Mengapa Kita Harus Ikhlas – Hari ini, interaksi sosial masyarakat cenderung memandang bahwa “hidup ini tidak lagi ada yang gratis. Mereka menuntut respon balik, seakan mengatakan selalu ada cost yang harus dibayar. Interaksi sosial seperti ini mengarahkan pada  hitung-hitungan untung rugi tiap kali melakukan interaksi sosial baik dengan tetangga sahabat ataupuan pada skala lebih luas pada masyarakat.

Term ikhlas dalam interaksi ini sudah kabur. Kemasyhuran, pangkat dan kedudukan hingga keuntungan pribadi merupakan orientasi hidup duniawi yang dikejar oleh matyoritas masyarakat. Padahal, ajaran Islam, menegaskan bahwa tidak ada yang lebih berbahaya bagi seseorang dalam beramal kecuali keinginan menjadi masyhur dan terkenal di kalangan masyarakat (Fatah, 1995 dalam Hamrin, 2018).

Disinilah pentingnya ikhlas. Khususnya seorang hamba dalam melaksanakan ibadah sosialnya, term ikhlas, menjadi sangatlah penting. Hal ini karena kekusyuan ibadah hamba kepada Rabb Nya tergantung pada kemurnian dan ketulusan hati dan itulah ikhlas, sebagaimana yang akan kita kaji berikut ini.

Pengertian Ikhlas

Dalam kehidupan sehari-hari, ikhlas merupakan istilah yang akrab kita gunakan. Ikhlas seringkali dikaitkan dengan perilaku menolong yang menandakan adanya ketulusan dalam melakukan hal tersebut.

Secara etimologi makna ikhlas adalah jujur, tulus dan rela. Dalam bahasa Arab, kata ikhlas (إخْلاص) merupakan bentuk mashdar dari akhlasa أخْلَصَ yang berasal dari akar kata khalasa. Kata khalasa mengandung beberapa makna sesuai dengan kontek kalimatnya. Ia biasa berarti shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala (sampai) dan I’tazala (memisahkan diri).3 Atau berarti perbaikan dan pembersihan sesuatu (Zakariyah, 1986, dalam Hasiah, 2013).

Ikhlas memiliki akar kata kholasho yang berarti murni, bersih. Ini merujuk pada pemurnian niat dalam menjalani rutinitas kehidupan, hanya demi mencari kedekatan kepada Tuhan (Qalami, 2003, dalam Chizanah, 2012). Berdasar penjelasan tersebut, ikhlas dapat diartikan sebagai bentuk perilaku menolong didasari niat yang baik, tanpa pamrih, demi keuntungan orang lain (Chizanah, 2012).

Goddard (2001) dalam Chizanah (2012) melalui studi semantik meneliti makna ikhlas dalam bahasa percakapan Melayu sehari-hari. Penggunaan kata ikhlas, selalu diiringi kata memberi, menolong, dan kata kerja benevatife lain. Ikhlas dikaitkan dengan niat yang baik dalam menolong. Ikhlas muncul apabila pertama pelaku ingin melakukannya, kedua, pelaku berpikir bahwa hal ini baik untuk dilakukan, dan ketiga, perbuatan dilakukan tidak untuk alasan yang lain.

Mengapa Kita Harus Ikhlas?

Orang yang memiliki jiwa Ikhlas adalah orang yang beramal bukan karena makhluq tapi karena Al-Kholiq. Sehingga dirinya tidak terpengaruh oleh lingkungan apakah sedikit atau banyak orang yang mengikutinya, ada atau tidak orang yang memujinya bahkan tidak mempedulikan ejekan orang atas dirinya, dia akan terus beramal. Karena Ia beramal karena Allah semata bukan karena ada atau tidaknya orang yang memperhatikan dia. Firman Allah SWT :

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

Katakanlah: “Hanya Allah saja yang Aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.(QS. Al-Zumar: 14)

Firman Allah SWT :

فَٱدْعُوا ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَٰفِرُونَ

Artinya : “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS. Gafir: 14)

Lebih lanjut Firman Allah SWT dalam QS : Al-Bayyinah menjelaskan :  

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.(QS.

Baca Juga : Hikmah Beriman pada Hari Akhir

Ikhlas menjadi indikasi kebaikan amal seorang hamba. Firman Allah SWT :

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

Artinya : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

Tafsir ayat tersebut :

Al-Fudhail berkata: Yang dimaksud dengan Ahsanu amalan adalah yang paling ikhlash dan paling benar. Kemudian dia berkata: Sesungguhnya, apabila suatu amal dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar maka dia tidak akan diterima, namun jika dia benar dan tidak dikerjakan dengan ikhlas maka amal itupun tidak diterima sehingga amal itu menjadi ikhlas dan benar secara bersama. Yang dimaksud dengan Ikhlas adalah amal yang dikerjakan semata-mata kerena Allah dan yang dimaksud dengan benar adalah amal yang sesuai dengan sunnah (As Syaqowi, 2009).

As Syaqowi (2009) menjelaskan bahwa ; (Dan orang yang merenungkan sumber syariat dan asalnya, niscaya dia pasti mengetahui keterikatan amalan anggota badan (perbuatan lahiriyah) dengan amalan hati, di mana dia (perbuatan lahiriyah) tidak akan memberikan mamfaat apapun tanpa dibarengi dengannya (amalan hati). Dan amalan-amalan hati lebih diwajibkan atas seorang hamba daripada amalan lahiriyah.

Dan tidakkah seorang mu’min dibedakan dengan orang munafiq kecuali karena adanya perbedaan amalan hati mereka masing-masing yang membedakan mereka berdua?. Dan ubudiyah hati lebih agung, lebih banyak dan lebih lama dari ubudiyah yang bersifat lahiriyah. Ubudiyah hati diwajibkan pada setiap waktu)

Hilangnya Ikhlas Sebagai Sebab Tertolaknya Amal Ibadah

Implementasi ikhlas hamba tergambar pada QS : Al-An’am : 162-163) :

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah  Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah semata, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya, dan kepada itulah aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (Kepada Allah).

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya orang yang paling pertama akan diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid maka Allah-pun memperkenalkan nikmatNya kepadanya dan diapun mengetahuinya. Allah bertanya:

Apakah yang engkau perbuat untuk mendapatkan nikamat tersebut?. Maka lelaki tersebut menjawab: Aku telah berperang dalam rangka menegakkan kalimatMu sampai mati syahid.

Dia membantah lelaki tersebut: Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau berperang agar dikatakan sebagai seorang pemberani, dan itu telah dikatkan kepadamu. Kemudian diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya sehingga dicampakkan ke dalam api neraka. Kemudian seorang lelaki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Maka diapun didatangkan menghadap Allah untuk memperlihatkan nikamtnya sehingga diapun mengetahuinya.

Baca juga : Ayat Al Qur’an Tentang Cinta

Allah bertanya: Apakah yang telah engkau perbuat untuk meraih kenikmatan tersebut?. Lelaki tersebut menjawab: Aku belajar ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an semata karena diriMu.

Allah membantah: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau menimba ilmu agar dikatakan orang yang alim dan membaca Al-Qur’an agar orang memujimu sebagai orang pandai membaca, dan itu telah dikatakan bagimu, maka diperintahkanlah malaikat menggeretnya di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam api neraka. Dan seorang lelaki yang diluaskan rizkinya oleh Allah dan diberikan baginya bermacam-macam harta. Maka dia dihadapkan kepada Allah dan Dia memperkenalkan baginya nikmat-nikmatnya.

Lalu Allah bertanya kepadanya: Apakah yang telah kamu kerjakan untuk  endapatkannya?. Dia menjawab: Tidaklah satu jalanpun yang engkau senangi untuk diinfaqkan harta padanya kecuali aku mengimfaqkan harta padanya karena diriMu. Allah membantahnya: Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau mengerjakan perbuatan tersebut agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal tersebut telah katakana bagimu. Kemudian dirinya digeret di atas wajahnya kemudian dicampakkan ke dalam api neraka) (As-Syaqowi, 2009)

Baca Juga : Sejarah Islam Nusantara yang Jarang Diketahui

Lebih lanjut Hamrin (2018) menjelaskan bahwa ketika kita mengerjakan suatu amalan maka ada dua syarat yang perlu kita penuhi, sehingga amalan kita diterima oleh Allah SWT.

Pertama, ikhlas. Ikhlas adalah tiang utama suatu amalan. Amalan apa pun yang tidak didasari oleh keikhlasan maka tidak akan diterima. Jangan sampai seorang hamba meniatkan atau menyandarkan amalan dan ibadah kepada selain Allah SWT. Walaupun ia menyebut nama Allah SWT ketika melakukannya, namun niat yang tertanam sudah menyekutukan-Nya, maka amalannya tetap batal dan tidak sah.

Kedua, harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Perkara kedua yang perlu diperhatikan dalam suatu amalan adalah kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah SAW. Boleh jadi, seseorang menghabiskan seluruh waktunya untuk beramal dan beramal, namun jikalau tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, maka amalannya sia-sia belaka. Ia hanya mendapatkan nol besar dan kelelahan semata. Dua elemen ini harus ada dalam suatu amalan agar bisa diterima

Kajian Psikologi Tentang Ikhlas

Menarik, bahwa Chizanah (2009) melakukan kajian tentang ikhlas melalui sudut pandang psikologi. Konstruksi ikhlas tersebut ditemukan dalam konfigurasi kognisi-afeksi meliputi konsep diri sebagai hamba Allah, motif transendental, harapan untuk mencapai kedekatan dengan Allah, nilai-nilai transendental, penghambaan, serta kebaikan. Penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Chizanah (2011b) melalui analisis factor eksploratori menghasilkan empat dimensi dalam konstruk ikhlas, yang meliputi motif transendental, pengendalian emosi, superiority feeling, dan konsepsi sebagai hamba Tuhan.

Chizanah (2012) mengembangkan tentang dimensi ikhlas menjadi 5 macam. Mengutip pendapat Makki (2008) tentang ikhlas, bahwa lima aspek penting dalam ikhlas, yaitu :

  1. ikhlas dalam arti pemurnian agama;
  2. ikhlas dalam arti pemurnian agama dari hawa nafsu dan perilaku menyimpang;
  3. ikhlas dalam arti pemurnian amal dari bermacam-macam penyakit dan noda yang tersembunyi;
  4. ikhlas dalam arti pemurnian ucapan dari kata-kata yang tidak berguna, kata-kata buruk, dan kata-kata bualan, serta
  5. ikhlas dalam arti pemurnian budi pekerti dengan mengikuti apa yang dikehendaki oleh Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Hamrin, Nur Khadijah Binti. 2018. Ikhlas Dalam Beramal Menurut Mufassir. Skripsi : Prodi Ilmu Al-Quran Dan Tafsir Akultas Ushuluddin Dan Filsafat Niversitas Islam Negeri Sunan Ampel.
  2. Hasiah, 2013. Peranan Ikhlas Dalam Perspektif Al-Qur’an. Jurnal Darul ‘Ilmi Vol. 01, No. 02 Juli 2013.
  3. Chizanah, Lu’luatul. 2012. Ikhlas = Prososial ? (Studi Komparasi Berdasar Caps). Jurnal : Psikoislamika, Jurnal Psikologi Islam (JPI) Copyrigth © 2011 Lembaga Penelitian Pengembangan Psikologi dan Keislaman (LP3K). Vol 8 No. 2, Januari 2011 145-164
  4. Asy – Syaqowi, Amin bin Abdullah. 2009. Sikap Ikhlas. Terjemah : Mudzafar Sahidu. Terj.

Tanggapan