Hukum Berpolitik Dalam Islam dan Cara Berpolitik yang Baik Serta Bernilai Ibadah – Ibadah, sejatinya bukanlah hanya ubudiyah di atas sejadah atau di mesjid. Ibadah adalah penghambaan diri melaksanakan segala perintah Allah dan Rasulullah. Dengan bentuk apa saja, yang bertujuan mengharap dan mendapat Ridha Allah. Ibadah bisa berupa Ubudiyah, Muamalah, Munakahah, Jinayah, Siyasah, Udkhiyah.

Banyak hal-hal duniawi yang bernilai ibadah karena niat. Dan banyak juga hal-hal ukhrowi bernilai duniawi karena niat yang salah.

Berpolitik, Bersiyasah, adalah bagian dari Ibadah mewujudkan, rahmatan lil alamin.

Cara Berpolitik 

Berpolitik itu tidak harus sebagai kader atau simpatisan partai. Berpolitik itu tidak harus sebagai kader atau muhibbin ormas. Berpolitik itu, bisa juga melalui pesantren, perusahaan, atau personal.

Berpolitik itu, sejatinya bagian dari Agama Islam, Fiqih Siyasah yang terdapat dalam kitab Fiqih yang lengkap, dan khusus seperti di dalam kitab Ahkamus Sultoniyah dan lainnya.

Berpolitik itu tidak harus dengan jabatan, kekayaan, kelembagaan, dan kekuasaan. Tetapi, sejatinya berpolitik itu dengan pemikiran dan perjuangan nyata baik lisan, tulisan, dan tindakan.

Politik itu ada dalam pemikiran dan perjuangan.

Apa itu berpolitik?

Berpolitik adalah ikhtiar, upaya dan strategi kita untuk ikut andil dalam mewujudkan dan menegakkan Ketuhahan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta ikhtiar bersama mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Dengan demikian, setiap warga negara yang mukallaf, dan mampu hendaknya terlibat dalam politik yang sehat sesuai Tuntunan Al Quran, Hadits, Pancasila, dan UUD 1945.

Baca Juga : Menjadi (Manusia) Dji Sam Soe

Berpolitik untuk diri sendiri, keluarga, agama, dan bangsa Indonesia. Berpolitik sesuai dengan kemampuan, tanggung jawab, dan lingkungan. Berpolitik dengan alat media bantu yang ada dan dimiliki. Dengan niat mewujudkan rahmatan lil alamin, mewujudkan keamanan bersama dan kelangsungan ibadah, taat kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri, Insya Allah, berpolitik fiqih siyasah akan bernilai ibadah.

Mendukung pemerintah, dan mengisi kemerdekaan itu bisa dari mana saja, dengan cara apa saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Masing-masing cara dan lingkungan memiliki plus minus yang saling melengkapi sebagai sunnatullah.

Mengapa Kita Harus Berpolitik?

Karena fiqih siyasah (politik) adalah bagian dari agama juga. Wajib mengetahui, tidak wajib menjadi bagian salah satu organisasi apapun. Partai, ormas, dan lembaga, adalah pilihan masing-masing yang akan diminta pertanggung jawaban di dunia dan kelak.di akhirat.

Sebagai orang beriman, kita wajib menghormati tetangga, tamu, dan perbedaan, memenuhi hak-haknya dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya.

Sebagai orang berakal, dan makhluk sosial, kita membutuhkan kebersamaan dan wadah menyalurkan minat dan aspirasi. Tentu saja, dengan wadah yang baik, sebagai alat akan mengantarkan pada cita-cita mulia politik.

Baca Juga : Apa itu Ilmu, Ibadah, dan Tingkatan Manusia

Sebagai orang biasa dengan segala keterbatasan, setidaknya mengetahui atau mencari tahu perkembangan politik terbaru dan sejarah. Agar tidak menjadi korban politik, boneka politik, atau objek politik.

Bagaimanapun, politik tidak bisa dihindari. Karena setidaknya, tingkatan sosial manusia modern itu ada 4 :

  1. Orang politik
  2. Orang hukum
  3. Orang ekonom
  4. Orang sipil

Orang politik, dengan kekuasaan dan kepintarannya, akan mudah mengatur orang hukum. Orang hukum, dengan kewenangannya, akan mudah mengendalikan orang ekonomi. Orang ekonomi, dengan kepemilikannya, akan mudah mengelola orang sipil. Orang sipil, dengan keterbatasannya, selalu menjadi objek dari semua itu.

Jadi, berpolitiklah! Dewasakan cara pandang dan hidup kita dengan politik. Bangunlah siasat untuk mempertahankan hidup, mewujudkan kemakmuran dan keselamatan hidup.

Ulama Berpolitik dan Pesantren Pusat Pergerakan Politik

Ya, tentu saja, sejak dulu jaman kolonial, pesantren adalah pusat pemikiran dan pergerakan politik.

Bukankah politik itu kotor menjijikan?

Tidak. Yang mengotorinya adalah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Politik itu suci. Sebagaimana mesjid, seringkali dikotori oleh prilaku-perilaku yang tidak terpuji seperti adu domba, fitnah, permusuhan, atau pembunuhan.

Bukankah bergaul dengan sultan, atau pejabat itu tidak dibenarkan oleh Nabi?

Tidak benar. Nabi sendiri adalah seorang raja, dan para sahabat sebagai Khalifah, amirul mukminin. Yang tidak benar, adalah bergaul dengan sultan dalam praktik KKN, atau politik kotor lainnya.

Baca juga : Nilai Kemanusiaan dan Ketuhanan

Apa jadinya jika sultan, pemerintah, dan pejabat dikelilingi oleh orang-orang yang awam terhadap agama, atau orang-orang jahat? Sementara orang baik, diam, apatis, tidak peduli terhadap politik?

Maka, niatkanlah berpolitik untuk mempertebal keimanan, menyemarakkan amal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Kalau tidak demikian, celakalah kira, termasuk kedalam orang-orang yang merugi. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Ashr.

Bagaimana Cara Berpolitik yang Baik?

Siapapun yang berpolitik, hendaknya amanah, menjadi rahmat bagi alam semesta.

Bergaul dengan orang-orang yang baik, shalih, terpercaya, berilmu, bijaksana, dan jauh dari sifat-sifat tercela madzmumah.

Jauhi lingkungan politisi dan aktifis yang suka nyampah dengan menebar teror, kecemasan, ketakutan, kebohongan, kejahatan, dan setidaknya yang merencanakan kejahatan.

Islam berkembang, tentu saja dengan siyasah dan ilmu pengetahuan yang baik. Islam juga mengalami kemunduran, karena kebodohan dan politik jahat. Nabi mengatakan bahwa : umatku tidak akan berkumpul menyepakati kesesatan.

Jadi, jika ada yang menyebarkan kesesatan, kebohongan, dan kejahatan, pantaskah mereka disebut sebagai umat Nabi?

Nabi juga berpesan, ikutilah sunnahku, para sahabat, dan kelompok mayoritas, as-sawadul a’dzom.

Santri dan Kyai Berpolitik

Marilah berpolitik sehat. Bangun amaliyah siyasah sesuai syariah. Kuasai teknologi. Sebab kebodohan dalam tekbologi, juga menjadi sebab kemunduran kita, menjadi objek dan korban politik, hoax, fitnah, dan namimah.

Bukankah dengan teknologi sekarang ini, begitu mudahnya setan memanupulasi, edit gambar, berita, dan menyemarakkan fitnah namimah dari bilik kamar dan ranjang mereka. Sementara orang-orang yang benar, dan kebenaran begitu pekat terhalang kabut fitnah dan kebodohan. Padahal kebenaran itu hanya lima langkah dari rumah?

Inilah akhir jaman. Kita tidak bisa menolaknya. Kita hanya bisa mensyukuri keberlimpahan nikmat yang Allah anugerahkan berupa kemerdekaan, kekayaan alam, ibadah tenang, dan banyak sekali. Kecuali kita kufur terhadap nikmat-nikmat ini.

Maka, nikmat mana lagi yang akan kita dustakan?

Etika Dalam Berpolitik

Kesesatan, bukan hanya dalam agama. Tapi juga dalam kehidupan sosial. Maka, jauhilah lingkungan penuh kedengkian, kebohongan, dan berkumpullah dengan orang-orang baik.

Orang baik, selalu dibroadcast setiap tahiyyat dalam sholat, didoakan keselamatan oleh orang-orang yang solat : assalamu alaina wa alaa ibaadillaahissolihin..

Jauhi rantai distribusi fitnah, namimah, hoax, dan hal-hal sampah lainnya. Sebab, manusia selalu nyampah setiap hari tiada henti. Kecuali betah dan hobi mengkonsumsi sampah untuk otak dan perasaan kita.

Apalah artinya mendistribusikan sampah hoax setiap hari, makan pepesan kosong tanpa ada keuntungan bagi kita. Padahal, elit politik yang menikmati distribusinya, juga dibayar. Sementara kita tidak dapat apa-apa. Hanya sampah dan dosa yang kita masukkan pada otak, jiwa, dan hidup kita sehari-hari.

Sekian, dari saya. Semoga bermanfaat, dan kiranya lebih manfaat lagi bila dibagikan sebanyak-banyaknya. Mudah-mudahan sedikit menyalakan lilin hidayah. Kecuali, bagi yang tidak butuh hidayah.

Share untuk lebih bermanfaat untuk yang lainnya. 

Tanggapan

Berikan Tanggapan :

Mohon beri tanggapan
Silahkan masukkan nama Anda