Diferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial

Setujukah Anda, jika strata kehidupan manusia modern, setidaknya ada 4 hirarki :

  1. Orang Politik
  2. Orang Hukum
  3. Orang Ekonomi
  4. Orang Sipil

Dalam setiap level juga masih ada hirarki dalamnya. Level atas, seringkali memangsa level bawah. Level bawah, seringkali menjadi santapan level atas. Orang sipil, seringkali tidak berdaya berhadapan dengan orang ekonomi, atasan kerja, atau bosnya : PHK atau pecat.

Orang ekonomi, seringkali tidak berdaya berhadapan dengan kebijakan orang hukum : perizinan dicabut, regulasi dipersempit, atau semacamnya.

Orang hukum, seringkali tidak berdaya jika berhadapan dengan orang politik : dibunuh karakternya, dibunuh karirnya, atau dijebak dalam hukumnya sendiri.

Orang politik, adalah manusia “setengah dewa” yang seringkali perkataannya adalah titah dan sabda pandita ratu yang sulit dibantah, atau sosoknya dielu elukan mirip dewa. Katakanlah ia semacam dewa mitologi yunani kuno seperti Zeus, Poseidon, Ares, Hermes, Hades, Athena, dll. Bagaimanapun, tokoh politik di negara kita, adalah keturunan raja-raja Nusantara dahulu, Siliwangi, Majapahit, Sriwijaya, Makassar, Gowa, Pajang, Kadiri, Singosari, dan sederet tokoh kerajaan di dalamnya. Ya, tentu saja. Meminjam sebuah teori : kedaulatan Raja adalah kedaulatan Tuhan. Karena raja, menurut teori ini adalah wakil Tuhan untuk mengurus kehidupan di bumi.

Baca juga : Sifat Sifat Manusia Menurut Islam

Setiap kelas, tentu sesuai dengan kapasitas, kapabilitas, basic pendidikan, dan pengetahuan wawasan akademin maupun non akademis.

Misalnya, untuk menempati posisi real orang politik dengan level tinggi, haruslah menempuh pendidikan politik, pengalaman, wilayah dan jam terbang politik. Untuk menempati kelas hukum (MA, MK, TNI, Polri), haruslah menempuh pendidikannya sekaligus kerja nyata di bidang hukum. Begitupun di kelas ekonomi, untuk menjadi seorang milyader, dibutuhkan ilmu dan skill kompetensi yang memadai. Dan tidak usahlah bersusah payah untuk menempati posisi sipil. Cukup sekolah, mengaji, dan belajar alakadarnya, ditempat biasa, lingkungan biasa saja, sesuai biaya atau cost learning.

BERFIKIR JERNIH
Inilah kehidupan di dunia, di mana sebuah ekosistem kehidupan, tidak bisa kita lenyapkan. Sadarlah akan posisi kita, jangan menjadi santapan kelas atas. Atau berjuanglah untuk bertahan, kalau bisa menaikkan level dengan menempuh prosesnya.

Orang sipil, seringkali menjadi santapan politik yang empuk orang politik. Menjadi supporter relawan gratisan, tanpa perlu dibayar. Mengapa? Karena orang sipil terlalu dalam terlena dalam keluguan dan keterbatasan wawasan dan skill kompetensinya.

Yg sebetulnya masih eksis saat ini, tapi kurang percaya diri adalah orang brahma.

Mereka sebetulnya diatas orang politik, tapi silau dengan dunia modern.

Orang brahma adalah orang sakti dan suci.

Semua orang politik, takut kepada orang brahma.

Tapi, sebagian orang brahma tunduk pada orang politik. Dan sebagian lagi menundukkan orang politik.

Lalu, apakah orang sipil bisa naik kelas?

Bisa. Tentu saja bisa.

Pecahkan tempurung kecilmu, lalu carilah ilmu ilmunya, dan praktikkan. Ilmu pesantren untuk urusan langit, ilmu umum untuk urusan duniawi.

Buat apa dunia, kalau akhirat adalah tujuan?. Ya, silahkan kalau memang engkau betah dalam keluguan.

Sekian,
Semoga bermanfaat.

Tanggapan

Berikan Tanggapan :

Mohon beri tanggapan
Silahkan masukkan nama Anda