Peran kiai dalam membangun kehidupan institusi sosial dan pranatanya selalu diarah kepada kehidupan keagamaan yng kondusif. Agama sebaga inspirasi dan motivasi ajak umat untuk membangun kehidupan yng ramah lingkungan.

Saat ini, kiai harus tanggap dan sensitive terhadap situasi yang berkembang, lebih lebih persoalan kerja politik yng libat libatkan ajaran agama, memanfaatkan dalil agama dengan sedemikian rupa penafsirannya sehingga plenceng dari kesucian agama. Gejala ini jangan hendaknya menyurutkan tikad kiai untuk selalu membela umat untuk tetap istiqamah dlm pelaksanaan ajaran agama sesua selama ini yng berjalan. Jangan sampe umat terkecoh menjadi ragu dan bingung, ttp tetap mantap ikuti kiai, sesuai dasar dan dalil yng ada.

Aktifitas kiai dalam kerjs poltik adalah untuk menperjuangkan kepentingan ukhrawi dan duniawy umat. Dan perjuangan untuk umat ini tidak akan berhasil tanpa ada cantelan kekuasan. Dan kekuasaan secara pasti diperoleh melalui politik.

Institusi dan pranata sosial oleh sebab kekalahan politik bisa bubar dan diganti isntitusi lain.

Dalam pada itu, situasi zaman new ini telah memasuki darurat sosial dan ke agamaan, maka peran kiai dalam membina umat perlu ditingkatkan agar umat selalu mendapatkan pencerahan keilmuan maupun amaliyahnya menjadi kuat dan mantap. Kita saksikan di masjid maupun musala banyak yng berjamaah salat cara berdirinya, cara ngatur shafnya dan sebagainya tidak seperi kita. Hal hal ini para kiai harus cancut taliwonda mengem.balikan umatnya pada perilaku keagamaan spt yng dulu telah mapan.

Para kiai, seyogyanya terus selalu memainkan politiknya agar pranata sosial yng selama dipraktekan tidak goyah menuju terpatri tidak eksis lagi. Kekalahan politik bisa saja istitusi dan pranatanya hilang diganti pranata lain yng berbau arabisme. Misalnya yasinan, tahlilan, selametan, tingkepan, sya’ banan, mauludan dan sebagainya hilang krn dianggap bidah khurafah. Lembaga2 sosial keagamaan spt MUI, Baznan, BWI, dan perbankan syariat diganti visi dan misinya.

Lalu bagaimana kita membina umat secara simultan dan sistematis? Banyak cara untuk membina umat, pengajian harian habis jamaah salat, pada waktu yasinan, tahlilan, selametan dn sebagainya kita isi pengajian dengan sedikit pembinaan politk umat sebisa mungkin, tapi jangan lupa koridor hukumnya.

Kenapa ini kita lakukan? Karena orang2 yng sengaja merusak umat telah ada di depan pintu kita. Maka kerja politik keumatan mendesak untuk dilakukan. Dalamgubahan syair diungkapan: ” shahhi samir wala tazal dzakiras siyasah, wanis yanuhu dzalalun mubinun( gerak cepatlah kerja politik,krn lupa kerja politik, rusak dan tersesatlah umat. Ingat bahwa institusi dan pranata sosial tinggal namanya akibat kekalahan politik. Aktifitas politik kiai sangat ditunggu umat krn politik kiai adalah politik memperjuangkan kepentingan umat, dan perjuangan ini tidak lepad dari kekuasaan, dan kekuasaan didapat krn politik. Hari santri bisa tak bergaung akibat kekalahan politik.

Dengan pandangan ini berpolitik adalah manifestasi ibadah kepada Allah. Di sinilah sesungguhnya berpolitik keumatan itu mendapatkan legimitasi agama.

Kenapa begitu? Kiai sebagai agent of social change menuju tegaknya amar ma’ruf nahi mungkar. Visi tegaknya amar makruf harus terus menerus diejo wantahkan dalam kerja politik yng konkret untuk kepentingan umat dan kodusifitas negara dalam membangun umat.

Dengan kerja politik kiai, dunia politik tidak terabaikan, dan justru diperlukan penguatan. Tetapi bagi kiai pesantren hendaknya tidak lupa membina santri santrinya sesuai hak politik kiainya. Hendaknya jangan terjadi kerja politik kiainya beda dng kerja politik santrinya yng justru mendukung orang yng jelas tidak senang pesantren.

Umat perlu paham betul dalam pemilu kepada siapa haknya perlu diberikan? Bila umat dan santri tidak paham dan dimen gerti sosok yng harus haknya dilepaskan, maka mereka akan memilih siapa yng memberi uang rokok, atau uang ongkos jalan dan uang ganti kerja. Asal bukan money politik aja !

Nah, dengan demikian sangat ditunggu kerja politik kiai untuk selamatkan institusi dan pranata sosialnya, dan pada waktu yng sama menyelamatkan umat dari kebimbangan ajaran agama dan kebimbangan pilihah. Suwun.


Oleh : Ahmad Asikin Musthofa

Tanggapan

Berikan Tanggapan :

Mohon beri tanggapan
Silahkan masukkan nama Anda