Sebenarnya, mau pilih yang gratis atau bayar tidak ada sekat pasti antara hitam putih, baik buruk, benar atau salah. Hanya disesuaikan persepsi, kondisi, reaksi, dan sudut pandang.

Mau yang gratis ataupun bayar, pada dasarnya adalah netral. Kalau diri kita merespon baik, maka jadi baik. Dan sebaliknya bisa menjadi buruk.

Ada banyak hal yang gratis di dunia ini, dan banyak hal yang berbayar. Di bawah ini adalah sedikit contoh saja :

1. Semua yang ada pada tubuh kita.

Ya, tidak ada tarif untuk setiap nafas yang kita hirup, jantung yg berdetak, mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan sebagainya. Tetapi pada beberapa orang, mereka harus membayar agar tetap berfungsi.

Semua karunia hidup dan fungsinya yang Allah berikan ini tanpa tarif sama sekali.

Akan tetapi, hasilnya akan berbeda pada setiap orang.

Orang yg diberikan karunia hidup ini, lalu membayarnya dengan berbagai bentuk ketaatan dan kebajikan, tentu akan berbeda dengan orang mengambilnya dengan gratis 100% atau malah mengingkarinya. Jelas akan berbeda derajatnya di dunia maupun kelak di akhirat.

Karunia hidup ini adalah modal, yang harus dikembalikan pada pemiliknya sesuai tempo. Jika kita membayar, mengolahnya dengan baik, dijadikan deposito kebaikan, kelak kita akan dititipkan anugerah lebih besar berupa surgaNya.

Sebaliknya, bagi mereka yang tidak peduli akan tempo dan tidak menginvestasikan modalnya, mereka akan melarat sejak kematian hingga akhiratnya. Tidak mau membayar dengan berbuat baik, menjalankan kewajiban dan sunnnah pun tidak mau.

Tidak mau solat apapun alasannya, dikejar sampai mati.

Jadi, apakah hidup ini gratis?

2. Agama, Iman, dan Ilmu

Nah, kalau ini apakah gratis?

Tidak. Gusti Alloh menurunkan Agama Tauhid, agama Islam tidak gratis. Harus dibayar oleh pengorbanan yang berat oleh Nabi dan RasulNya. Nabi Muhammad SAW sendiri menerima turunnya ayat tidak mudah. Nabi membayarnya dengan segala upaya dan penderitaan. Yang gunung pun tidak sanggup menerima amanah diturunkannya Kalamullah yang suci. Nabi melakukan uzlah, tahhanuts, penyucian diri sangat berat, yang tidak akan cukup dihargai oleh materi.

Belum lagi darah para syuhada, pengorbanan para sahabat baik materi, energi, maupun psikologi. Rasanya, sulit menemukan tandingan pengorbanan para sahabat Nabi untuk membayar Agama Islam yang Allah turunkan untuk modal dan akomodasi menuju kehidupan yang hakiki.

Jadi, apakah Agama Islam itu gratis? Tidak. Ia harus dibayar dengan dua kalimat syahadat, penghambaan yang totalitas, dan atau semampunya.

Lalu, apakah Iman juga gratis begitu saja? Tidak juga. Iman adalah karunia Allah yang diberikan sesuai kehendakNya, tapi harus dibayar dengan pengorbanan dan penghambaan yang totalitas, dan atau semampunya.

Sementara Ilmu, apakah gratis?

Tidak juga. Semua ilmu harus dibayar dengan pengorbanan materi, energi, dan apa saja yang “kita miliki”. Ilmu yang Allah berikan melalui panca indera, melalui orang lain, melalui akal, melalui alat yang manusia. Tidak ada yg gratis.

Ilmu doruri seperti penginderaan dan penglihatan, tidak ada biaya di awal, tapi harus dibayar selama digunakan.

Sedangkan ilmu nadlori, seperti bahasa, matematika, kimia, sejarah, biologi, teknologi, digital dan semacamnya tidak ada yang gratis. Minimal punya kuota data. Atau bayar dengan harga diri dan kepercayaan orang lain untuk meminjamkan media.

Baca juga : Selalu Bersyukur dalam Keadaan Apapun

Materi, energi, waktu, dan segala upaya yang kita investasikan untuk ilmu nadori, atau ilmu terapan ini, akan sesuai dengan kualitas dan kuantitas.

Mereka yang hanya lulus SD, tentu akan berbeda dengan lulusan S3.

Mereka yang investasi privat, jelas akan berbeda dengan investasi reguler.

Jangan terlalu percaya keberuntungan/lucky factor kalau tidak mau disebut jabariyah. Juga jangan terlalu bersandar pada usaha dan ikhtiyar kalau tidak mau disebut qodariyah. Tapi maksimalkan saja ikhtiyar, kasab, investasi untuk masa depan sambil percaya akan keberuntungan atau keputusan Allah. Inilah keseimbangan yang insya Allah sejahtera fid dunya, wal akhirat.

Masih percaya ilmu itu gratis?

Setiap kyai, setiap guru menularkan ilmu kepada gurunya pasti tanpa pamrih, tanpa tanda jasa. Ya, betul. Tapi lihat hasilnya antara murid yang membayar ilmu gurunya dengan pengabdian, berhidmah lahir batin, menjadi ndalem/khadim, menjadi penggarap sawah kebun kyai. Ada juga yang tidak sanggup menjadi ndalem/khidmah pada guru dengan tenaga, tapi mengabdi dengan mengamalkan ilmu atau membalasnya dengan materi tanpa henti. Ada juga yang membayarnya dengan mengajarkannya lagi pada orang lain tanpa pamrih juga. Ada juga yang mendapatkan ilmu gratis, lalu membayarnya dengan prestasi yang ditempuh dengan pengorbanan waktu, energi, atau materi yang tidak sedikit. Lihatlah mereka kini jadi apa?

Bandingkan dengan murid yang mendapat ilmu dari guru secara gratis, malas mengabdikan diri sejak menjadi santri/murid, hingga sudah mandiri, tidak mau membayar sama sekali baik energi maupun materi?.

Tentu saja, ilmu ijazah gratis juga akan berbeda dengan yg tidak gratis. 😊

—–

Alhamdulillah, kita masih menikmati banyak hal gratis… Beruntung masih banyak hal gratis di dalam hidup ini. Walaupun kini setiap tempat minimal dikenai tagihan 2.000, kita anggap itu investasi atau konversi untuk tabungan amal, untuk tiket ke surga 😊

—–

Pada akhirnya, di dunia ini, dan hidup kita ini sebenarnya tidak gratis. Semuanya ada pemiliknya. Jadi harus dikembalikan, atau diinvestasikan biar kita dapat keuntungannya. Jangan sampai rugi karena tidak berinvestasi, karena tagihan akan datang sesuai tempo masing-masing dan diminta pertanggung jawaban.

Jelas, mereka yang berkualitas adalah yang sadar membayar walaupun gratis. Dan mereka yang berkualitas, adalah yang memilih tidak gratisan.

Menurut saya :

  1. Mereka yang pilih gratis, tapi ingin berkualitas, adalah golongan hedonis materialistis.
  2. Mereka yang pilih bayar berapapun atau dengan apapun demi kualitas, adalah golongan realistis.

Nah, mau pilih yang gratis atau bayar?

Diakui atau tidak, kita sering mengganggap remeh hal-hal yang gratis.

Diakui atau tidak, kita sering mengganggap remeh hal-hal yang gratis.

Jadi, bagaimana menurut Anda?

Tanggapan

Berikan Tanggapan :

Mohon beri tanggapan
Silahkan masukkan nama Anda