: puasa seseorang tidak hanya batal dan tapi ia juga dikenai denda (kafarat) atas perbuatannya.

Semisal dengan ini Al Jarullah (2010) berpendapat bahwa diharamkan jima (bersetubuh) di farj (vagina) pada siang Ramadhan. Bagi yang melakukannya wajib mengganti dan menunaikan kafarah mughalazoh, yaitu membebaskan budak, Jika budak tidak ada maka dengan berpuasa selama dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu berpuasa maka dengan memberi makan 60 orang miskin.

Al Munajid (2010) juga menuliskan bahwa Siapa yang diwajibkan berpuasa, kemudian berjima (bersetubuh) di siang Ramadhan dengan sengaja dan sadar, maka dia telah merusak puasanya, wajib bertobat dan menyempurnakan puasanya hari itu. Dia juga harus mengqodho dan menunaikan kafarah mugholazoh1. Demikian juga yang melakukan zina, sodomi, atau bersetubuh dengan hewan.

5. Keluarnya air mani (sperma) disebabkan bersentuhan kulit

Yang membatalkan puasa adalah keluarnya mani akibat onani atau sebab bersentuhan dengan lawan jenis tanpa adanya hubungan seksual. Berbeda halnya ketika mani keluar karena mimpi basah (ihtilam) maka dalam keadaan demikian puasa tetap dihukumi sah.

Al Jarullah (2010) juga berpendapat sama yaitu bahwa mengeluarkan air mani secara sadar dengan onani, mencumbu, mencium atau yang sepertinya dengan sadar. Adapun bila keluar mani karena mimpi, tidaklah membatalkan puasa karena di luar kesadaran.

6. Mengalami Haid atau Nifas Pada Saat Puasa

Selain dihukumi batal puasanya, orang yang mengalami haid atau nifas berkewajiban untuk mengqadha puasanya. Al Munajid (2010) menjabarkan lebih jauh bahwa Wanita haid jika melihat lendir putih –cairan putih yang keluar dari rahim seusai haid- ini diketahui oleh wanita, berarti dia telah bersih.

Hendaknya meniatkan puasa pada malamnya dan berpuasa setelahnya. Jika masih belum bersih pada waktunya, diperiksa dengan diusap dengan kapas atau yang sepertinya, jika bersih hendaknya berpuasa. Wanita haid atau nifas jika darahnya berhenti pada malam hari kemudian berniat puasa tetapi belum mandi hingga terbit fajar, menurut mazhab seluruh ulama puasanya sah.

7. Murtad Pada Saat Puasa

Murtad adalah keluarnya seseorang dari agama Islam.

Beberapa hal diatas adalah perkara yang dapat membatalkan puasa, ketika salah satu dari delapan hal tersebut terjadi pada saat puasa, maka puasa yang dijalankan oleh seseorang menjadi batal.

Perlu diketahui bahwa beberapa ketentuan yang berhubungan dengan sebab batal puasa seseorang antyara lain ;

  1. Pembatal-pembatal puasa di atas disyaratkan terjadi dengan kesadaran dan kehendak. Jika dilakukan karena jahil (tidak tahu), lupa atau dipaksa, puasanya tidak batal.
  2. Segala yang tidak mungkin dapat dihindari, seperti debu jalanan, mimisan, pendarahan, mimpi basah, muntah dan yang sepertinya, maka hal itu tidak membatalkan puasa.
  3. Wajib berbuka puasa jika diperlukan untuk menolong orang yang dalam bahaya, seperti tenggelam dan lain sebagainya, akan tetapi menurut Al Muajid (2010) wajib mengganti puasanya.
  4. Setiap yang puasanya batal karena hal-hal di atas, wajib mengqodho (mengganti) sebanyak jumlah hari, sambil bertobat dan beristigfar (Al-Jarullah, 2010)

Literatur :

Tanggapan