Kisah Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A – Bukanlah sosok yang asing di kalangan warga nahdhiyin. Selain memiliki maqom kewalian yang tinggi, beliau juga adalah ulama yang terkenal di segala disiplin ilmu seperti Fiqih, Grametika Arab, lebih-lebih dalam bidang Tasawuf. Untuk mengenang jasa beliau, pembacaan manaqib (biografi) beliau menjadi acara rutinan yang digelar oleh warga nahdiyin setiap bulan.

Nah, sahabat RumahAswaja.com yang budiman. Ada dua cerita unik yang dialami oleh Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A tatkala menimba ilmu ke kota Baghdad. Simak yuk !

Kisah Syekh Abdul Qodir Jaelani Ketika Menimba Ilmu

Ketika Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. menginjak usia 17 tahun, beliau berniat melakukan rihlah ilmiyah ke kota Baghdad. Pada malam harinya sang ibu menasehatinya, “wahai anakku,  pesan ibu hanya satu. Jika besok kamu berangkat melangkahkan kaki menimba ilmu, bersikap jujurlah. Bahkan bukan besok. Kapanpun dan di mana pun kamu harus berlaku jujur”. Setelah itu sang ibu membekalinya ongkos sebanyak 80 dirham emas. “Emas ini ibu letakkan di sakumu dan ku jahitkan agar tidak jatuh”.

Keesokan harinya Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. pun berpamitan kepada sang ibu untuk berangkat ke kota Baghdad. Ketika di tengah perjalanan, tiba-tiba beliau  dicegat oleh sekawanan perampok. “Hai anak muda, berhenti! Kamu pilih nyawa atau harta,” gertak sang perampok.

Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. pun menjawab, “aku memilih nyawa dan harta ku”. Perampok itu bertanya lagi, “apakah engkau membawa harta?”  Dengan lantang Syekh Abdul Qodir Al-Jailani R.A. menjawab, “iya aku membawa uang dan harta berjumlah 80 dirham yang ada di sakuku”.

Mendengar jawaban Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A., perampok itu bergetar bahkan nyaris pingsan. Sebab baru pertama kali ini ia menemukan korban yang jujur terhadap harta yang ia bawa. Karena merasa resah, Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. pun dibawa ke pimpinan perampok dan menceritakan perihal kejadian yang janggal tersebut.

Juga : Biografi KH. Abdullah bin Nuh

“Wahai pemuda, benarkah engkau membawa sejumlah 80 dirham emas?”. Dengan santai Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. menjawab, “ iya, aku membawa 80 dirham emas di sakuku yang dijhahitkan oleh ibu semalam”.

Mendengar uraian Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. sang bos juga merasa kaget dan penuh tanya dalam batinnya. Mengapa ada orang yang mau dirampok lalu menunjukan harta miliknya. Sebab, lumrahnya orang yang dirampok selalu berbohong jika dimintai hartanya.

Kemudian ia bertanya lagi, “wahai pemuda, siapakah namamu dan mengapa engkau mau jujur ketika kami hendak merampok hartamu? Namaku Abdul Qodir. Saya ingin menuntut ilmu ke Baghdad. Sebelum aku berangkat, ibuku berpesan agar tidak berbohong. Aku harus jujur kapan dan dimana pun agar ilmu yang aku peroleh nanti bermanfaat. Aku takut hanya demi uang 80 dirham emas saja, nyawaku melayang  atau aku selamat tetapi ilmu ku tidak manfaat.

Mendengar jawaban Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. sekawanan perampok tersebut langsung sujud dan memohon untuk dijadikan muridnya. Semenjak itu, kekawanan perampok tersebut terus mengikuti Syekh Abdul Qodir Al-Jailani R.A. dan menjadi murd setia beliau.

***

Kisah Syekh Abdul Qodir Jaelani – Kisah Kedua

Pada suatu hari, Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A pernah mengalami musim panceklik yang sangat dahsyat di kota Baghdad. Saking sengsaranya, pada waktu itu, ulama sufi yang tersohor ini terpaksa harus memakan sisa-sisa makanan yang beliau pungut dari tempat sampah.

Dalam keadaan yang sangat lapar tersebut, beliau keluar untuk mencari makanan demi menyambung hidup. Namun, setiap kali melangkah, nasib selalu berkata lain. Tatkala sampai di tempat sampah yang beliau kunjungi, selalu ada orang lain yang mendahului beliau.

Uniknya, ketika beliau melihat orang-orang fakir yang berebut makanan di tempat sampah, Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A selalu memilih untuk meningggalkan tempat tersebut. Dan rela terus mengikuti hingga terbuang ke tempat pembuangan sampah. Alhasil, sering kali beliau tidak memperoleh makanan secuil pun.

Hingga sampai suatu ketika beliau merasa lelah dan tak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Beliau pun berusaha berjalan hingga sampai di sebuah masjid yang bernama masjid Yasin, di Baghdad. Lantas dalam keadaan yang begitu melelahkan, beliau mencoba untuk beristirahat sejenak. Di saat yang sama, tiba-tiba datanglah seorang pemuda ke masjid tempat beliau beristirahat dengan membawa sepotong roti.

Karena merasa sangat lapar, pemuda tersebut langsung duduk dan mulai makan roti yang ia bawa. Beda halnya dengan Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. Saking menahan rasa lapar dan dahaga yang mencekik, tatkala pemuda tersebut menyuapkan makanan, maka saat itu pula Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A membuka mulutnya meskipun beliau bersikeras menahannya.

Baca juga : Bertemu Rasulullah dalam Keadaan terjaga

Karena merasa iba, pemuda tersebut menoleh ke arah Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A seraya berkata, “Bismillah ya syekh,” dengan bermaksud menyuapkan beliau sepotong roti. Namun Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A menolak dengan halus. Meskipun begitu, pemuda tersebut terus menerus memaksa sehingga Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A terpaksa memakan sedikit dari suapan roti tersebut.

Setelah itu, sang pemuda memberanikan diri untuk bertanya, “siapakah engkau wahai tuan, apa pekerjaan mu dan dari manakah engkau berasal?”. Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A pun menjawab “saya adalah (tholibul ‘ilmi) pencari ilmu dari negeri Jilan”.

Si pemuda pun membalas, “saya juga dari Jilan. Apakah engaku mengenal seorang pemuda dari Jilan yang bernaman Abdul Qodir, cucu dari Abu Abdillah As-Saumai yang ahli zuhud?”. Tanpa ragu Syekh Abdul Qodir Al-Jailani R.A menjawab “itu adalah saya”.

Mendengar jawaban Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A, pemuda tersebut terperangah, “demi Allah saya sampai ke Baghdad dengan sisa-sisa uang yang saya miliki dan saya telah mencari-cari kebeeradaaanmu. Namun tidak seorang pun yang bisa memberi petunjuk. Sampai akhirnya hingga tiga hari saya tidak makan. Maka terpaksa saya menggunakan uang yang dititipkan oleh keluargamu untuk membeli roti ini. Maka lahaplah, sesungguhnya roti ini adalah milikmu”..

Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A pun menanyakan perihal kejadian apa yang telah terjadi. Pemuda itu pun menjelaskan bahwa ibu Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A telah menitipkan delapan dinar kepada pemuda tersebut untuk disampaikan kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. Dan uang itu telah berkurang sebab dibelikan roti secara terpaksa.

Lalu Syekh Abdul Qodir Jaelani R.A. mencoba menenangkan hati pemuda tersebut dan memberikan sisa potongan roti tersebut. Lalu pemuda tersebut menerima dan langsung pergi.

Semoga sahabat RumahAswaja.com bisa mengambil hikmah dari dua cerita tersebut ya. Jangan lupa, nantikan kisah-kisah berhikmah lainnya.

Tanggapan