Pentingnya Sifat Sabar – Kesabaran merupakan perwujudan dari akhlaq seorang hamba yang demikian dicintai Tuhan. Kesabaran menandakan bahwa seorang hamba ”mutlak” tunduk terhadap putusan Tuhan sebagaimana yang digariskan pada Khodlo’ Khodar Nya. Dengan demikian kesabaran merupakan inti perilaku ibadah hamba terhadap Tuhan. Menjelaskan konsep kesabaran secara mendalam merupakan tema yang ”coba” dijelaskan oleh penulis.

Secara umum sabar itu ditujukan kepada manusia dan secara khusus sasarannya adalah orang yang beriman. Orang beriman akan selalu menghadapi tantangan, gangguan, ujian dan cobaan dengan sabar, yang menuntut pengorbanan jiwa dan harta benda yang berharga bagi mereka(Sofrianisda, 2017).

Etimologi sabar

Secara etimologi sabar berasal dari bahasa arab yang berarti bersabar, tabah hati, berani. Dalam bahasa Indonesia, sabar berarti: “tahan menghadapi cobaan, tabah, tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru nafsu (Sofrianisda, 2017).

Lebih detail, Raihanah (2018) menjelaskan bahwa SABAR merupakan istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “Shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran”.

Sabar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tahan menderita sesuatu, tenang tidak tergesa-gesa, tidak pemarah. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah, segi istilah sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

Baca Juga : Keutamaan Menghafal Al-Quran

Raihanah (2018) melanjutkan bahwa Ada banyak ayat dalam Alquran yang menunjukan tentang kata sabar sebagaimana yang ditulis dalam Kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li alfaadzi Al Qur’an terdapat 102 kata yang menunjukkan tentang sabar, baik dalam bentuk isim, fi’il, maupun masdar.

Definisi unik tentang kesabaran terdapat pada hadist nabi, sebagaimana dikutip Raihanah (2016) sebagai berikut :

مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ ‏”‏ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي ‏”‏‏.‏ قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي، وَلَمْ تَعْرِفْهُ‏.‏ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم‏.‏ فَأَتَتْ باب النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

Artinya: Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah Saw melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.” Wanita tersebut menjawab, “Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.”

Baca Juga : Arti Istiqomah Dalam Islam

Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah Saw. lalu ia mendatangi pintu Rasulullah Saw dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah Saw, “aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada pukulan pertama.” (HR. Bukhari Muslim)

Makna sabar itu pada pukulan yang pertama seperti pada hadis di atas adalah bahwa kita harus mampu mengendalikan emosi kita pada detik-detik pertama saat menghadapi ujian/cobaan itu datang/terjadi. Ketika kita bisa melewati masa sulit itu maka kita akan dapat menghadapi cobaan-cobaan selanjutnya dengan lapang dada (Raihanah, 2016).

Definisi sabar menurut Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah seperti yang dikutip (2017) bahwa sabar adalah menahan jiwa untuk tidak berkeluh kesah, menahan lisan untuk tidak meratap dan menahan untuk tidak menampar pipi, merobek baju dan sebagainya.

Dengan demikian sabar merupakan sikap mental dan jiwa yang terlatih dalam menghadapi segala bentuk cobaan, yang terlahir dan tumbuh atas dorongan agama, serta ketabahan dan menerima dengan ikhlas cobaan yang menimpa, menahan diri dari segala macam dorongan hawa nafsu, mempunyai sikap mental tahan uji, teguh dan tidak putus asa serta tetap taat kepada perintah Allah dengan terus berusaha dan berjuang demi memperoleh ridha-Nya untuk kebahagiaan dunia dan akhirat (Sofrianisda, 2017).

Sabar dan Sholat Sebagai Penolong

Berapa banyak orang yang kehilangan makna hidup, sampai akhirnya orang tersebut mencari jalan untuk melepaskan diri dari ketakutan, kebingungan, kesedihan dan kekecewaan (Sofrianisda, 2017).

Kuncinya adalah “laku” sabar. Pada posisi ini seorang hamba harus kuat menerima apapun bentuk kegalauan yang dialami. Pada kondisi seperti ini hanya pasrah dan mengharap “bantuan” Allah adalah jalan terbaik.

Seorang hamba yang telah berhasil untuk “kuat” menghadapi kegalauan hidup, kuat menerima coba dan beban yang diberikan Allah, maka sabar berubah menjadi kekuatan. Kemampuan untuk menetapkan hati agar selalu ridho dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Dalam term tasyawuf ini satu “maqom” dari banyak maqom lainnya yang telah berhasil dilewati. Seorang hamba yang telah berhasil menjadikan sabar sebagai kekuatan dalam menanggung tiap ujian yang dibebankan Allah SWT, maka layaklah baginya limpahan fadhol dan kedudukun di sisi Tuhan.

Baca Juga : Mengapa Kita Harus Ikhlas

Raihanah (2018) menjelaskan bahwa sabar merupakan suatu kekuatan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan suatu kewajiban. Sabar juga suatu kekuatan yang menghalangi seseorang untuk melakukan kejahatan. Sabar dalam ilmu Tasawuf merupakan suatu keadaan jiwa yang kokoh, sabil, dan konsekuen dalam pendirian. Jiwanya tidak tergoyahkan, pendiriannya tidak berubah bagaimana pun beratnya tantangan yang dihadapi.

Al Qur’an sendiri memberikan petunjuk untuk menjadikan  sabar dan shalat sebagai penolong. Lebih lanjut Sofrianisda (2017) menjelaskan bahwa untuk membantu manusia dalam menghadapi dirinya yang sedang menghadapi berbagai masalah itu, maka Allah menyuruh manusia untuk shalat, disamping harus bersabar. Dengan shalat manusia tidak akan merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan.

Walaupun ia tidak melihat Allah, namun ia sadar bahwa Allah senantiasa bersamanya dan selalu menjadi penolongnya. Dengan kondisi kejiwaan seperti itu ia mampu mengungkapkan perasaannya kepada Allah, ia akan berdoa memohon dan mengadu kepada Allah. Dengan analisis kejiwaan demikian dapat kita pahami bagaimana berperannya sabar dan shalat dalam diri manusia, sehingga benar-benar dapat menjadi penolong dalam menentramkan batin dan menjadi penolong dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Literatur :

  • Raihanah. 2016. Konsep Sabar Dalam Alquran. Jurnal : TARBIYAH ISLAMIYAH, Volume 6, Nomor 1, Januari-Juni 2016
  • Syofrianisda. 2017. Konsep Sabar Dalam Al-Qur’an Dan Implementasinya Dalam Mewujudkan Kesehatan Mental. HIKMAH: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 6, No. 1 Januari – Juni 2017

Tanggapan