Hak dan Kewajiban Anak di Rumah – Anak merupakan individu yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.

Dengan demikian disamping anak mendapatkan hak – haknya, juga belajar menjalankan kewajibannya, baik dalam interaksi dengan kedua orang tua ataupun keluarga dimana dia tinggal. Karena ini, tulisan ini akan menguraikan tentang hak dan kewajiban anak di rumah.

Pengertian Anak Menurut Islam dan Hukum Positif

Definisi anak menurut ajaran Islam tidak semata – mata dijelaskan dalam urutan usia biologis. Bahkan tidak ada dalil yang menjelaskan tentang batasan usia, kapan seorang anak dianggap dewasa, yang menggugurkan kewajiban orang tua. Yang ada hanyalah konsep baligh, yaitu waktu / masa dimana anak sudah waktunya menerima kewajiban menjalankan syariat dengan benar. Inilah batas jelas yang membedakan seseorang masih anak – anak atau sudah masuk dewasa.

Maghfiro (2016) menjelaskan bahwa Islam hanya mengenal istilah baligh untuk menyebut seseorang yang telah dewasa. Lebih jauh lagi Maghfiro (2016) merinci tanda tanda baligh ; pada wanita ditandai dengan datangnya haid, sedangkan pada seorang laki-laki ditandai dengan mengalami mimpi basah. Dengan demikian selama seorang wanita/laki-laki belum mengalami tanda-tanda di atas dapat dikatakan ia masih anak-anak.

Tinjauan yuridis menjelaskan pengertian “anak” di mata hukum positif Indonesia lazim diartikan sebagai orang yang belum dewasa (Inminderjarigheid/person under age), orang yang di bawah umur/ keadaan di bawah umur (minderjaringheid/inferiority) atau kerap juga disebut sebagai anak yang di bawah pengawasan wali (minderjarige ondervoordij) (Mulyadi, 2005 dalam Maghfiro, 2016).

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak pada Bab I (ketentuan umum), dijelaskan pada pasal 1 ayat 2 dijelaskan pengertian anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin. (Sumiarni, 2000, dalam Maghfiro, 2016).

Hak-Hak Anak Menurut Hukum Positif di Indonesia

Merangkum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak pada Bab II, Maghfiro (2016) menjelaskan bahwa hak asasi anak tersebut berupa :

  1. Nondiskriminasi;
  2. Kepentingan yang terbaik bagi anak, maksudnya dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama;
  3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; maksudnya hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua.
  4. Penghargaan terhadap pendapat anak; maksudnya penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya (Tim penyusun buku UU RI No. 23 Th. 2002, 2008: 35).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Bab III Hak dan Kewajiban Anak pasal 4 menjelaskan,

“Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”

Baca Juga : Hukum Merayakan Ulang Tahun

Gunadi (2017) memberikan penjelasan tentang undang-udang tersebut sebagai upaya meminimalkan permasalahan yang terjadi pada anak, selain peran orangtua dalam mendidik, membimbing, membina dan melindungi anak, peran pemerintah dalam membuat peraturan dan melaksanakan hukuman kepada pelaku tindak kekerasan pada anak pun perlu ditingkatkan.

Lebih lanjut Gunadi (2017) menegaskan bahwa hak dan kewajiban anak yang dimaksud pada undang-undang tersebut adalah hak dasar, terdiri dari hak hidup; hak tumbuh, hak berkembang; hak berpartisipasi.

Hak hidup, adalah hak yang dimiliki setiap anak untuk mendapatkan suatu nama, dan dapat beribadah sesuai agamanya. Hak tumbuh adalah hak yang dimiliki setiap anak untuk dapat berpikir dan berekspresi, mengetahui orangtuanya, memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial, memperoleh pendidikan dan pengajaran.

Hak berkembang adalah hak yang dimiliki setiap anak untuk mendapat bantuan hukum, mendapatkan perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya.

Baca Juga : Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Selain itu, anak juga memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan dalam kegiatan politik, pelibatan dalam sengketa bersenjata, pelibatan dalam kerusuhan sosial, pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan, dan pelibatan dalam peperangan. Sedangkan hak berpartisipasi adalah hak yang dimiliki setiap anak untuk menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari dan memberikan informasi sesuai dengan kecerdasan dan usianya.

Selanjutnya Gunadi (2017) menjelaskan undang-undang tersebut di atas sudah dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa tidak sepantasnya orang-orang terdekat yang ada di kehidupan anak melakukan tindak kekerasan pada anak. Orangtua justru memegang peranan penting dalam mengembangkan kepribadian anak.

Kepribadian anak terbentuk berdasarkan pola asuh yang diterapkan orangtua dalam kehidupan anak-anaknya sehari-hari. Bila anak melihat kebiasaan baik dari kedua orangtuanya, maka dengan cepat anak akan mencontohnya. Demikian pula sebaliknya bila kedua orangtuanya berperilaku buruk, maka dengan cepat anak pun akan mencontohnya.

Anak meniru bagaimana orangtua bersikap, bertutur kata, mengekpresikan harapan, tuntutan dan kritikan satu sama lain, menanggapi dan memecahkan masalah, serta mengungkapkan perasaan dan emosinya.

Hak anak sekaligus kewajiban Orang tua menurut Islam

Alqur’an menjelaskan secara detail kewajiban orang tua dalam mendidik anak. Surat Al-Luqman menjabarkan tentang “materi” yang wajib diberikan orang tua, selaku pendidik, sebagai berikut :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”. (QS. Lukman : 13)

Pelajaran pertama yang disampaikan adalah tentang ketauhidan, Luqman memulai nasehatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik/mempersekutukan Alloh. Larangan ini sekaligus menandung pengajaran tentang wujud dan keesaan Tuhan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Alloh untuk menekan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik.

Tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Lukman : 14)

Pesan/pelajaran kedua dalam surat ini seperti dinasehatkan Luqman adalah kewajiban manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua karena jasa dan pengorbanan yang tidak ternilai yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya.

Pengorbanan orang tua yang demikian besar, memberikan pelajaran tentang keikhlasan dalam berbuat sesuatu, yakni mengerjakan segala sesuatau tanpa mengharapkan imbalan atas perbuatan baik yang telah diperbuat, di samping sikap bakti yang ditunjukkan oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya mengandung makna balas budi atau rasa terimakasih seorang anak

Tentang “Etika Otonom”

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Lukman 16).

Ayat ini memberikan pelajaran motivasi bagi anak untuk giat beramal kebajikan meskipun sebesar dzarah (kecil sekali) karena Allah Maha tahu dan pasti akan membalasnya.

elajaran yang dapat diambil adalah bahwa siapapun orangnya, sekecil apapun kebaikan dan keburukan yang dilakukannya niscaya akan kembali pada dirinya sendiri, karena Allah maha tahu, maha teliti dan maha adil, maka barang siapa menanam kebaikan. Maka ia akan menuai pahala yang akan menjadikan ia bahagia dalam hidupnya serta siapa saja yang menanam keburukan tentu ia akan menuai dosa yang akan menjadikan ia sengsara dalam hidupnya.

Tentang Ubudiyah dan Amal Saleh

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Lukman : 17)

Setelah merasa anak-anaknya sudah paham dengan materi ketauhidan dan kesempurnaan Alloh, selanjutnya diberikanlah pelajaran-pelajaran mengenai ibadah dan amal saleh.

asihat luqman selanjutnya adalah menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan amal-amal saleh yang puncaknya adalah shaalat, serta amal-amal kebajikan yang tercermin dalam amar ma‟ruf nahi munkar, juga nasihat berupa perisai membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah. Menyuruh hal-hal yang ma‘ruf, mengandung pesan untuk mengerjakannya, karena tidaklah wajar menyuruh sebelum diri sendiri mengerjakannya.

Demikian juga melarang kemunkaran, menuntut agar yang melarang terlebih dahulu mencegah dirinya, karena tidaklah lucu apabila orang yang memerintah tidak melaksanakan, orang yang melarang malah melakukan (Fuadi, Susanti, 2016).

Tentang Akhlak

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Lukman : 18).

Nasihat Luqman selanjutnya berkaitan dengan akhlak dan sopan santun berinteraksi dengan sesama manusia. Materi pelajaran Tauhid atau Akidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak, yang mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan ilmu yang tidak dapat dipisahkan.

Selain itu, penyampaian materi lain (akhlak) setelah penyampaian materi akidah juga dimaksudkan agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi. Dalam kaitannya dengan hal ini, penting bagi seorang pendidik agar selalu melakukan perubahan-perubahan (pengembangan diri) dalam pola pengajarannya, sehingga metode pembelajaran yang dilakukannya selalu menarik dan menyenangkan tanpa mengurangi kaidah-kaidah pokok dalam pembelajaran.

Nasehat/pelajaran Luqman dalam ayat tersebut adalah tentang larangan berlaku sombong. Semua kesombongan wajib dijauhkan dan dihindari karena dapat menimbulkan penyakit hati yang merusak diri sendiri dan orang lain, juga karena kesombongan itu pulalah seseorang akan terhalang menikmati indahnya sorga (Fuadi, Susanti, 2016).
Kewajiban anak terhadap orang tua.

Baca Juga : Kisah Nabi Isa Singkat

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pasal 46 disebutkan kewajiban anak kepada orang tua sebagai berikut :

  1. Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendak mereka yang baik.
  2. Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas, bila mereka itu memerlukan bantuannya.

Dengan demikian seharusnya sikap seorang anak terhadap orang tua adalah:

  1. Mentaati semua perintah dan larangan kedua orangtua, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah Swt. dan pelanggaran terhadap syari’atnya
  2. Menghormati dan menghargai keduanya, merendahkan suara dan memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak mengeraskan suara di atas suara keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya, tidak berpergian kecuali atas izin dan kerelaan keduanya.
  3. Menyambung hubungan kekerabatan dari jalur keduanya, mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji (wasiat) keduanya, dan memuliakan teman-teman atau tamu-tamu keduanya (Maghfira, 2016).

Yasmine (2017) menjelaskan bahwa setiap anak wajib hormat dan patuh kepada orang tuanya dan anak yang telah dewasa wajib memelihara orang tua dan keluarganya menurut garis lurus ke atas yang dalam keadaan tidak mampu. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan permasalahan diatas yaitu Pasal 321 KUHPerdata:

“tiap-tiap anak berwajib memberi nafkah, kepada kedua orang tuanya dan para keluarga sedarah dalam garis keatas, apabila mereka dalam keadaan miskin.”

Sekian ….

DAFTAR PUSTAKA

  • Fuadi, Ahsanul dan Eli Susanti, 2017. Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Surat Luqman. Belajea: Jurnal Pendidikan Islam vol. 2, no 02, 2017. STAIN Curup – Bengkulu | p-ISSN 2548-3390; e-ISSN 2548-3404
  • Gunadi, Andi. Ahmad. 2017. Hak Dan Kewajiban Anak Berdasarkan Pola Asuh Orangtua. Seminar Nasional Riset Inovatif 2017. ISBN: 978-602-6428-11-0
  • Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pasal 321
    Maghfira, Saadatul. 2016. Kedudukan Anak Menurut Hukum Positif Di Indonesia. Jurnal Ilmiah Syari‘ah, Volume 15, Nomor 2, Juli-Desember 2016
  • Yasmine, Charisa. 2017. Pelaksanaan Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua Studi Kasus Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Tresna Werdha (Pstw) Khusnul Khotimah Pekanbaru Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Jurnal : JOM Fakultas Hukum Universitas Riau Volume IV Nomor 2, Oktober 2017

Tanggapan