Jauh sebelum sekolah ada, pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan islam pertama di Indonesia dan umumnya muslim di Indonesia. Pesantren menjadi basis banyak hal : keagamaan, politik, ekonomi, massa, dan lainnya. Kyai, sebagai center, atau tokoh penting di dalam hal-hal tersebut. Kyai, ratapada waktu itu, rata-rata adalah orang yang sangat mumpuni, paling banyak ilmunya, paling kaya, paling sakti, dan lainnya dibanding masyarakat sekitarnya.

Pasca perang Diponegoro 1830 M dan tahun setelahnya, muncul lembaga tandingan pesantren : sekolah. Yang dipelopori oleh kolonial belanda. Di masa ini, terjadi persaingan berat antara pesantren yang dimotori oleh para kyai dengan sekolah yang digawangi oleh Belanda. Munculnya lembaga sekolah ini tidak lepas dari agenda global dalam rangkaian globaliasi.

Sebagian dari kita (pesantren), sudah siap dan mampu mengimbangi perubahan ini. Dan sebagian lagi, belum siap atau cenderung terlena oleh nostalgia zaman keemasan islam di masa lampau.

Baca juga : Diferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial

Pada satu contoh, ketika munculnya sekolah, banyak dari kita yang anti bahkan alergi terhadap sekolah, bahkan menghujat masyarakat atau keluarganya yang sekolah. Cukup pesantren saja. Sekolah tidak menjadim bahagia dan selamat. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar juga tidak sepenuhnya salah. Ada dua sisi.

Yang tak kalah menarik, ada juga yang mencibir media dakwah melalui buku, fanatik dengan kitab saja. Sementara mereka para kolonial melalui saudara kita sendiri giat menyebarkan doktrinnya melalui media cetak dan media elektronik.

Apa yg terjadi setelahnya, katakanlah mulai tahun 1970 an, kita tidak cukup kuat untuk bersaing di dunia ekonomi, teknologi, berita di era digital. Kita tertinggal beberapa langkah karena terlalu fanatik. Kita juga tak bisa menyalahkan, mereka yang sudah kuat secara ekonomi dan teknologi, karena kita menghindar, dan tidak menjinakkan dari awal.

Pada akhirnya, banyak dari kita (pesantren) yang menyekolahkan anaknya di luar pesantren, walaupun sedikit terlambat dari tetangga.

Teknologi Akhir Zaman

Kemudian, mulai di era 80-90 an, internet mulai memasuki Indonesia, telepon genggam, google, facebook, dan lainnya. Lagi-lagi, sebagian dari kita masih alergi dan cenderung mengharamkan hal-hal tersebut. Gaduh di awal. Kita berprinsip : pengajian kelilmuan cukup di majelis saja. Teman-teman kita dari pesantren yang berdakwah di internet dicap : tidak apik, tidak wira’i, dsb..

Akibatnya sungguh menyedihkan, kita banyak kecolongan penularan faham wahabi yang massif mendoktrin masyarakat Indonesia dengan faham wahabi takfiri. Di saat teknologi digital booming di Indoneisa, dan masyarakat kita membutuhkan informasi dan ilmu keagamaan lewat internet.. KITA ADA DIMANA???

Lagi-lagi kita kecolongaan, halaman pertama google selalu muncul konten-konten yang tidak sehat bagi kalangan pesantren dan masyarakat Indonnesia.

Lihat di perkotaan atau di desa sekitar pesantren kita, begitu banyak faham wahabi meracuni masyarakat kita melalui google, facebook, youtube, whatsapp, dsb..

Jangan salahkan wahabi. Mari kita introspeksi diri, kemana kita saat mereka membutuhan informasi keagamaan di era digital ini?

Bahkan mereka sudah cukup kuat dan mandiri hasil dari internet lewat google, youtube, facebook, dan lainnya. Dengan santainya mereka di internet, tanpa ribet memikirkan rupiah.

Lha, kita masih belajar itu semua, melawan hambatan ekonomi juga, sementara mereka sudah stabil dalam dakwah bil google, facebook, blogger, youtube, whatsapp, dan sebagainya, tanpa sibuk mengurusi ekonomi lagi.

Lagi-lagi, kita tertinggal beberapa langkah dari mereka, karena kita masih fanatik, belum cukup berani untuk menggarap internet.

Teknologi Informatika Komputer

Ada satu hal yang ingin saya sampaikan terkait pergulatan batin saya saat ini :

Beberapa hari belakangan ini saya dan kawan-kawan setelah mengikuti pelatihan digital dari sahabat Nahdliyin, bertekad ingin dakwah, menggelar pengajian online, seperti para ustad mereka yang sudah memiliki jam terbang cukup tinggi di youtube. Saya sempat mengalami perdebatan batin sendirian karena menerima masukan dari beberapa sahabat saya, seperti :

“Jangan dakwah seperti selebritis di Facebook atau Youtube”

“Tidak sesuai pola dakwah guru-gurumu”

“Kurang berkah”

Dan beberapa kritik lainnya tanpa memberikan solusi.

Ini pergulatan batin cukup serius.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri :

Cukupkah kita dakwah di majlis ta’lim saja, sementara mereka terus berdakwah juga di medsos dan internet?

Atau nyinyir terhadap ustadz yang semakin populer di medsos dan youtube, sementara kita masih berdakwah dengan cara lama : tradisional.

Akankah kita sadar dan baru mulai menggarap beberapa tahun lagi??

Atau setelah kita benar-benar tertinggal tidak berdaya??

Saya ingin titip pesan kepada saudara dan sahabat saya :

Jangan lawan ombak modernisasi, tapi mari berlatih melaut di lautan globalisasi supaya kita menjadi pelaut ulung, bukan penonton atau target pasar

Jangan mengutuk gelap, tapi nyalakanlah cahaya. Jangan mencibir saja, tapi berikan solusi.

Nabi Kita, Muhammad SAW dan para sahabat, para ilmuwan Islam di masa lalu, adalah yang paling modern di zamannya.

Guru-guru kita, ulama Salaf, Khalaf, dan Ulama Nusantara kita adalah mereka yang paling modern di zamannya.

Jangan salahkan wahabi yang menyebarkan fahamnya. Tapi salahkan kita sendiri : dimanakah kita saat masyarakat digital membutuhkan informasi dan ilmu agama?

Baca juga : Sifat Sifat Manusia Menurut Islam

Tanggapan

Berikan Tanggapan :

Mohon beri tanggapan
Silahkan masukkan nama Anda