Ketika saya memperingati ulang tahun, tanpa minuman keras, khamr, tanpa meniup lilin, sebagaimana yang dikatakan mereka, yang seperti yahudi itu?? Apakah itu salah ? Bagaimana Hukum Merayakan Ulang Tahun?

Ketika saya memperingati, dengan mengundang tetangga, teman, kerabat, menyuguhkan sedikit makan minuman sebagai bentuk syukur atas karunia umur ? apakah itu salah ?
Ketika saya merayakan ulang tahun, minta tetangga, teman, kerabat untuk mendokan semoga keberkahan usia selalu terlimpah, apakah itu salah ?

Ketika saya merayakan ulang tahun, dengan maksud muhasabah “intropeksi diri” akan perilaku di tahun sebelumnya sehingga bisa lebih optimis menjadi pribadi yang lebih baik di tahun mendatang, apakah itu salah ?

Rentetan pertanyaan diatas sering terbesit di pikiran, dan saya yakin, anda juga sama. Tulisan ini berusaha “mengulik” hukum merayakan ulang tahun dengan menyajikan 2 pendapat berbeda.

Asal Usul Perayaan Ulang Tahun

Memperingati hari lahir, benar – benar, telah membudaya dalam tradisi kita, orang timur, terlebih orang barat. Pelaksanaan ulang tahun tiap tempat tentu berbeda, sebagaimana perbedaan budaya yang melatarbelakanginya. Kita, sebagai orang timur, sering merayakannya dengan berpuasa, tasyakkuran, tahlil dan pengajian.

Akan tetapi, umum diketahui bahwa, seringkali perayaan ulang tahun dilakukan dengan menggelar pesta meria, dimana laki – laki dan perempuan bercampur menjadi satu, bersanding dengan minuman beralkohol tinggi. Perbedaan cara dalam merayakan ulang tahun menjadi bahasan hangat yang hingga kini masih belum terpecahkan, apakah sunnah, mubah, ataukah malah haram.

Baca Juga : Hukum Berpolitik Dalam Islam dan Cara Berpolitik yang Baik

Handayani (2016) menjelakan bahwa perayaan ulang tahun merupakan sejarah lama. Orang orang zaman dahulu tidak mengetahui dengan pasti hari kelahiran mereka. Karena waktu itu mereka menggunakan tanda waktu dari pergantian bulan dan musim. Sejalan dengan peradaban manusia. Diciptakan kalender-kalender memudahakan manusia untuk mengingat dan merayakan hal hal penting setiap tahunnya.dan ulang tahun merupakan salah satunya. Pada pesta ulang tahun pertama kalinya. Pesta diadakan karena orang menduga akan adanya roh jahat yang mengganggu mereka. Jadi mereka mengundang teman dan kerabat untuk menghadiri pesta ulang tahun mereka sehingga roh-roh jahat tidak jadi mengganggu yang berulang tahun.

Handayani (2016) melanjutkan bahwa dalam pesta-pesta selanjutnya banyak dari keluarga dan teman yang membawa kado atau bunga untuk yang berulang tahun Jika orang yang di undang tidak bisa menghadiri pesta ulang tahun. Biasanya mereka akan mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun. Tradisi mengirimkan kartu ucapan dimulai di inggris sekitar seratus tahun yang lalu pada awal mulanya hanya raja saja yang dirayakan ulang tahunnya mungkin disini ulang tahun bermula. Seiring waktu berlalu anak anak diikut sertakan dalam pesta ulang tahun. Pesta ulang tahun untuk anak pertama kali terjadi di jerman dan dinamakan “ kinderfeste” tetapi saat ini pesta ulang tahun bisa diadakan oleh siapa saja terutama yang punya uang

Pendapat Yang Mengharamkan Uang Tahun

Al Munajid (2013) menjelaskan bahwa Dalil-dalil syariat dari kitab dan sunnah menunjukkan bahwa perayaan hari ulang tahun termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada asalnya dalam syariat yang suci dan tidak boleh memenuhi undangan tersebut karena hal itu berarti mendukung dan mendorong kepada kebid’ahan. Untuk memperkuat pendapat ini Al Munajid (2013) menyandarkan pada firman Allah Ta’ala:

“Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan syariat bagi mereka berupa agama yang tidak diizinkan oleh Allah.”

Juga firman Allah Ta’ala :

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ . إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

“Kemudian Kami jadikan kamu di atas syariat dari urusan itu maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka tidak akan dapat menolak dari kamu dari siksa Allah sedikitpun. Dan sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Dan Allah adalah Pelindung bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S Al Jatsiyah : 18-19).

Al Munajid (2013) juga menyandarkan keharaman merayakan ulang tahun pada hadits yang shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa sesungguhnya beliau bersabda:

“Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka dia tertolak.” Dikeluarkan oleh Muslim di dalam shahihnya. Dalam hadits lain beliau bersabda: “Sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dan sejelek-jelek urusan adalah hal yang diadaadakan dan setiap kebid’ahan adalah sesat.”

Baca Juga : Selalu Bersyukur dalam Keadaan Apapun

Logika pengharaman ulang tahun, oleh Al Munajid (2013) bahwa didalamnya terkandung tasyabbuh (menyerupai) dengan Yahudi dan Nashara tentang peringatan hari lahir. Lebih jauh Al Munajid (2013) mengutip Hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang telah bersabda dengan mewanti-wanti tentang sunnah dan jalan hidup mereka:

“Kalian pasti akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak pun pasti kalian akan memasukinya.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashara ?” Beliau menjawab: “Siapa lagi ?” Dikeluarkan oleh Bukhari Muslim daalam Shahihain.

Dan makna ” Siapa lagi ?” artinya merekalah orang-orang yang dimaksud dengan perkataan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ini. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda: “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu.”

Demikianlah Al Munajid, memaparkan logika keharamannya. Runtut, logis dan bersandar pada dalil Alqur’an maupun Alhadist. Al Munajid terlihat berhasil membuat opini pada pengharaman, akan tetapi, dan sama sekali, beliau tidak menyebutkan dalil yang menyebutkan adanya pengharaman perayaan ulang tahun itu sendiri. Al Munajid hanya menggunakan dalil Alqur’an maupun Alhadist sebagai sandara pendapatnya, dan hanya itu.

Pada kesimpulannya Al Munajid seakan menegaskan bahwa perayaan ulang tahun adalah satu macam ibadah yang diada-adakan dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan demikian, memperingati ulang tahun siapa pun tidak boleh dilakukan, bagaimanapun kedudukan atau perannya dalam kehidupan ini. Al Munajid menegaskan bahwa makhluk yang paling mulia dan rasul yang paling afdhal yaitu Muhammad ibnu Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah dihafal berita dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan perayaan hari kelahirannya. Tidak pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi arahan kepada umatnya untuk merayakan dan memperingati ulang tahun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca Juga : Mengapa Kita Harus Ikhlas

Bagaimana bisa Al Munajid menyamakan perayaan ulang tahun dengan ibadah. Padahal pendapat yang menyatakan bolehnya merayakan ulang tahun tidak menganggap bahwa perayaan itu sendiri merupakan bagian dari ritual ibadah?

Koreksi penulis, setidaknya ada beberapa kekacauan dari pendapat Al Munajid dalam menilai perayaan ulang tahun. Pertama, bahwa beliau memasukkan perayaan ulang tahun pada bagian dari ritual ibadah yang disyariatkan, sebagaimana ibadah syar’i lainnya. Akibatnya menghukumi perayaan ulang tahun sebagai bentuk bid’ah. Tapi apakah pendapat yang memperbolehkan perayaan ulang tahun menganggap bahwa tradisi ini adalah syar’i ? belum tentu juga khan…?

Penulis sendiri memandang bahwa perayaan ulang tahun adalah mubah, selama tidak ada dalil yang menyatakan keharamannya. Terlebih dalam mentradisikan silaturahmi, moment ulang tahun merupakan moment tepat.

Ketika saya memperingati ulang tahun, dengan mengundang tetangga, teman, kerabat, menyuguhkan sedikit makan minuman sebagai bentuk syukur atas karunia umur yang telah diberikan Allah, saya malah itu bentuk perbuatan yang dianjurkan.. Adakah dalil yang menyangkal perilaku ini ? Ketika saya merayakan ulang tahun, minta tetangga, teman, kerabat untuk mendokan semoga keberkahan usia selalu terlimpah, itu merupakan tindakan yang dianjurkan.

Ketika saya merayakan ulang tahun, dengan maksud muhasabah “intropeksi diri” akan perilaku di tahun sebelumnya sehingga bisa lebih optimis menjadi pribadi yang lebih baik di tahun mendatang. Ibu bukan sesuatu yang buruk, malah sebaliknya, sangat dianjurkan. Bukan pada perayaan ulang tahunnya tapi lebih pada keinginan mengundang tetangga, teman, kerabat dengan menyuguhkan sedikit makan minuman. Inilah perbuatan baiknya

Pendapat Yang Memperbolehkan Uang Tahun

Mengutip tulisan di Islam NU (2019) bahwa sudah menjadi pemahaman bersama bahwa segala macam tindakan yang kita lakukan sangat tergantung pada niatnya, innamal a’malu bin niyyat. Niat itu sendiri yang akan menentukan nilai kepada tindakan tersebut. akankah tindakan itu akan bernilai ibadah ataukah hanya sekedar tradisi semata yang tidak ada unsure ubudiyah sama sekali di dalamnya. Begitu pula dengan merayakan hari kelahiran maupun kegiatan lainnya.

Kaum Ahlussunnah Wal Jamaah memandang tradisi semacam ini dengan sikap proporsional, yaitu dengan pendirian bahwa selama di dalam acara tersebut ada unsur-unsur kebaikan, seperti; menyampaikan tahni’ah/ucapan selamat kepada sesama muslim, mempererat kerukunan antara keluarga dan tetangga, menjadi sarana sedekah dan bersyukur kepada Allah, serta mendo’akan si anak semoga menjadi anak yang shalih dan shalihah. Maka itu semua layak untuk dilaksanakan karena dianggap tidak bertentangan dengan syari’at Islam (Islam NU, 2019).

Kalangan nahdliyin menyandarkan kebolehan perayaan ulang tahun pada dalil qiyas, yakni mengqiyaskan masalah ini dengan perilaku sahabat nabi. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa sewaktu sahabat Ka’ab bin Malik menerima kabar gembira dari nabi saw. Mengenai penerimaan taubatnya, maka sahabat Thalhah bin Ubaidillah menyampaikan kepadanya ucapan selamat (tahni’ah).

Berdasarkan riwayat tersebut, maka hukum peringatan ulang tahun adalah mubah, bahkan sebagian ulama mengatakan sunnah hukumnya, namun dengan catatan : selama tidak ada hal-hal yang munkar di dalamnya. Misalnya : menyalakan lilin, memasang gambar patung (walaupun berukuran kecil) di tengah-tengah kue yang dihidangkan atau alatul malahi (alat permainan musik) yang diharamkan. Karena hal tersebut termasuk syi’ar orang-orang non muslim atau syi’ar orang fasik (Islam NU, 2019).

Referensi

Dasar pengambilan hukum seperti tersebut di atas adalah keterangan dari kitab “al-iqna’” juz I hal. 162

تتمة قال القمولي لم أر لأحد من أصحابنا كلاما في التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله الناس لكن نقل الحافظ المنذري عن الحافظ المقدسي أنه أجاب عن ذلك بأن الناس لم يزالوا مختلفين فيه والذي أراه أنه مباح لا سنة فيه ولا بدعة
وأجاب الشهاب ابن حجر بعد اطلاعه على ذلك بأنها مشروعة واحتج له بأن البيهقي عقد لذلك بابا فقال باب ما روي في قول الناس بعضهم لبعض في العيد تقبل الله منا ومنك
وساق ما ذكر من أخبار وآثار ضعيفة لكن مجموعها يحتج به في مثل ذلك ثم قال ويحتج لعموم التهنئة بما يحدث من نعمة أو يندفع من نقمة بمشروعية سجود الشكر والتعزية وبما في الصحيحين عن كعب بن مالك في قصة توبته لما تخلف عن غزوة تبوك أنه لما بشر بقبول توبته ومضى إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقام إليه طلحة بن عبيد الله فهنأه

Artinya : “Imam Qommuli berkata : kami belum mengetahui pembicaraan dari salah seorang ulama kita tentang ucapan selamat hari raya, selamat ulang tahun tertentu atau bulan tertentu, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang, akan tetapi al-hafidz al-Mundziri memberi jawaban tentang masalah tersebut : memang selama ini para ulama berselisih pendapat, menurut pendapat kami, tahni’ah itu mubah, tidak sunnah dan tidak bid’ah, Imam Ibnu Hajar setelah mentelaah masalah itu mengatakan bahwa tahni’ah itu disyari’atkan, dalilnya yaitu bahwa Imam Baihaqi membuat satu bab tersendiri untuk hal itu dan dia berkata :

“Maa ruwiya fii qaulin nas” dan seterusnya, kemudian meriwayatkan beberapa hadits dan atsar yang dla’if-dla’if. Namun secara kolektif riwayat tersebut bisa digunakan dalil tentang tahni’ah. Secara umum, dalil dalil tahni’ah bisa diambil dari adanya anjuran sujud syukur dan ucapan yang isinya menghibur sehubungan dengan kedatangan suatu mikmat atau terhindar dari suatu mala petaka, dan juga dari hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa sahabat Ka’ab bin Malik sewaktu ketinggalan/tidak mengikuti perang Tabuk dia bertaubat, ketika menerima kabar gembira bahwa taubatnya diterima, dia menghadap kepada Nabi SAW. maka sahabat Thalhah bin Ubaidillah berdiri untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya” (Islam NU, 2019)

Sekian…

DAFTAR PUSTAKA

Al-Munajid, Muhammad Shalih. 2013. Hukum Merayakan Hari Lahir (ulang tahun) Seseorang. Islamhouse.com

Handayani, Gina. 2018. Merayakan Hari Ulang Tahun (Studi Pengamalan Hadis Tentang Hari Lahir Masyarakat Kampung Pasir Konci Kecamatan Cikarang Selatan Kabupaten Bekasi). Skripsi : Program Studi Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Islam NU.2019. Hukum Mengucapkan Selamat Ulang. https://islam.nu.or.id/post/read/36923/hukum-mengucapkan-selamat-ulang-tahun. Diakses 11-11-2019

Tanggapan