Hikmah Beriman pada Hari Akhir – Islam meletakkan kepercayaan (baca:keimanan) pada hari akhir atau kiamat sebagai syarat syahnya keimanan seseorang. Penegasan ini lebih jelas terdapat pada banyaknya ayat Al-Qur’an yang menyandingkan penyebutan orang – orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan terhadap hari akhir. “alladzi na yu’minu billahi wal yaumil akhir”.

Lebih jauh, bahwa kata yaumil akhir di sebutkan dalam Alquran sebanyak 26 kali, yang seluruhnya dirangkai dengan term al-iman billah (iman kepada Allah), seakan inti iman itu hanya dua ini. Dalam Alquran juga ditemukan term lain yang biasa dipahami sama dengan al-yaum al-akhir, yaitu al-akhirah yang di dalam Alquran terulang sebanyak 115 kali. Term al-akhirah mengacu kepada sebuah kehidupan lain yang berbeda sama sekali dengan kehidupan dunia, baik sifat maupun karakteristiknya, kecuali satu ayat yaitu : Qs. Ad-Duha /93:4. (Hadiyanto, Khumairoh, 2018).

Salah satu contoh ayat tersebut sebagaimana dalam firman-Nya:

لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, dan hari Kemudian..”. (QS al-Baqarah: 177).

Hikmah Beriman pada Hari Akhir

Lebih detail keimanan pada hari akhir termaktub dalam hadist Nabi Rasulallahu Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam sabdanya :

قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: « الإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بالله ِوَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ » رواه مسلم

“Iman adalah engkau mempercayai Allah, para malaikat, kitab, para rasul dan hari kemudian, serta engkau mempercayai adanya takdir yang baik maupun yang buruk”.
Beberapa ciri seorang muslim yang kuat keimananya pada hari akhir terinci dalam hadist Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori sebagai berikut :

قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ » رواه البخاري

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya,. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia tidak berkata kecuali yang baik atau diam”. (HR. Bukhari)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa hari kiamat itu sendiri adalah hari di mana terdengar suara yang memekakkan telinga, mata, bahkan hati dan pikiran manusia. Suara tersebut tidak seperti biasanya yang sering didengar oleh manusia. Pada saat itulah terjadi ketakutan dan kekalutan yang luar biasa yang dirasakan oleh makhluk hidup. terutama manusia (Sihab, 2002 dalam Rukmanasari, 2013).

Dengan demikian, bagi seorang muslim kiamat merupakan persoalan pokok, selain masuk dalam wilayah akidah juga merupakan inti agama. Doktirn ini, sekali lagi, harus diyakini karena menjadi syarat sempurnanya keimanan seorang muslim.

Pandangan Sains Tentang Kiamat

Sains memandang bahwa proses perubahan alam semesta melalui ekspansi pemadatan, yang ini juga ditunjang oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an menjelaskan bahwa akan terjadi penggulangan setelah berakhirnya seluruh wujud alam semesta. Setelah terjadi ekspansi kemudian menyusut dan meledak untuk kembali lagi kepada asal-usul alam semesta diciptakan, dan dari sini pengulangan kembali terjadi. Meskipun demikian, penggulangan alam semesta terjadi hanya sekali, dan itu sesuai dengan tahapan-tahapan penciptaan alam semesta hingga sampai pada tahapan akhir, sesuai dengan QS. al-Anbiyaa’: 104, QS. Fatir: 41. (Baiquni, 1995 dalam Amaliyah, 2013).

Amaliyah (2013) mengambil pendapat Baiquni (1995) bahwa alam semesta secara keseluruhan berbentuk spiral, yang mana setelah penyebarannya mencapai batas maksimal dibawah pengaruh daya geraknya sendiri sehingga akan menyusut ke bentuk awal. Sejak kekuatan daya tarik gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya, maka kecepatan kontraksi alam semesta akan lebih besar dari ekspansinya. Akibatnya, seluruh benda di alam menyerbu dari segala penjuru masuk dengan kecepatan yang maha dasyat dan bertumbukan satu sama lain, kemudian binasa di dalam energy bola api, sehingga kejadian pertama berakhir dan yang tertinggal hanya Zat Allah Yang Maha Esa.

Gambaran Terjadinya Hari Kiamat

Gambaran kiamat itu sendiri dijelaskan secara detail dalam al-Qur’an, seperti yang terdapat dalam QS. al-Haqqah: 13-16 :

“Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan bumi serta gunung-gunung diangkat dan dibenturkan sekali bentur, maka datanglah kejadian yang dahsyat, dan terbelahlah langit karena ketika itu dalam kondisi yang lemah.”

Dalam QS. al-Qiyamah: 6-9 :

“Bilamanakah Hari Kiamat itu?, apabila mata terbelalak dalam kondisi ketakutan, dan, apabila bulan telah hilang cahayanya, matahari serta bulan dikumpulkan.”

Dalam hadis disebutkan ketika Abdullah bin Salam bertanya kepada Nabi saw tentang tanda pertama hari akhir, Nabi bersabda “tanda pertama dari hari, akan muncul api yang akan memaksa manusia bergerak dari timur ke barat” (HR. Bukhari).

At-Takwir (menggulung) artinya matahari melipat dirinya agar pudar cahayanya dan berkurang panasnya. Ibnu Jarir menjelaskan at-Takwir sebagai gabungan bagian dengan bagian yang lain kemudian menggulungnya, sehingga bagian yang satu tertutup oleh bagian lainnya. Kehancuran total yang terjadi di alam ini, secara logika bukanlah suatu peristiwa yang mustahil. Para pakar ilmu alam telah sepakat bahwa segala yang maujud pasti memiliki batas akhir keberadaannya pada saat tertentu.

Hikmah Beriman pada Hari Akhir

Dalam kajian keislaman, diskusi tentang hari akhir dan fenomena fenomena yang mengikuti seperti hari perhitungan, kehidupan akhirat, surga neraka dan lain lain merupakan bagian dari dimensi metafisis dan ketuhanan. Tentu saja penjelasan tentang kajian tersebut berlandaskan pada ayat-ayat yang Alquran.

Memperbincangkan persoalan-persoalan seperti ini bermanfaat melahirkan asketisme. Sebuah pandangan hidup yang menjadikan alam akhirat sebagai tujuan utama dalam hidupnya tanpa melupakan kewajibannya di alam dunia. Sodiqin (2008) dalam Hadiyanto, Khumairoh (2018) menjelaskan lebih jauh bahwa Doktrin tentang eskatologis merupakan upaya untuk mereformasi kondisi moral masyarakat. Penerimaan akan realitas adanya hari akhir berhubungan dengan realisasi akan realitas adanya keadilan tuhan. Keyakiann terhadap kehidupan setelah mati dapat mendorong orang untuk berbuat kebajikan. Dari ajaran ini, akan dihasilkan tatanan kehidupan yang bermoral.

Amaliyah (2013) menjelaskan secara detail bahwa adanya kehidupan akhirat, menurut al-Qur’an adalah sangat penting karena berbagai alasan :

Pertama, moral dan keadilan, menurut al-Qur’an adalah kualitas untuk menilai amal perbuatan manusia karena keadilan tidak dapat dijamin berdasarkan apa-apa yang terjadi di dunia.

Kedua, tujuan-tujuan hidup harus dijelaskan dengan seterang-terangnya, sehingga manusia dapat melihat apa yang telah diperjuangkan dan apa-apa yang sesungguhnya dari kehidupan ini. Ini penting di dalam keseluruhan doktrin al-Qur’an tentang kebangkitan kembali, karena penimbangan amal perbuatan mensyaratkan dan tergantung pada tujuan-tujuan itu.

Ketiga, pembantahan dan perbedaan pendapat dan konflik di antara orientasi-orientasi manusia harus diselesaikan.

Kehidupan dunia tidaklah terpisah dengan kehidupan di akhirat. Kehidupan dunia ibarat tempat orang menanam padi yang hasilnya akan dipetik untuk kebahagiaan di akhirat. Kebaikan di akhirat merupakan kelanjutan dari kebaikan di dunia ini.

Baca Juga : Bertemu Rasulullah Dalam Keadaan Terjaga

Dalam memandang dua kehidupan ini, manusia seringkali tergoda dengan kecenderungan jangka pendek yakni kehidupan dunia, sehingga melupakan tujuan jangka panjang (akhirat). Itulah kelemahan manusia yang dikatakan Al-Qur’an bersifat ‘ajal (tergesa-gesa). Manusia mempunyai sifat ingin mendapatkan sesuatu secara cepat dan mudah.
Manusia sering terperangkap dengan harapan-harapan dan keinginan dalam waktu jangka dekat dan tidak memperdulikan akibat jangka panjang yang jauh ke depan. Manusia sering cukup merasa puas dengan menikmati kesenangan sementara, yang terkadang bersifat palsu dan menipu, dan mengabaikan kebahagiaan yang sempurna dan hakiki. Oleh karena itu, manusia lebih tergoda dan tertarik dengan glamornya kehidupan dunia daripada berbuat dan memikirkan kehidupan akhirat.

Dalam Al-Qur’an, kehidupan dunia disebut kesenangan, namun bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat, maka kesenangan dunia sebagai “kesenangan sementara”, “kesenangan sedikit” dan “kesenangan menipu”. Jadi kehidupan dunia hanyalah sementara, tidak kekal, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sejati, dan kekal selama-lamanya.
Lebih lanjut Amaliyah (2013) menjelaskan bahwa pesan moral kiamat adalah untuk mendorong manusia beraktifitas yang positif (amal soleh). Dalam berbagai ayat, al-Qur’an mengajarkan agar keyakinan akan adanya hari pembalasan mengantarkan manusia untuk melakukan berbagai amal soleh dalam kehidupannya, walaupun aktifitas itu sama sekali tidak menghasilkan keuntungan material dalam kehidupan dunianya.

Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa setiap perbuatan baik yang dilakukan manusia akan dibalas dengan kebaikan dan setiap perbuatan jahat akan dibalas dengan azab. Tuhan tidak pernah menyalahi janjinya, tidak pernah menganiaya dan selalu berbuat adil terhadap hamba-hambanya.18 Dengan keyakinan bahwa Tuhan akan membalas segala perbuatan manusia dan tidak menyalahi janji-janji-Nya, diharapkan manusia selalu berupaya melakukan perbuatan yang positif di dunia ini.

Jadi, keimanan baik kepada Allah maupun Hari Akhir, merupakan pendorong untuk melakukan amal soleh. Tanpa keimanan, tidak mungkin seseorang mau dan mampu melakukan perbuatan-perbuatan positif. Oleh karena itu, keimanan dan amal soleh berhubungan erat satu sama lain. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Keimanan hari akhir dapat menimbulkan kesadaran betapa tidak berartinya hidup ini, bila tidak diisi dengan berbagai kegiatan yang baik dan positif. Amal soleh merupakan realisasi dari kekuatan iman yang tertancap dalam diri seorang mukmin. Amal soleh menjadi tolak ukur bagi kualitas iman pada seseorang.

Seringkali kebajikan moral atau akhlak dan semangat berkobar membawa kehidupan penuh dengan kerugian dan penderitaan serta kedulitan. Dengan iman kita temukan pelipur lara, bahwa, pada Hari Kebangkitan itu, semua akan diberi balasan secara semestinya. Keimanan kepada Kedaulatan Allah SWT menghibur manusia, bahwa penderitaan dan kesulitan di dunia akan dibalas pada Hari Kebangkitan.

Baca Juga : Sifat Sifat Manusia Menurut Islam

Mengingat hari kebangkitan mencegah kita dari kehancuran dan kelalaian. Orang yang berhati-hati atas perbuatannya, besar atau kecil, tidak akan berbuat kesalahan, tapi keimanan saja tidaklah cukup, tetapi juga harus mengingat hari yang diperhitungkan ini, dan kita harus memeriksa dengan perilaku kita pada waktu yang sama.

Kesimpulannya, keimanan adanya hari pembalasan menjadi landasan utama untuk menimbulkan sikap hidup positif dalam pribadi setiap mukmin dan menanamkan mental yang sehat dalam menapaki dan menempuh hidup di dunia yang sementara ini.
Di hari kiamat, Al-Qur’an menjelaskan bahwa setiap orang harus mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya selama di dunia, timbangan untuk menghitung amal benar-benar ditegakkan.

Sebagaimana dikatakan oleh Amiur Nuruddin dengan mengutip pendapat A. Mukti Ali bahwa semangat pokok dalam Al-Qur’an adalah untuk menanamkan ke dalam jiwa kesadaran tentang tanggung jawab. Setiap orang hendaknya selalu mengingat akan tanggung jawab ini di manapun dan kapanpun. Karena Allah ada di mana-mana dan di setiap saat, maka tak satupun dapat tersembunyi dari pengawasan-Nya. Kehidupan di dunia yang hanya ini adalah satu-satunya kehidupan di mana manusia dapat berjuang dan memperoleh hasil perjuangannya atau menaburkan benih-benih yang akhirnya akan mendatangkan hasil.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Amaliyah, Efa Ida (2013). Pesan Moral Kiamat Perspektif al-Qur’an. Hermeunetik, Vol. 7, No. 2, Desember 2013
  2. Hadiyanto, Andy dan Khumairoh Umi (2018). Makna Simbolik Ayat-Ayat tentang Kiamat dan Kebangkitan dalam Alquran. Hayula : Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, Vol. 2, No.2, Juli 2018
  3. Rukmanasari. (2013). Hari Kiamat Dalam Perspektif Al-Qur’an: Studi Terhadap q.s. Al-qari’ah/101. Skripsi : Fakultas Ushuluddin, Filsafat, Dan Politikuniversitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar

Tanggapan