Sebelum membicarakan perbedaan ustadz dan kyai, saya pernah mendengar pendapat yang mengatakan beberapa macam kyai di dunia ini:

  1. Kyai Catur
  2. Kyai Tandur
  3. Kyai Tekukur
  4. Kyai Sembur

Lalu ada yang menambahkan:

5. Kyai Nganggur

6. Kyai Ngawur

Entah siapa yang pertama kali merumuskan ini, namun rumusan ini akan saya uraikan. Dalam uraian ini, saya coba ganti dengan istilah Ustadz, dengan harapan tidak ada maksud untuk merendahkan muruah Kyai. Sebab, kyai adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat (hakikatnya dari Allah) atas penghargaan masyarakat, sebagai apresiasi yang tinggi atas peran dan penghargaan seseorang dalam mengemban amanah memimpin dan mengayomi umat dalam rel dan manhaj Islami. Sementara Ustadz, sudah terlampau umum dipakai dan dilekatkan pada seseorang yang bisa berbicara di depan massa. Jadi, Ustadz lebih umum dari Kyai, dan Kyai lebih khusus dari Ustadz.

Karena gelar Kyai sangat disetujui, maka kita sederhanakan dengan istilah “Ustadz”.

A. Ustadz Catur

Dari namanya yang melekat, yaitu: “catur”, permainan olahjiwa / olahraga yang berbasik pikiran. Maka, Ustadz Catur, adalah kategori tokoh yang memiliki basis pengetahuan agama yang mendominasi pemikiran, kegiatan, dan ucapannya terkait dengan urusan permainan yang didasarkan pada perdebatan, yaitu Politik.

Ustadz Catur, biasanya tertarik dengan angka-angka. Angka manipulasi, spekulasi, politisasi, dan meterialisasi rentan. Kita bisa menjumpainya di masyarakat, baik di pengajian, akbar tabligh, maupun media sosial.

Ustadz Catur ini sering bergaul dengan Pemerintah, Partai, Ormas, Lembaga, atau apapun yang ada struktur kepengurusannya. Yang membuat mereka tertarik adalah: kepemimpinan, popularitas, harta, dan hal-hal yang memiliki tantangan.

Pada kelompok ini, sifat-sifat umum awam masih melekat, seperti: Hubbud dunya (cinta dunia), hubbul jaah (cinta kepemimpinan), hubbul maal (cinta kekayaan), hubbur riasah (cinta diakui-dilirik) hubbus sam’ah (cinta pengakuan) -didengar). Mereka senang dipuja dan dipuji, diagungkan, dan dibesarkan. Orientasinya, sering diundang, nafsu, keinginan, syahwat, dan keinginan yang diminta demi hasratnya.

Dalam kelompok ini, yang diterbitkan Ustadz Catur yang senior dan profesional yang menjawab Kyai Catur. Pada kenyataanya, ada yang memiliki pesantren, majelis ta’lim, lembaga formal, ada juga yang tidak memiliki semua itu, tapi mumpuni ilmu agama dan terjun ke hal-hal yang sifatnya politik, pergerakan. Berlangganan, sering orasi politik, baik di podium, mimbar mesjid, media sosial, maupun media penyiaran.

2. Ustadz Tandur

Tandur, adalah istilah sunda yang umumnya menggambarkan profesi “menanam padi”. Sebutan Ustadz Tandur, cocok untuk tokoh masyarakat yang memiliki ilmu agama, dan kesehariannya dipenuhi dengan ilmunya untuk murid-murid, santri, atau jama’ah pengajian majlis ta’limnya.

Ustadz Tandur, tidak tertarik, tidak mau tahu, tidak mau ikut, lebih suka apatis terhadap urusan politik, pemerintahan, dan urusan yang sifatnya sementara dan instan. Mereka tidak mau mengumpulkan yang merupakan struktur orgaisasi. Orientasi mereka akhirat, dengan mentransfer ilmu, membina masyarakat, dan menanamkan kebaikan yang dituangkan dala karya nyata, sosial, serta karya ilmiah.

Ustadz Tandur, biasanya memiliki tanggung jawab moral yang tinggi terhadap masyarakatnya. Mereka sangat tertarik dengan dunia pendidikan, dan selalu berusaha menjauhi dunia perpolitikan. Pada kelompok ini, tensi “hubbu” -nya tidak setinggi Ustadz Catur.

Dalam kelompok ini, pemula yang disebut Ustad Tandur, yang sudah senior dan profesional disebut Kyai Tandur. Pada dasarnya, ada yang memiliki pesantren, majelis ta’lim, madrasah, sekolah berbasis agama. Ada juga yang belum memiliki lembaga tersebut, tetapi aktif membantu dan mengajar di lembaga pendidikan orang lain.

4. Ustadz Tekukur

Tekukur, atau tikukur, adalah jenis burung yang memiliki suara merdu, Indah, enak didengar, dan kadang ada yang melibatkannya dalam kontes burung.

Ustadz tekukur, adalah tokoh yang memiliki pengetahuan agama, namun ketertarikannya adalah “dunia panggung”. Mereka aktif mengisi panggung ceramah, tabligh akbar. Ada yang jadi da’i, qori, MC, atau pengisi acara lainnya yang bersentuhan dengan agama.

Kelompok ini, umumnya tidak memiliki pesantren, lembaga, yayasan, organisasi, atau badan lainnya. Selain memiliki penggemar, popularitas, dan pendukung fanatik yang cukup banyak, atau sangat banyak. Ada juga Ustadz Catur yang tidak suka manggung di podium, tetapi aktif di media sosial, media penyiaran seperti radio, televisi, youtube, atau lainnya.

Intinya, suara mereka “merdu” enak didengar, dirindukan, digemari, dan diterima oleh banyak orang.

Pada kelompok ini, pemula yang disebut Ustadz Tekukur, yang senior dan profesional disebut Kyai Tekukur.

4. Ustadz Sembur

Sembur, adalah istilah yang memancarkan air dari lubang. Contoh: menyemburkan udara dari mulut, air menyembur dari sumur artesis, dlsb.

Ustadz sembur, adalah mereka yang kurang tertarik dengan dunia kasar. Mereka sangat menggeluti dunia astral, dunia spiritual. Pada dasarnya, ustadz sembur meguasai ilmu-ilmu kebatinan, mantra-mantra, dan perklenikan. Sebagian ustadz sembur menguasasi berbaa disiplin ilmu agama, dan sebagian lagi dangkal terhadap penguasaan disiplin ilmu-ilmu pesantren. Namun mereka unggul dalam “ilmu hikmah”.

Kelompok ini sering terlibat dalam dunia perdukunan, klenik. Maka tak heran ada yang nyinyir dengan meyebutnya sebagai dukun putih.

Ustadz Sembur, sangat penting dalam mengawal kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, berniaga, berkeluarga, berpolitik, berorganisasi, bertani, berwirausaha, medis, dan lain sebagainya. Kehadiran Ustadz sembur sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat dari semua kalangan. Bahkan Ustadz Catur, Ustadz Tandur, dan Ustadz Tekukur pun membutuhkan bantuan Ustadz Sembur. Tidak hanya kalangan ustadz, kalangan politisi, pengusaha, pegawai, dan kalangan bawah pun sering datangi Kyai Sembur sebagai solusi alternatif yang memudahkan medis atau non medis, demi menghindari dukun asli atau pengobatan dokter.

Kelompok ini memiliki lembaga pendidikan agama, ada juga yang tidak. Terkadang, Ustadz tidak menampilkan pakaian umum untuk para ustadz. Mereka kadang-kadang ditemukan di tempat yang tidak biasanga, seperti di sekolahan, di perumahan, dlsb.

Dalam kelompok inipun, yang disebut pemula ustadz sembur dan yang profesiona senior yang disebut kyai sembur, atau “kyai hikmah”.

Masuk dalam kelompok ini, yaitu ustadz atau kyai yang menyelengarakan majlis dzikir. Majelis dzikir, adalah majelis spiritual. Dunianya kyai sembur.

5. Kyai Nganggur

Yaitu mereka yang memiliki latar belakang pendidikan agama islam, pesantren alumni, belajar dari kyai dan ustadz tandur, lalu memiliki pemahaman dan ilmu agama yang cukup, atau luar biasa. Tapi mereka tidak mau membahas dan menampilkan keilmuannya. Sementara potensinya ada yang bisa jadi Ustadz Catur, Ustadz Tandur, Ustadz Tekukur, ata Ustadz Sembur. Mereka tidak mau mendapat gelar Ustadz atau Kyai. Namun, mereka mengamalkan ilmu untuk dirinya sendiri dan mempertahankan saja. Terbatas. Mereka berbaur di banyak tempat dengan orang yang tidak berlatar pendidikan agama, menjadi pegawai negeri atau swasta. Mereka nyaman tanpa gelar agama dan peran keagamaan. Mereka nyaman bekerja, berbisnis, budayawan, seniman, dlsb.

6. Ustadz Ngawur

Kelompok ini adalah tokoh atau bukan tokoh yang perannya tidak jelas. Tidak masuk klasifikasi tertentu. Namun, mumpuni dalam memahami agama, spiritual, pendidikan agama, dan masyarakat yang memperdalam gelar ustadz atau kyai. Saya katakan ngawur karena belum menemukan istilah yang pas. Tapi tidak mengurangi rasa hormat dan takdzim saya untuk beliau-beliau di bidang ini.

Perannya kadang ganda, atau multitalent.

  1. Catur – Tandur
  2. Catur – Tekukur
  3. Catur – Sembur
  4. Tandur – Tekukur
  5. Tandur – Sembur
  6. Tekukur – Sembur
  7. Catur – Tandur – Tekukur
  8. Catur – Tandur – Sembur
  9. Tandur – Tekukur – Sembur
  10. Catur – Tandur – Tekukur – Sembur.

Perbedaan Ustadz dan Kyai

Keenam kategori ini, layak disebut kyai atau ustadz jika berbasis ilmu agama, pernah mondok, jadi santri, sehingga pemahaman agamanya cukup.

Bagi yang sering ikut kyai atau ustadz dalam kegiatan-kegiatan pengajian selain dzikirnya, tidak menempuh perjalanan disiplin ilmu-ilmunya, disebut muhibbin (simpatisan saja. Gelar Ustadz atau kyai, beban berat di dunia dan diakhirat. Bagi yang terlanjur, atau bisa ditemani gelar kyai / ustadz yang diberikan pemenang (padahal hakikatnya dia muhibbin), sudahlah tidak apa-apa yang dipaksakan.

Gelar kyai dan ustadz, sebenarnya belum pas beneran bila dikategorikan “Ulama”.

Sebab keenam kelompok Ustadz diatas masih rentan dalam zona Industri Agama. Sebutan Ulama, terlalu berat. Allah SWT menyatakan:

ُإِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ اْلعُلُمَاء

“Sesungguhnya (antara) hamba-hamba Allah yang takut padaNya hanyalah Ulama”.

Gelar ulama hanya layak diberikan pada Hamba Allah yang sudah memiliki rasa takut pada Allah. Menjauhi industri agama. Menghindari dan melindungi diri sendiri dari segala hal yang merusak (Al-Muhlikat), seperti ‘uzub, takabbur, hasud, ghibah, namimah, ghurur, thulul amal, fitnah, hubbu dunya, hubbu sam’ah, hubbul mahmadah, hubbul riyasah, Al- bughdu (benci sesama) dlsb ..

Akhlak Ulama, adalah Akhlak yang diwariskan Nabi. Akhlak yang sangat mulia, sangat suci, sangat santun, sangat teduh, sangat ukhrowi, diterima yang Nabj SAW terapkan sehari-hari.

ِإِنَّ اْلعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاء

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi”

Nabi tidak mencontohkan dan tidak mewariskan sifat-sifat madzmumah (tercela). Nabi mewariskan ajaran dan akhlak yang Mulia, penuh cinta, ukhrowi, dan sifat-sifat mahmuda (terpuji) lainnya.

Tiga Derajat Keilmuan 

Tidak lepas dari pembahasan ini, pada dasarnya, baik Ulama, Kyai, maupun Ustadz, semuanya berbasis ilmu. Tanpa disiplin ilmu, jangan memaksakan memanggil atau ingin memanggil orang “Alim” (berilmu).

Dalam tataran keilmuan, Ustad, Kyai, atau Ulama (sebutkan dalam konteks, sebuta bisa berbeda: mama, buya, ajengan, tuan guru, syekh, dlsb). Tampak ada tiga derajat keilmuan:

1. العالم – berilmu

2. العلامة – Sangat berlimu

3. بحر الفهامة – samudera ilmu

Bagaimana gambaran ketiganya?

A. Al-Alim

Yaitu orang yang berilmu agama yang cukup untuk petunjuk hidup, dan menjawab cukup masyarakat.

Derajat ini dianalogikan sebagai: Parit, sungai kecil.

  • Mampu mencukupi kebutuhan masyarakat dalam skala yang kecil.
  • Masih rentan terbawa suasana. Jika ada kotoran atau limbah banyak, bisa tercemar.
  • Ilmu dan kemampua yang masih terbatas.
  • Jika dibahas, orag berilmu agama yang cukup, masih bjsa terbawa arus dan pergolakan politik, isu-isu, dan masalah duniawi.

B. Al-Allaamah

Ia ibarat sungai besar dari hulu ke hilir da ke muara. Sungai besar memiliki kapasitas, kualitas, kuantitas, dan kapabilitas. Al-Allamah memiliki ciri-ciri:

  • Menguasai disiplin ilmu agama 12 penggemar.
  • Mampu menjawab berbagai permasalah dan tatangan kehidupan masyarakat majemuk dan masalah bernegara.
  • Tidak mudah terbawa arus pergolakan global, politik, isu-isu, dan masalah kehidupan. Sudah sangat mapan keilmuan, kehidupan, dan prinsipnya, tetapi masih bisa keruh, tercemar, dan jebol jika ada bencana dan masalah yang sangat besar.

C. Bahrul Fahhamah

Yaitu ibarat samudera, lautan. Ilmunya sudah tidak dapat dicemari oleh kesulitan hidup. Meskipun dicemari oleh ribuan atau jutaan ton dari darat, sementara kekayaan lautnya diekploitasi sebanyak apapun, Lautan tidak akan berubah. Ia tetap seperti dulu, selalu memberi apa yang dibutuhkan oleh orang lain.

Terkadang, lautan mengamuk, berbahaya dan menjadi bencana besar dalam kondisi khusus ulah manusia, dan atas kuasa Allah.

—–

Demikian yang dapat saya uraikan. Semoga bermanfaat, menginspirasi, dan sedikit membantu mencerahkan yang sedang mencari kebahagiaan, panutan, dan mencari jalan petunjuk.

Salah dan benar mohon dikoreksi, demi perbaikan selanjutnya.

Kita senantiasa memohon pada Allah SWT, agar ditempatkan di jalan yang lurus, jalan yag diridhaiNya. Dan menjadi orang baik ..

Baca Juga:

Kyai Berpolitik, Antara Kyai Politik dan Politik Kyai 

Tanggapan

Berikan Tanggapan :

Mohon beri tanggapan
Silahkan masukkan nama Anda