Tulisan ini mengupas riwayat singkat Raden Aria Wiratanudatar Cikundul Cianjur

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

اللهمٌ انفعنا بما علٌمتنا وعلٌمنا ما ينفعنا واجعلنا من عبادك الصالحين آميــــن يا ربٌ العلمين

Raden Kanjeng Aria Wiratanudatar yang dikenal sebagai Kanjeng Dalem Cikundul Beliau adalah penyebar Islam sekaligus Bupati Cianjur pertama, di Kp. Cijagang Ds. Majalaya Kec. Cikalong Kulon Kabupaten Cianjur. Dari kejauhan nampak di atas sebuah bukit yang sekelilingnya menghijau ditumbuhi pepohonan yang rindang. berdiri sebuah bangunan cukup megah dan kokoh. Bangunan yang sangat artistik dengan nuansa Islam itu tiada lain makam tempat dimakamkannya Bupati Cianjur Pertama, R Aria Wira Tanu Bin Aria Wangsa Goparana periode (1677-1691) yang kemudian terkenal dengan nama Dalem Cikundul.

Riwayat Hidup Raden Aria Wiratanudatar Cikundul Cianjur

Raden Aria Wiratanudatar Cikundul CianjurRd.Aria Wiratanudatar waktu kecil bernama Pangeran Jayalalana atau R. Ngabehi Jayasasana. Ayahnya, Raden Aria Wangsagoparana yang juga masih keturunan raja Talaga, waktu berusia 8 tahun R. Aria Wiratanudatar mesantren di Cirebon mendalami ilmu agama Islam. Ia adalah seorang santri yang paling menonjol dalam bidang keagamaan, kemasyarakatan dan ilmu pemerintahan, sehingga oleh kesultanan Cirebon diberi gelar Aria sebagai tanda anggota kerabat keraton. Setelah dewasa ia diminta oleh gurunya mendirikan Kadipaten di Cinengah, gunanya untuk menyebarkan agama Islam.

Menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat kita yang waktu itu beragama Hindu dan Budha bukal hal yang gampang. Tantangan dan hambatan datang dari berbagai sudut, Tapi berkat kepiawaiannya sedikit demi sedikit beliau bisa juga merangkul masyarakat sekitanyar untuk memeluk agama Islam.

Bahkan sejarah Cianjur mencatat sebagai salah seorang dari sekian ulama yang berhasil menyebarkan Islam di wilayah itu. Satu hal menarik mengenai pribadi RA. Wiratanudatar Cikundul, dalam catatan sejarah pernah ditulis bahwa beliau pernah bertapa selama 40 hari 40 malam ( dalam ilmu tashawwuf / Ilmu Kewalian disebut Riyadhoh dan Mujahadah ). Tafakur mendekatkan diri pada Allah SWT di batu agung, tinaragung, Sagala herang.

Raden Aria Wiratanudatar didatangi dan digoda putri Jin yang sangat cantik putera dari raja jin Islam bernama Syech Jubaedi. 3 puteri jin itu bernama Arum Cahaya, Arum wangi, Arum Endah dan pengasuhnya bernama Arum Paka. Karena kekhusyuan RA. Wiratanu 1, putri paling bungsu, Arum Endah, tertarik dan jatuh cinta kepada RA. Wiratanu 1. Akhirnya sang putri Jin menikah dan melahirkan 3 orang putera bernama Rd. Suryakencana, Rd. Andaka Wirusajagat dan Rd Endang Sukaesih. Sementara itu dari manusia biasa Rd. Aria Wiratanu datar mempunyai 11 orang putera.

Setelah itu ia mengembara ke daerah Cianjur menyusuri kali Citarum dengan membawa anak buahnya sebanyak 300 umpi. Setiap tempat disinggahinya sambil menyebarkan agama Islam dan ia pernah bertemu dengan Rd. H Abdulsyukur, Kiai Gunung Wayang.

Berdirinya Cianjur, dan Menjadi Kepala Masyarakat

Raden Aria Wiratanudatar yang memiliki nama asli Jayalalana atau Jayasasana Setelah dewasa, diberikan tanggungjawab oleh ayahnya Dalem Sagaraherang berupa 100 orang rakyat (cacah). Menurut sistem feodalisme saat itu, kekuasaan seorang bangsawan ditentukan oleh banyaknya rakyat yang dipimpin bukan berdasarkan tanah (wilayah). Karena semakin banyak rakyat, maka akan semakin banyak pula wilayah yang ditempati oleh rakyatnya itu.

Bersama keseratus orang itu, Jayasasana kemudian mencari tempat baru ke daerah pedalaman Jawa Barat saat ini dan sampailah ke daerah sungai Cikundul yang sekarang berada di wilayah kecamatan Cikalong Kulon. Di sini mereka mulai bermukim dan membuka lahan baru. Rakyat Jayasasana hidup berpencar, tidak bermukin di satu tempat tetapi kebanyakan di bermukim Cijagang karena disanalah pemimpin mereka (Jayasasana) berada. Beberapa tempat yang dihuni rakyat Jayasasana diantaranya adalah di dekat sungai seperti di Cibalagung dan di Cirata.

Meskipun tempat tinggalnya terpencar, mereka masih berada dalam satu kesatuan komunitas (Belanda: Volksgemeenschap) di bawah pimpinan Jayasasana. Berdasarkan hukum sosiologi mengenai pembentukan masyarakat, dalam kesatuan rakyat Jayasasana akhirnya lahir tata cara dan aturan bermasyarakat yang harus dipatuhi oleh semua rakyat Jayasasana. Tata cara di setiap masyarakat memiliki sifat bersatu sehingga dalam setiap kesatuan masyarakat ada kesatuan hukum (Rechtsgemenschap).

Tugas utama seorang kepala masyarakat adalah mengatur kehidupan dan menegakkan hukum yang berlaku. Selain daripada itu, ia juga bertugas untuk melindungi rakyatnya jika ada keributan, jika ada perampokan atau jika ada serangan dari wilayah lain. Sehingga kepala masyarakat saat itu lebih tepat disebut sebagai Panglima atau Senapati dan bukan disebut sebagai Dalem. Begitupun dengan masyarakat Jayasasana saat itu masih berada dalam tahap kesenapatian. Secara de jure karena runtuhnya Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran, sebenarnya wilayah yang saat itu ditempati oleh Rakyat Jayasasana berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. Namun secara de facto berada di bawah kekuasaan Kesultanan Kasepuhan di Cirebon karena status Cirebon di abad ke-18 adalah negara bawahan (vassal) dari Mataram. Maka daripada itu dalam beberapa catatan-catatan VOC rakyat Jayasasana sering disebut sebagai rakyat Cirebon.

Menjadi Dalem dan Mendapat Gelar Wira Tanu

Runtuhnya Pajajaran menyebabkan beberapa daerah merdeka dan menyebabkan beberapa kerajaan berusaha mengklaim wilayah bekas Pajajaran termasuk kerajaan Sumedang Larang di bawah Prabu Geusan Ulun yang menurut klaimnya bahwa seluruh bekas wilayah Pajajaran adalah wilayah Sumedang Larang. Dalam rangka menegakkan klaimnya, Prabu Geusan Ulun kemudian menyelenggarakan serangkaian kampanye militer untuk menaklukan wilayah-wilayah yang tidak tunduk pada klaimnya.

Untuk mengatasi kampanye militer Sumedang Larang, Cirebon kemudian memperkuat pertahanan, diantaranya adalah di wilayah Cimapag yang saat itu wilayah Cimapag termasuk ke dalam wilayah tanggungjawab Jayasasana. Maka Cirebon kemudian mengangkat Jayasasana sebagai senapati atau panglima dengan gelar Wira Tanu (Wira Tanu artinya Panglima atau Senapati).

Dalam masa genting seperti itu, beberapa kesatuan masyarakat yaitu :

  1. Cipamingkis di bawah pimpinan Nalamerta;
  2. Cimapag di bawah pimpinan Nyiuh Nagara;
  3. Cikalong di bawah pimpinan Wangsa Kusumah;
  4. Cibalagung di bawah pimpinan Natamanggala;
  5. Cihea di bawah pimpinan Wastu Nagara; dan
  6. Cikundul di bawah pimpinan Jayasasana dengan gelar Wira Tanu bersepakat untuk menyatakan bahwa wilayahnya bersatu menjadi satu negeri yang bernama Cianjur dan sepakat untuk mengangkat Jayasasana (yang sudah mendapat gelar Wira Tanu) untuk menjadi Dalem. Karena sudah diangkat sebagai dalem (tidak lagi hanya senapati) Wira Tanu kemudian menggunakan gelar Aria, sehingga nama lengkapnya menjadi Raden Aria Wira Tanu.

Berbeda dengan Bandung atau Sumedang, Cianjur merupakan kabupaten yang berdiri sendiri (merdeka) meskipun secara de jure masih di bawah Mataram melalui Cirebon. Ini terjadi karena ada perjanjian antara Mataram dengan VOC untuk memberikan wilayah antara Cisadane dan Citarum menjadi wilayah VOC menurut kontrak tanggal 25 Februari 1677.

Penentuan Hari Jadi Cianjur

Seperti telah diketahui, Cianjur pada awalnya adalah wilayah Mataram melalui Cirebon. Pada tahun 1670-1677 bisa disebutkan sebagai 7 tahun kebebasan dari kekuasaan Mataram, hal ini terjadi karena pada tahun 1670 klaim Mataram atas wilayah-wilayahnya sudah berkurang karena fokus berperang dengan VOC, sedangkan pada tahun 1677 Mataram secara yuridis telah menyerahkan kekuasaannya di antara wilayah Cisadane-Citarum kepada VOC. Namun karena keterbatasan VOC, VOC belum bisa menjajah wilayah yang didapatnya dari Mataram secara intensif. Jadi meskipun secara de facto wilayah tersebut merdeka tetapi secara de jure status mereka adalah jajahan VOC.

Pada tanggal 2 Juli 1677, Trunojoyo menyerbu istana Plered dan Amangkurat I kabur bersama Mas Rahmat. Kesempatan ini dijadikan titik tolak lepasnya wilayah-wilayah jajahan Mataram secara de facto. Berita ini baru sampai ke Cianjur pada tanggal 12 Juli 1677, sehingga secara de facto pada tanggal 12 Juli 1677 Cianjur merdeka dari Mataram.

Kemerdekaan yang dicapai sebenarnya hanya de facto karena secara de jure, Cianjur sudah berada di wilayah VOC berdasarkan kontrak tanggal 25 Februari 1677. Namun karena VOC belum mampu mengelola daerah jajahannya sehingga Wira Tanu pada waktu itu berhasil menjadi Dalem secara Mandiri tanpa diangkat oleh VOC maupun oleh Raja/Sultan yang lain. Sehingga menurut catatan VOC/Belanda, bupati regent Cianjur yang pertama bukanlah Wira Tanu I tetapi anaknya yaitu Wira Tanu II

Masa Senja Raden Aria Wiratanudatar Cikundul Cianjur

Setelah lanjut usia ia menetap di Kp. Majalaya dengan mendirikan Pesantren dan mengamalkan ilmu agamanya sampai wafatnya yakni wafat pada hari jum`at 13 Robi`ul Awwal 1118 H / 25 juni 1706 M. 1706 Masehi dan dimakamkan di puncak Bukit Cijagang. Kampung Majalaya, Desa Cijagang, Kecamatan Cikalong-kulon. Cianjur, Jawa Barat , dan Beliau meninggalkan putra-puteri sebanyak 11 orang diantaranya :

  1. Dalem Aria Wiramanggala. ( Aria Wiratanu II )
  2. Dalem Aria Martayuda (Dalem Sarampad).
  3. Dalem Aria Tirta (Di Karawang).
  4. Dalem Aria Natamanggala (Dalem aria kidul / Gunung jati cjr),
  5. R.Aria Wiradimanggala(Dalem Aria Cikondang)
  6. Dalem Aria Suradiwangsa (Dalem Panembong),
  7. Nyi Mas R. Kaluntar .
  8. Nyi Mas R. Bogem
  9. Nyi Mas R. Karangan.
  10. Nyi Mas R. Kara
  11. Nyi Mas R. Djenggot

Dan dari bangsa jin Islam, memiliki 2 orang putra – dan 1 putri, yaitu

  1. Eyang Surya-kancana Mangku bumi . yang hingga sekarang dipercayai bersemayam di Gunung Gede atau hidup di alam jin.
  2. Nyi Mas Indang Kancana alias Indang Sukaesih alias Nyai Mas Kara, bersemayam di Gunung Ceremai,
  3. R. Andaka Warusajagad di gunung kumbang Karawang

Dan keradenan di alam jin mulai di hilangkan oleh Eyang Surya kancana Mangkubumi , sebab asal kata Raden adalah Ra = Ruh = Roh dan Den= Din = agama jadi Raden / Ruhdin adalah Rohnya Agama.

Alasannya ditakutkan tidak bisa membawa pada akhlak yang baik dan tidak sanggup membawanya ke jalan yang benar, karena kalau akhlak tidak baik berarti menyalahi ruhnya agama sehingga berubah asal kata Raden / Ruhdin menjadi Ra= Rada dan Den = Edan jadi Raden = Rada Edan……

Maka dari itu semoga kita menjadi manusia yang mengedepankan Akhlak yang baik, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Asah, dan Silih mewangikan sampai sepanjang masa.

Baca juga :
KH. Abdullah bin Nuh

 

Sumber : Wikipedia

Tanggapan

Berikan Tanggapan :

Mohon beri tanggapan
Silahkan masukkan nama Anda