Birr al-walidain adalah berbuat baik dan berlapang dalam kebaikan (ihsan) kepada orang tua, dalam hal perkataan, perbuatan dan niat. Perintah untuk birr al-walidain merupakan wujud syukur dan terima kasih kepada kedua orang tua yang telah merawat dari kecil hingga dewasa (I’anah, 2017).

Tulisan ini memaparkan sebuah kisah inspiratif tentang kesungguhan anak dalam baktinya pada orang tua. Uais Alqorni, demikianlah nama tokoh tersebut, demikian mampu memberikan inspirasi tentang kemulyaan ”laku” birrul walidain, yang ternyata mampu mengangkat derajatnya sebagai ”penghuni langit”. Demikian pengakuan Rosulullah tentang tokoh yang akan penulis ulas berikut ini.

Tulisan Haromain (2016) tentang seorang figur dalam dunia Islam, Uais Alqorni, demikian menarik. Selanjutnya, penulis akan meringkas dan mengkajinya untuk anda. Berikut ringkasannya ;

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan tua lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Baca Juga : Hak dan Kewajiban Anak di Rumah

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit yang menyebabkan dia di olok olok oleh penduduk sekitar. Sampai mereka tahu apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang.

Selanjutnya ;

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya.

Uwais Al Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya.

Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya. Sedangkan ibunya yang nun jauh di sana berpesan untuk segera pulang

Karena ketaatanya kepada ibunya, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun.

Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Baca Juga : Kisah Syekh Abdul Qodir Jaelani

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni.

Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al Qarni. Tanda bekas penyakit sopak yang dideritanya dahulu.

Baca Juga : Kisah Nabi Nuh AS

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar.

Fenomena Ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya.

Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni?. Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

Sebuah Kajian Kisah Inspirasi Anak yang Berbakti Kepada Orang Tua

Berbuat baik kepada kedua orang tua dalam bahasa Arab disebut dengan birr al-walidain. Istilah tersebut terdiri dari dua kata, yaitu birr dan walidain. Secara bahasa, birr artinya berlapang dalam berbuat kebaikan (khair). Birr al-walidain artinya adalah berlapang dalam kebaikan (ihsan) kepada orang tua (I’anah, 2017).

Uwais Al Qarni sosok yang memberikan contoh bagaimana sebenarnya perilaku birrul walidain itu dilaksanakan. Birrul walidain yang dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia adalah berbakti kepada orang tua. Rohmah (2012) menjelaskan bahwa  birrul walidain terdiri dari kata birr (kebaktian, kebajikan) dan alwalidain (dua orang tua). Dengan demikian, secara harfiyah kata birrul walidain berarti berbakti atau berbuat kebajikan kepada kedua orang tua.

Selanjutnya, Al birr adalah kata yang menyatukan seluruh kebaikan. ‘Aqqal wala abahu (anak telah durhaka terhadap ayahnya) bila anak menyakini, mendurhakai, dan membangkang kepadanya. Berbakti kepada ibu bapak hukumnya wajib dan durhaka kepada keduanya hukumnya haram. Tidak ada yang mengingkari keutamaan orang tua selain orang tercela.

Dalam ringkasan diatas perilaku yang birrul walidain sebagaimana yang dilakukan Uwais Al Qarni tampak pada upayanya untuk memenuhi keinginan ibu agar bisa melaksanakan ibadah haji. Sangat tidak muda. Agar bisa kuat menggendong ibu dari Yaman ke Makkah, Uais harus berlatih 8 bulan pennuh, tiap hari naik turun bukit menggendong anak lembu. Setelah tiba musim haji, Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Demikianlah perjuangan Uais untuk memenuhi keinginan ibu.

Islam telah mengajarkan umat muslim agar taat dan berbakti kepada orang tua, mengingat banyak dan besarnya pengorbanan serta kebaikan orang tua terhadap anaknya, yaitu memelihara dan mendidik sejak kecil tanpa perhitungan biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak mengharapkan balasan sedikitpun dari anak.

Baca Juga : Kisah Nabi Isa Singkat

Oleh karena itu seorang anak memiliki macam-macam kewajiban terhadap orang tuanya menempati urutan kedua setelah Allah swt, dan dilarang untuk durhaka kepada orang tua (Nufus, dkk, 2017). Tokoh kita, Uwais Al Qarni, demikian sukses menjalankan perintah ini.

Ketaatan Uwais Al Qarni kepada ibunya tampak, ketika dengan terpaksa, pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman. Setelah menunggu Nabi SAW cukup lama dan belum kembali dari medan perang.  Setelah menitipkan salam untuk Nabi SAW. Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua), sebagaimana yang dicontohkan Uwais Al Qarni, merupakan muamalah utama yang diperintahkan oleh Alloh SWT setelah tauhid. Dapat dilihat dari firman Alloh dalam Al-Qur’an :

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku pada waktu kecil.’” [QS : Al-Isro: 23-24] (Komarudin, 2008).

Semoga kita diberi kemudahan untuk Birrul Walidain. Aamiiin

Literatur :

  • Haromain, M. 2016. Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah. https://islam.nu.or.id/post/read/65059/kisah-uwais-al-qarni-pemuda-istimewa-di-mata-rasulullah. Diakses. 24 Januari 2020
  • I’anah,  Nur. 2017. Birr al-Walidain Konsep Relasi Orang Tua dan Anak dalam Islam. Jurnal : Buletin Psikologi.  2017, Vol. 25, No. 2, 114 – 123
  • Komarudin. 2008. Birrul Walidain Jalan Menggapai Ridho Illahi. Paper Pengajian Rutin DKSI Jum’at 13 Juni 2008
  • Nufus, Fika Pijaki, Siti Maulida Agustina, Via Laila Lutfiah, Widya Yulianti. 2017. Konsep pendidikan birrul walidain dalam qs. Luqman (31): 14 dan qs. Al – isra (17) : 23-24. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Agustus 2017. VOL. 18, NO. 1, 16-31
  • Rohmah, Siti. 2012. Pendidikan Akhlak Anak Terhadap Orang Tua Dalam Novel Ada Surga di Rumahmu Karya Oka Aurora. Skripsi : Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Surakarta

Tanggapan