Biografi KH. Abdullah bin Nuh – Siapa Mama KH. Abdullah bin Nuh? Bagaimana cara kesungguh-sungguhan beliau menuntut, mengamalkan dan mengembangkan ilmu Allah swt? Ternyata beliau Ulama Pejuang kemerdekaan, pendidik yang sanggup dan mampu memberi contoh nyata, bukan hanya ilmu teori atau dalam ceramah saja.

Mama KH. Abdullah bin Nuh, Beliau terlahir dari kalangan ningrat, putra dari seorang ibu bernama Nyi Rd. Hj. Aisyah dan dari seorang ayah bernama KH. Abdullah bin Nuh, dilahirkan di Kota Cianjur pada tanggal 30 juni 1905, bertepatan dengan tahun hijriah 1324 H, di kota sejuk, Cianjur dan meninggal dunia pada tahun 1987 di Cimahpar, Sukaraja Bogor. yang saat ini Jasadnya sudah dipindahkan ke Ponpes Al-Ghazaly Kotaparis setahun setelah istri beliau wafat, tepatnya pada Kamis, 21 Juni 2012/ Malam Kamis 01 Sya’ban 1433 H berdampingan dengan Istri tercintanya yaitu Nenek Hj. Mursyidah binti KH. Abdullah Sayuti. Nenek sapaan akrabnya yang dapat gelar Wali Wedo (Wali Perempuan) dari berbagai Ulama Tanah Jawa.

Makom mama’ yang di Cimahpar, Sukaraja Bogor saat ini ditempati oleh putrinya Hj. Romlah, namun siapa saja yang menziarahi Mama KH.Abdullah bin Nuh diantara kedua tempat itu sama saja barokahnya, kata putra bungsunya Mama’ yaitu KH. M. Mustofa ABN, Lc. Sapaan akrab dengan panggilan Ust. Toto.

Nasab KH. Abdullah bin nuh

Mama’ KH. Abdullah putra KH.Rd. Muhammad Nuh, putra Rd. H. Idris, putra Rd. H. Arifin Munji, putera Rd. H. Sholeh, putra Dalem Dipati Rd. H. Muhyiddin Natapradja, putra Rd. Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyiddin), putra Dalem Rd. Aria Wiratanudatar IV (Dalem Sabiruddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala), putra Rd. Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala), putra Rd. Aria Wiratanudatar I (Dalem Cikundul).

Cianjur Dan I’anah

Cianjur ialah sebuah kota yang sejak dahulu telah terkenal dengan para ulama dan para pahlawannya. Para Ulama giat menyebarkan ilmunya, tak kenal lelah dan tanpa mengharapkan upah. Para pahlawannya gigih, berani dalam melaksanakan perjuangan, tanpa pamrih gaji. Kesemuanya hanyalah mengharap ridho Allah swt dan rohmat-Nya.

Pada tahun 1912 di kota Cianjur berdiri sebuah Madrasah yang bernama “Madrasatu I’anatit-Talibin wal-Masakin” (selanjutnya disingkat: Madrasah al I’anah) ; pendirinya ialah Juragan Rd. H. Tolhah Al Kholidi, sesepuh Cianjur pada waktu itu. Dalam pembinaannya beliau dibantu oleh seorang cucunya Al-Hafidh (yang hafal Al-Qur’an) As Sufi (yang menguasai kitab Ihya ‘Ulumudin) K.H.R. Nuh, seorang ‘Alim besar keluaran Makkah Al Mukarromah, murid seorang ulama besar yang ilmunya barokah, menyebar ke seluruh Dunia Islam, yang bermukim di kota Makkah Al Mukarromah, yaitu: K.H.R. Mukhtar Al-Athoridi, putra Jawa (Bogor)

Nadhir (Guru kepala) nya waktu itu adalah Syekh Toyyib Al Maghrobi, dari Sudan. Bertindak sebagai pembantu (guru bantu) adalah Rd. H. Muhyiddin adik ipar Juragan Rd. H. Tolhah Al-Kholidi. Murid pertamanya adalah: Rd. H. M. Sholeh Al Madani.

Syekh Toyyib Al Maghrobi di Al-I’anah hanya 2 (dua) tahun, karena beliau diusir oleh Pemerintah Belanda. Maka untuk mengisi kekosongan, Nadhir Al-I’anah dipegang oleh Rd. Ma’mur keluaran Pesantren Kresek Garut (Gudang Alfiyyah) dan lulusan Jami’atul Khoer Jakarta (Gudang Bahasa Arab). Di antara murid-muridnya ialah:

  1. Rd. Abdullah
  2. Rd. M. Sholeh Qurowi
  3. Rd. M. Zen

Dari Al I’anah Al Mubarokah inilah muncul para pahlawan dan sastrawan Muslim yang namanya tidak akan sirna, tetap tercantum dalam lembaran sejarah, diantaranya ialah Mama KH. Abdullah bin Nuh. Beliau menguasai bahasa Arab sejak usia 8 (delapan) tahun (penjelasan beliau sendiri sewaktu hidup kepada salah seorang muridnya).

Mama KH. Abdullah bin Nuh adalah juara Alfiyyah, beliau sanggup menghafal Alfiyyah Ibnu Malik dari awal sampai akhir dan dibalik dari akhir ke awal (demikian menurut Al-ustaz Rd. Abubakar sesepuh Cianjur). Walhasil, kecerdasan, bakat dan watak Mama KH. Abdullah bin Nuh semenjak duduk di bangku Madrasah Al-I’anah sudah nampak jelas keunggulannya.

Selain belajar di Al-I’anah, Mama’ KH. Abdullah bin Nuh tidak henti-hentinya menggali dan menimba ilmu dari ayah beliau. Beliau pernah berkata kepada salah seorang muridnya: “Mama mah tiasana maca Kitab Ihya teh khusus ti bapa Mama,” begitu dengan logat Cianjurnya yang artinya: “Mama itu bisa baca ihya khusus dari bapak mama). Jadi jelas, Kota Cianjur adalah Gudang Ulama, pabrik para pahlawan dan pusat para santri. Maka tidak heran kalau kota Cianjur sejak dahulu penuh dikunjungi oleh para peminat ilmu Syari’at Islam dari seluruh pelosok Jawa Barat, dari daerah Priangan Barat sampai ke Timur seperti: Bandung, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.

Umur 8 Tahun Sudah Dapat Berbicara Dalam Bahasa Arab

Betul-betul beliau adalah figur seorang Ulama yang berilmu amaliyyah dan beramal ilmiyah. Itulah pentingnya mengangkat biografi beliau ke permukaan melalui Risalah yang mukhtashoroh dan sederhana ini, agar dikenal dan berkesan dikalangan generasi pelanjut.

Dalam lingkungan keluarganya, ayahanda Muhammad Nuh membiasakan anggota keluarganya menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari, sehingga pada umur 8 tahun Abdullah (bin Nuh) sudah bisa bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Demikian diceritakan oleh Ustadh Raden Abu Bakar, salah seorang sesepuh Cianjur.

Hafal Kitab Alfiyyah

Tidak mengherankan, seusai pendidikannya di Madrasah al I’anah, Mama KH. Abdullah bin Nuh sudah hafal kitab Al-Fiyyah, yaitu kitab tentang kaidah tata bahasa Arab, karya Ibnu Malik yang berbentuk syair sebanyak 1000 bait, kitab yang amat terkenal di kalangan pesantren. Dikatakan dalam salah satu riwayat hidupnya bahwa Mama KH. Abdullah bin Nuh adalah “Juara Alfiyyah”, beliau hafal Alfiyyah bahkan dapat menghafalnya dari akhir ke awal” (Abuddin Nata, 2005:179).

Menguasai Kitab Ihya ‘Ulumuddin. Selain mengajar agama di madrasah ayahnya, di rumah pun ia menimba pengetahuan dari ayahanda. Mama KH. Abdullah bin Nuh pernah bercerita di hadapan muridnya dalam bahasa Sunda. Katanya, “Mama mah tiasana maca Kitab Ihya teh khusus ti Bapa Mama” (Kakek bisa membaca kitab Ihya khusus belajar dari Bapak). (Cahaya Sufi, 2009).

Pekalongan dan Ad-Diniyyah

Pekalongan sebuah kota kecil yang mungil, berhasil mencetak kader-kader Muslim yang militan dan berwatak, membina mental pemuda-pemuda Islam yang berjiwa pahlawan dan bercita-cita tinggi menuju Indoesia Merdeka dengan landasan kalimatullahi Hiyal ‘Ulya’.

Di kota Pekalongan telah berdiri sebuah Madrasah Ad-Diniyyah yang nantinya menjadi cikal bakal berdirinya Madrasah Samailul Huda, Pondok pesantren dan Masid-Masjid. Madrasah Ad-Diniyyah dipimpin oleh Maulana Al-‘Alim Al-Alamah Al-Habib Hasyim Bin Umar bin Thoha bin Yahya yang akrab disapa Habib Hasyim. Guru agung tersebut adalah salah seorang guru Mama KH. Abdullah bin Nuh. Habib Hasyim bin Umar bin Yahaya memiliki guru tidak kurang dari delapan puluh Masyaikh Agung, sehingga beliau memiliki ilmu Muroba’/segi Empat (Sunda: Masagi). Pada saat itu santrinya yang belajar sudah mencapai seribu orang.

Habib Hasyim bin Umar mulai berdakwah di Pekalongan Tahun 1301 H/1881 Masehi. Dari situlah beliau merintis pembangunan masjid-masjid dan membangun pesantren. Habib Hasyim dalam sehari (dua puluh empat jam) hanya tidur satu jam. Beliau tertidur tatkala jam menunjukan pukul dua belas di atas kursi malas (kursi goyang) milik beliau. Apabila tasbihnya sudah terjatuh, maka dapat dipastikan waktu menunjukan pukul satu pagi. Ketika itulah beliau bangun dan mengganti pakainnya dengan menggunakan sarung dan kaos biasa, kemudian mengisi kulah (ngangsu) air seorang diri di masjid sampai penuh, selanjutnya kulah (bak) santri dan terakhir kulahnya sendiri. Dilanjutkan mandi, kemudian masuk kholwat (Bersunyi-sunyi dengan Allah). Menjelang subuh beliau keluar kamar untuk melakukan sholat sunnah fajr, lalu beliau menyiapkan kompor untuk membuat hidangan makanan, kopi dan teh untuk para tamunya.

Semasa hidupnya, beliau mengajar Tafsir, Hadits, setelah itu sholat Sunah Isyroq, kemudian menemui tamunya sebentar, sholat dhuha, lalu beliau berangkat untuk mengajar ke Madrasah Diniyyah. Pukul Setengah Dua Belas beliau pulang mengajar. Melakukan persiapan shalat Dzuhur. Habis shalat Dzuhur beliau makan bersama dengan para tamunya, terus menunggu shalat Ashar, lalu beliau mengajar lagi sampai berjamaah shalat Magrib terus mengajar, setelah beres mengajar terus istirahat berjamaah shalat Isya. Setelah beres terus menemui tamu lagi, mengajar lagi sampai pukul sembilan malam, setelah itu baru menemui tamu lagi.

Setelah Sholat subuh mengimami, Habib Hasyim masuk ke kamar mihrob, begitu masuk ke kamar tersebut semua orang tidak tahu beliau pergi ke mana, tidak ada yang mengerti. Tetapi setelah beliau wafat, di hari wafatnya beliau, banyak ibu-ibu berdatangan sambil membawa anak-anaknya yang berasal dari Pantai Pemalang sampai Alas Roban, ternyata yang membantu mengurus menafkahi mereka setiap hari adalah Habib Hasyim.

Habib Hasyim bin Umar mengajarkan berbagai ilmu kepada Mama KH. Abdullah bin Nuh, di antaranya: I’anatul Tolibin, Ihya ‘Ulumuddin, Rotibul Haddad, Rotibul Athos, Thoriqotul Awaliyah, kitab-kitab Balagoh dan Nahwu yang jumlah seluruhnya 13 (tiga belas kitab). Dengan dibuktikan seluruh ilmu tersebut diijazahkan kepada cucunya saat ini yang menjadi Rois ‘Amm JATMAN (Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah – salah satu Badan Otonom/ Banom NU) yaitu al ‘alim al ‘alamah Maulana al-Habib KH. Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya yang akrab disapa dengan panggilan Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan.

Mama KH. Abdullah bin Nuh mengijazahkan ilmu yang didapatkan dari kakenya Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut saat beberapa hari sebelum berpulang ke hadirat Ilahi. Bahkan ada dua kitab rahasia yang hanya diberikan ijazahnya kepada beliau saja karena belum ada yang sanggup untuk menerimanya kecuali Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan.

Keilmuan dan Kewalian Habib Hasyim

Menurut Kiyai Amir Jenggot, al-‘Allamah yang bermukim di Mekkah, mengatakan; “Innamal Habib Hasyim Huwa a’lamu Sadatil Ulamail A’lam’. Maqom kewaliannya sangat tinggi walaupun umur muda tidak mencapai tujuh puluh tahun. Pada Akhirnya Maulana Habib Hasyim bin Umar bin Yahya wafat pada tahun 1930 di Pekalongan – Sapuro. (Wawancara keluarga pada 10 November 2015 dikediaman Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya )

Menurut keterangan dari Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, kekek beliau ini saat mendapatkan keterangan dari KH. Ubaidah (Asy’arinya Tanah Jawa), beliau mengatakan bahwa: “Jarang ulama yang ilmunya seperti Habib Hasyim, kebanyakan ulama Nahul Fann (Mutafanin) seperti Mutafanin Fiqih dan Mutafanin Hadits, akan tetapi kalau Habib Hasyim adalah Mutafanniyyin semua Fann (disiplin ilmu), termasuk tak terlewatkan menguasai Silat Jawa. Nama Silatnya yaitu “Pasrah dan Dermayon”. Itulah salah satu guru agung Mama’ KH. Abdullah bin Nuh yang pantas saja keilmuan beliau mewarisi gurunya. (Wawancara keluarga pada 10 November 2015 dikediaman Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya).

Ini ada salah satu kakak kelas beliau yang bernama Al Ustadz Said bin Ahmad Bahuwairist (kelahiran Ambon) yang tinggal di alamat Jl. Surabaya No. 69 Pekalongan, Jawa Tengah. Beliau lebih sepuh usianya. Mama’ KH.Abdullah bin Nuh kelas 3 (tiga), al-Ustadz Said kelas 4 (empat). Al-Ustadz Said bin Ahmad Bahuwaritis dari Ambon menceritakan bahwa selain memuji kehidupan Abdullah bin Nuh yang sangat bersahaja, beliau menjulukinya dengan mengatakan bahwa beliau (Mama KH. Abdullah bin Nuh) adalah seorang Al-Ustadz, Al-‘alim, Al-Adiib, Azzahid, Al-Mutawadli’, Al-Haliim. Pantas saja Mama’ mewarisi Mutafanniyyin semua Fann (disiplin ilmu) dari para masyayikhnya sehingga memiliki gelar tersebut. Pastinya guru-guru beliau yang menggemleng dengan kasih sayang, serius, dan penuh ketauladan yang luar biasa. Pada waktu itu salah seorang murid Mama’ adalah KH. Ahmad Zaini Dahlan yang akrab disapa Mama’ Elon menambahkan bahwa Mama adalah seorang “al-mujahid fii sabilillah, beliau mengiyakannya. (KH. Ahmad Zaini Dahlan, 1987)

Al Ustadz Said bin Ahmad Bahuwairist bahkan merupakan orang yang pernah mengunjungi Mama KH. Abdullah bin Nuh ketika masih berdiam dirumahnya yang sederhana di Jakarta, yakni dirumah sewaannya. Di jalan Paseban 66. Beliau salah seorang kakak kelas yang akrab menjadi sahabat Mama KH. Abdullah bin Nuh yang bersama belajar di Pekalongan.

Syamailul Huda 1918-1922

Pada tahun 1918, sesudah belajar di Madrasah Ad-Diniyyah Pekalongan dan Madrasah Al-Inayah di tempat kelahirannya, Mama KH. Abdullah bin Nuh bersama rekan-rekannya yang berjumlah enam orang, lulusan madrasah yang sama, dikirim belajar di Syamailul Huda Pekalongan. Rekan-rekan mama tersebut :

  1. Rd. Abdullah
  2. Rd. M. Zen
  3. Rd. Taefur yusuf
  4. Rd. Asy’ari
  5. Rd. A k u n g
  6. Rd. M. Soleh Qurowi

Di sana, di Jalan Dahrian (Sekarang Jalan Semarang) berdiri Madrasah Arabiyah, pesantren yang bernama “Syamailul Huda”. Pesantren ini dipimpin oleh seorang Sayyid keturunan Hadromaut, Sayyid Muhammad bin Hasyim bin Tohir al-Alawi al-Hadromi. Beliau seorang ‘Alim yang berjiwa besar, bercita-cita tinggi, berpandangan luas. Beliau tak mengenal payah dan lelah, tak ingin melihat putra-putri islam tidak maju. Beliau bersemoyan: “sekali maju tetap maju, bekerja dengan semangat, disertai ikhlas niat, pasti dapat dengan selamat”. (Prof. Dr. Muhajir, Jakarta 2012).

Enam orang santri yang datang dari Cianjur dan Madrasah Ad-Diniyyah ke pesantren “Syamailul Huda”, di Pekalongan tergolong santri dakhiliah, yakni mereka yang bermukim di dalam asrama. Mereka bersama 30 orang santri dari berbagai daerah seperti dari Ambon, Manado, Surabaya, Singapura dan Malaysia. Mama KH. Abdullah bin Nuh santri dari Cianjur itu adalah salah seorang diantara ‘santri dalam’ yang berhasil dengan gemilang menyerap ilmu disana, sehingga beliau menjadi kesayangan gurunya, Sayyid Muhammad bin Hasyyim. Di Madrasah dan internat inilah Sayyid Muhamad bin Hasyim mendidik, menerapkan ajaran Islam, menggemleng pemuda-pemuda yang berwatak , calon pahlawan/ Da’i/ Mubalig dan Ulama.

Syamailul Huda dan internatnya, laksana Masjidil Harom dan Darul Arqom di zaman Rasulullah saw. Pemuda-pemuda didikan Rosulullah saw di Darul Arqom, dasar Islamnya kuat, keyakinanya bulat, akhlaqul karimahnya mengkilat, terlihat sinarnya memancar dari pribadi-pribadi para sahabat dikala itu, mereka berpegang teguh kepada amanah Rosulullah S.A.W. Hidup terpuji dimata masyarakat bangsa, mati syahid perlaya di Medan laga membela agama Allah swt.

Karomah Mama Abdullah bin Nuh di Mata Sahabatnya

Banyak sekali kata-kata mutiara yang diucapkan Al-Ustadh Said bin Ahmad Bahuwaritis kakak kelas Mama’. Beliau memulai percakapan dengan kata-kata: “waktu saya berziarah ke rumah Abdullah kebetulan waktu shalat maghrib, saya tahu persis keadaan dalam rumahnya, hanya dua kamar yang sempit dan satu kamar mandi yang darurat. Padahal kalau melihat ilmunya, dan banyak murid-muridnya, dia itu orang besar, sudah tidak sesui lagi. Tidak seperti orang-orang besar sekarang mobil-mobil banyak, gedung-gedungnya mewah, dengan rumah saya saja sudah jauh berbeda “(komentar penulis: memang betul, rumah Al Ustadz Said itu gedung dan besar sekali). (KH. Ahmad Zaini Dahlan, 1987).

Beliau (Al Ustadz Said) melanjutkan dengan ucapan beliau: “Maka dari gambaran suasana rumahnya yang sangat sederhana itu, Masya Allah – Masya Allah – Masya Allah , Abdullah sedang syugul lillahi Ta’ala, dia Azzahid’

  1. Inilah ulama, ini waktu, mencari seperti itu tidak ada;
  2. Abdullah tetap Abdullah sebagai kiyai;
  3. Ini hidup yang benar;
  4. Ini toriq (jalan) yang benar;
  5. Abdullah saudara saya betul;

Amanat-amanat beliau kepada putra-putri Mama KH. Abdullah bin Nuh:

  1. Berjalanlah menurut Abdullah bin Nuh;
  2. Ana ad’uu lahum;
  3. Panggillah saya “aamii ( anggaplah orang-tuanya);
  4. Salam dari saya kepada keluarga Abdullah;
  5. Dan minta foto Abdullah setelah mendekat wafat ;

Rd. Mama KH. Abdullah bin Nuh sewaktu duduk dikelas 4 kelas terakhir Syamailul Huda, telah turut aktif mengaji bersam-sama dengan para guru Madrasah tersebut. Jadi Rd. Mama KH. Abdullah bin Nuh sudah lebih dahulu maju dari teman-teman kakak kelasya. (KH. Ahmad Zaini Dahlan, 1987)

Surabaya dan Hadrol Maut School 1922-1926

Kota Surabaya ialah kota yang terkenal arek-areknya di zaman revolusi fisik dan jadi kebanggaan masyarakat Surabaya para patriotnya, dari kota sampai kekota-kota. Kira-kira pada akhir tahun 1922 Sayyid Muhammad bin Hasyim pindah ke Surabaya ; Rd. Mama KH. Abdullah bin Nuh di bawa dan dikembangkan bakatnya.

Dikota Surabaya pada waktu itu ada sebuah gedung besar dan tinggi letaknya dekat jembatan besar di Jl. Darmokali (dulu Noyo Tangsi). Penulis melihat dimuka gedung itu sebelah atas ada tulisan tahun 1914 waktu didirikannya. Di gedung inilah Sayyid Muhammad bin Hasyim mendirikan sekolah “Hadrolmaut School” untuk menyebar ilmunya dan melatih anak-anak didik yang dibawanya dari pekalongan, dalam rangka mengembangkan bakat dan penampilan kemampuan anak-anak didiknya tersebut.

Hadromaut school di Surabaya laksana Masjid Quba di Madinah sewaktu Rosulullah saw mulai menginjakkan kakinya di Madinatul Munawwaroh: Tempat Rasulullah mempersaudarakan ummat yang berbeda-beda bakat dan adat istiadat, tempat mempersatukan kaum Muslimin yang bermacam-macam faham dan pendapatnya, tempat Rosulullah saw mengatur siasat, bermasyarakat dan lain-lain.

Gedung “Hadrolmaut School” ialah tempat Mama KH. Abdullah bin Nuh dan teman-temannya dididik, dibina, digembleng cara praktek mengajar, berpidato, memimpin dan lain-lain yang diperlukan.

Mama KH. Abdullah bin Nuh disamping diperbantukan mengajar disekolah tersebut, beliau tidak henti-hentinya menyerap dan menerima bermacam-macam ilmu Agama dan Umum, mempelajari beraneka ragam bahasa dari gurunya. Demikianlah keadaan Mama KH. Abdullah bin Nuh di kota Surabaya, beliau berjiwa arek-arek Suroboyo yang paling lincah berjuang. Dengan ilmunya yang mendalam, jiwa yang suci dan kemauannya yang kuat, maka beliau terpilih sebagai siswa yang akan di bawa ke Mesir oleh gurunya bersama-sama dengan teman-temannya, sebanyak 15 orang.

Teman Rd. Mama KH. Abdullah bin Nuh yang bersama-sama belajar di Mesir yang masih ada di kota Surabaya sekarang, ialah Abdul Razak Al-‘ Amudi di kompleks IAIN Wonocolo. Beliau lah yang menyandang gelar: Syahadatul ‘Aalimiyah dari “Jami’atul Azhar” dan seblum Daril ‘Ulumil’ ‘Uhya dari Madrasah Darul ‘Ulumul ‘Ulya. (KH. Ahmad Zaini Dahlan, 1987 M)

Disamping melaksanakan berbagai pelajaran tersebut, Mama KH. Abdullah bin Nuh juga gigih menambah ilmunya, baik pengetahuan agama maupun umum. Disamping bahasa Arab beliau juga berusaha terus mempelajari bahasa-bahasa Barat, seperti bahasa Belanda, Perancis, dan Inggris. Dan selain mengajar di madrasah Hadromaut, Mama KH. Abdullah bin Nuh juga membantu menjadi anggota redaksi majalah Hadromaut edisi bahasa Arab yang terbit setiap minggu untuk masyarakat Jawa Timur. Pekerjaan ini berlangsung dari tahun 1922-1926 (Ensiklopedi Islam, 1997;19).

Pekerjaan sampingan sebagai redaktur majalah berbahasa Arab itu merupakan pengalaman di bidang jurnalistik yang sangat berarti pada masa awal perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia membangun siaran radio yang memiliki bagian siaran bahasa Arab pada RRI Yogjakarta dan Jakarta kelak.

Mesir dan Al-Azharnya (1926-1928)

Bertepatan dengan didudukinya kota Mekkah Almukarromah oleh kaum wahabiyyin dan keluarganya Malik Husen meninggalkan Mekkah pada tahun 1343 H (_+ tahun 1925 M), Rd. Mama KH. Abdullah bin Nuh bersam-sama teman-temannya yang 15 0rang itu dibawa gurunya ke Mesir untuk melanjutkan pelajarannya. Perguruan Tunggi di Mesir pada waktu hanya dua:

1. Jami’atul Azhar (Syari’ah)

  • Lama belajar 6 tahun mendapat gelar: Syahadatul’ Alimiyah.
  • Lama belajar 3 tahun mendapat gelar: Syahadatul Ahliyyah.2.

2. Madrasah Darul Ulum Al-‘Uhya (Al-Adaab)

  • Lama belajar 4 tahun mendapat gelar: Deblum Daril “Ulumil” Ulya

Syarat-syarat masuk Jami’atul Azhar diantaranya harus hafal Al-Qur’an 30 juz. Tetapi murid-murid yang dibawa oleh Sayyid Muhamad bin Hasyim yang 15 orang itu mendapat prioritas diterima dengan hafal beberapa surat. Dengan istisnaiyyah (pengecualian) ini menunjukkan kebesaran dan keberkahan murid-murid Sayyid Muhammad bin Hasyim. Rd. Mama KH. Abdullah bin Nuh bersam-sama dengan teman-temannya bermula-mula bertempat tinggal di Syari’ul Hilmiyyah, lalu berpindah ke Syari’ul Bi’tsah Bi Middanil Abbasiyah. Khodam-khodamnya/ tukang masaknya orang-orang Yaman.

Siang dan malam Rd. Mama KH. Abdullah bin Nuh tidak henti-hentinya belajar. Waktu adalah betul-betul berharga bagi beliau. Keluar dari Jami’atul Azhar beliau pulang hanya mengganti pakaian, memakai pantalon, berdasi dan memakai torbus, terus mengikuti pengajian-pengajian diluar Al-Azhar. Mahasiswa Al-Azhar mempunyai ciri khas ialah berjubah dan bersorban dibalutkan dikepala (udeng).

Mama KH. Abdullah bin Nuh di Mesir sudah tidak mempelajari bahasa Arab lagi, karena beliau ketika masih diindonesia pun sudah benar-benar pandai dan ahli, serta telah menguasai berbagai bahasa. Beliau di Mesir hanya belajar Fiqih (ini menurut cerita beliau kepada alah seorang murid nya, katanya dalam bahasa Sunda “Mama mah di Mesir teh mung diajar ilmu fiqih wungkul”, artinya : “Mama itu di Mesir Cuma diajar ilmu Fiqh aja”.

Selanjutnya beliau bertanya: “Dupi salira kitab-kitab fiqih naon anu tos diaos? Dijawab muridnya dengan menyebutkan beberapa kitab fiqih. Setelah sampai menyebut kitab Iqna, maka beliau berkata: “Mama mah kitab iqna teh di Mesir, ari salira mah di Indonesia”.

Dengan berkah ketekunan kesungguh-sungguhan, maka Mama KH. Rd. Abdulah bin Nuh di Mesir telah kelihatan sebagai seorang pelajar yang paling cakap diberbagai bidang ilmu pengetahuan. Al-Ustad Abdul Razzaq berpendapat: “Sebabnya Abdullah itu mempunyai kelainan dari pada teman-temannya yang semasa, karena dia banyak mendapat kan ilmu dari hasil Muthola’ah. Muthola’ah satu kitab saja sampai 10 kali, Inilah syarat Muthola’ah kata Mama KH. Abdullah bin Nuh. Bahkan beliau tidak mau mengajar kalau belum muthola’ah.

Di al-Azhar hanya belajar selama dua tahun. Rupanya, selama di Mesir beliau juga bertugas menemani putra gurunya yang mengirimnya ke Mesir itu. Ketika pada tahun 1928 putra gurunya yang ditemaninya belajar bersama di Mesir tidak betah dan pulang ke negerinya, Hadromaut, maka Mama KH. Abdullah bin Nuh pun pulang ke Indonesia. (Cahaya sufi 2009).

Selama belajar di al-Azhar, tampaknya penguasaan bahasa Arab Mama KH. Abdullah bin Nuh makin tinggi, bukan hanya mampu menerima kuliah dalam bahasa Arab, tetapi sudah mampu menulis dalam bahasa Arab, bahkan menulis dalam bentuk puisi atau syair. Selama dua kali mengalami musim haji disana, beliau pun menyempatkan naik haji disana, bukan hanya itu, bahkan sempat dua kali mempersembahkan syair pujaan di istana kerajaan untuk sang raja Saudi Arab. Syair itu menurut catatan pada kumpulan sajaknya dipersembahkannya pada tahun 1376 Hijriah; dan syair kedua tidak dijelaskan tahun berapa dipersembahkannya, hanya dikatakan di satu musim haji. Baik syair pertama maupun yang kedua, selain dipersembahkan dihadapan raja, oleh pemerintah juga disiarkan melalui radio dan surat kabar al-Bilad. (Prof. Dr. Muhajir, Jakarta 2012)

Kiprahnya Di Bidang Pendidikan Dan Dakwah 1928-1943

Setelah melalang buana , berguru di satu pusat pendidikan ke pusat lainnya, pulang dari kuliah di Mesir, beliau tinggal di sekitar Cianjur dan Bogor, mengajar dan berda’wah diberbagai tempat disekitar kedua kota tersebut. Disana Mama KH. Abdullah bin Nuh menfokuskan aktifitasnya pada upaya penyebaran ilmu agama dan pembinaan umat, dengan aktif mengajar dibeberapa madrasah disekitar tempat tinggalnya, terutama di pesantren peninggalan ayahnya. Dari Cianjur beliau pindah ke Bogor, disana tinggal di Ciwaringin.

Sesudah beberapa saat disana pada tahun 1934 beliau mendirikan madrasah yang diberi nama Madrasah Penolong Sekolah Agama. Maksud tujuannya hendak mempersatukan madrasah-madrasah disekitarnya, khususnya madrasah yang ada dibawah asuhan Mama Ajengan Rd H. Mansur. Nama “Penolong” tampaknya sesuai dengan nama madrasah ‘Inayah di Cianjur yang juga berarti pertolongan.

Masa Perjuangan RI (1943-1945)

Ketika masa perjuangan kemerdekaan Indonesia memuncak, beliau terjun langsung ke medan perjuangan, Sejarah mencatat bahwa PETA lahir pada bulan November 1943, lalu diikuti lahirnya HIZBULLAH beberapa minggu kemudian di mana para alim ulama kemudian masuk menjadi anggota organisasi itu. Tahun 1943 tersebut benar-benar merupakan tahun penderitaan yang amat berat khususnya bagi umat Islam dan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Boleh dikatakan bahwa saat itu adalah merupakan salah satu ujian paling berat bagi bangsa Indonesia. Pada akhir tahun (1943-1945). Mama KH. Abdullah bin Nuh masuk PETA dengan pangkat DAIDANCO yang bersama di Semplak Bogor. Dengan komando teritorial untuk wilayah Cianjur, Bogor, dan Sukabumi. Sesudah Negara Republik Indonesia diproklamasikan (1945-1946).

Pemimpin-pemimpin umat ini, para alim ulama di sana-sini ditangkap oleh Dai Nippon, diantaranya Hadlorotnya Syekh Hasyim Asy`ari pimpinan pondok Pesantren Tebu Ireng. Beliau dipenjarakan di Bubutan, Surabaya. Di Jawa Barat perlakuan serupa dilakukan terhadap KH. Zainal Mustofa, Tasikmalaya, bahkan sampai gugurnya karena di siksa Dai Nippon. Beliau adalah Pemimpin Pondok Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya.

Taggal Agustus 1945 senjata dahsyat bom atom dijatuhkan Amerika Serikat di atas Kota Hiroshima, disusul kemudian tanggal 9 Agustus bom atom gelombang kedua dijatuhkanpula di atas Nagasaki. Sekutu mengumandangkan kemenangannya. Bangsa Indonesia saat itu sangat optimis dengan tekuk lututnya Jepang terhadap sekutu. Ternyata pada tanggal 17 Agustus 1945 beberapa hari setelah pemboman terhadap kedua kota itu kita bangsa Indonesia memperoleh hikmah, yaitu kemerdekaan yang diperoklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Apakah ini bukan rahmat dari Allah swt?

Cobaan dan cobaan telah dan akan selalu kami hadapi. Pada tanggal 19 September 1945 di Surabaya terjadi peristiwa besar yang merupakan titik awal yang menyulut semangat kepahlawanan rakyat Surabaya. Beberapa personil Belanda yang saat itu membonteng sekutu berhasil menyamar missi sekutu mengibarkan bendera merah putih biru di Hotel Yamato, tunjungan Surabaya. Kemudian personil Belanda lainnya setelah tiba di Tanjong Priok merayap keseluruh pelosok Jawa diantaranya je Bandung, Yogya, Magelang dan Surabaya. Ini merupakan tantangan berat lagi bagi bangsa Indonesia. Namun demikian rakyat tidak mengenal mundur atau menyerah.

Begitu pula KH. Abdullah bin Nuh terus aktif melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui barisan Hizbulah dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) kemudiaan menjadi TKR di kota Bogor, Sukabumi dan Cianjur hingga pertengahan Tahun 1945.

Pada tanggal 21 Romadhon 1363 H/ 29 Agustus 1945 M, di Jakarta dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan sekaligus melangsungkan sidang pertamanya. Ketua KNIP ditetapka Mr. Kasman Singodimedjo, salah seorang mantan Daidanco PETA Jakarta. Anggota KNIP diantaranya adalah Mama KH. Rd. Mama KH. Abdullah bin Nuh. Pada tanggal 4 Juni 1946 Pemerintahan R.I. pindah ke Jogyakarta.

Kembali Ke Yogyakarta 1946-1949

Bulan Juli 1949 Belanda menyerahkan kembali Kota Yogyakarta, Ibu kota RI saat itu. Mama KH. Abdullah bin Nuh dipanggil kembali ke RRI Yogyakarta. Kebetulan pada waktu Abdullah bin Nuh mengajar dipesantren “al-wathoniyyah” Kebarongan tersebut, penyusun riwayat hidupnya ini adalah keponakan istrinya Mursyidah dan merupakan salah seorang santri suaminya. Ketika Mama KH. Abdullah bin Nuh dipanggil ke Yogya, meminta penyusun ikut serta menemani mereka ke Yogjakarta. Pada waktu itu untuk menuju ke Yogjakarta harus melewati kota Gombong, dimana Belanda masih bercokol disana, sehingga untuk melewati kota itu harus berjalan kaki melalui jalan desa di pantai selatan Jawa, oleh karena itu perlu “pengawal”. Demikianlah akhirnya kami bertiga kembali ke Yogjakarta. (Prof. Dr. Muhajir, Jakarta 2012)

Yogyakarta adalah sebuah kota kecil yang mendadak menjadi ibukota Republik Indonesia dan pusat segala kegiatan politik. Semenjak awal 1946, situasi politik terus meningkat dan ketegangan serta pergolakan terjadi di mana-mana. Jogyakarta amat berat memikul beban nasional di atas pundaknya. Pada tahun tersebut, ketika Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta, Mama KH. Abdullah bin Nuh pun ikut pindah ke kota di Jawa Tengah itu.

Bersama tokoh perjuangan Kemerdekaan Indonesia ikut mendirikan Radio Republik Indonesia. Disana ia diangkat menjadi kepala siaran bahasa Arab, yang memiliki peran penting dalam memperjuangkan pengakuan Negara Republik Indonesia dari dunia Internasional. Selain itu Mama KH. Abdullah bin Nuh juga diangkat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI) untuk tahun 1948-1950. Dibidang pendidikan, beliau bersama KH Abdul Kahar Mudhakkir mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI), yang kemudian berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), dan tentu saja beliau mengajar di Universitas Islam tersebut (Abudin Nata), 2005.

Yang lebih unik lagi ialah tidak melupakan tugas kekiyaian, yaitu mengajar ngaji. Hasil didikan beliau aktif di Jogyakarta diantaranya adalah Ibu Mursyidah dan Basyori Alwi, yang telah berhasil membuka Pesantren Yang megah di Jl. Singosari No. 90 dekat Kota Malang, dan banyak lagi Asatidz tempaan beliau.

Di Persembunyian, Desember 1948 – Juni 1949

Pada bulan Desember tahun 1948 ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta, diduduki tentara Belanda. Tentara RI mundur dari kota Yogyakarta dan terjadilah perang gerilya selama 6 bulan, mulai dari Desember 1948 hingga Juni 1949. Perang gerilya ini dilakukan pula oleh para pejabat, walaupun dia itu adalah seorang Menteri. Tetapi pada bulan Juli 1949 diserahkan kembali ke pemerintah Republik Indonesia.

Selama pendudukan Belanda di Yogyakarta itu tentara nasional Indonesia meninggalkan kota dan melakukan perang gerilya, pendidikan sipil pun umumnya, khususnya para pedagang/ pengungsi dan pegawai sipil Republik Indonesia meninggalkan kota Yogyakarta, umunya lewat pesisir selatan mengarah ke arah Barat, termasuk diantaranya Mama KH. Abdullah bin Nuh, meninggalkan Kota Yogyakarta melalui pesisir selatan mengarah ke arah Barat. Sejauh sekitar 100 km dari kota Yogyakarta.

Disuatu Desa dipinggiran Kabupaten Banyumas berhenti di Desa dimana terdapat sebuah pesantren yang ditinggalkan pimpinannya bergerlya – Madrasah Wathoniyah Islamiyah bernama Abdulah Sayuti. Penulis tidak tahu apakah kebetulan atau diundang diterima dirumah tersebut. Abdulah Sayuti adalah orang tua salah seorang mahasiswi Mama KH. Abdullah bin Nuh di Universitas Islam di Yogyakarta, yang bernama Mursyidah binti Abdulah Sayuti. Selanjutnya diketahui bahwa akhirnya mahasiswi tersebut dinikahinya di desa itu, dan bersama istri kedua ini kelak Mama KH. Abdullah bin Nuh melanjutkan perjuangannya sebagai penyebar, maupun keterlibatannya dalam kegiatan penelitian dan penyebaran hasilnya melalui media cetak. (Prof. Dr. Muhajir, Jakarta 2012)

Dikampung kebarongan, sebuah kampung pesantren yang ditinggalkan bergerilya oleh para ustadznya, Mama KH. Abdullah bin Nuh berhasil mengumpulkan kembali santri-santri yang tidak ikut bergerilya melawan Belanda, untuk diberikan pendidikan sebisanya. Pada waktu itu seluruh wilayah Jawa—termasuk wilayah Banyumas diduduki oleh tentara Belanda, dan seringkali tentara Belanda mengadakan pemeriksaan ke kampung-kampung yang dianggap melakukan perlawanan, sehingga pendidikan dilaksanakan ketika tidak ada patrol Belanda.

Di Desa itu Mama KH. Abdullah bin Nuh kembali menemukan kesempatan melakukan amal kesenangannya menyebarkan pengetahuan bahasa Arab dan agama Islam di pesantren tersebut. Di sana pula beliau sempat mengingat kembali syair-syairnya yang sudah dikarangnya untuk dibacakannya sebagai selingan kegiatan mengajarnya. Penyusun riwayat hidup ini adalah salah seorang satrinya di Kebarongan.

Masih jelas teringat betapa santri-santri, ditengah letupan senapan Belanda melawan gerilyawan, sempat asyik mendengarkan dan menyaksikan syair berbahasa Arab berjudul “al-Firdawsu Al-Istiwiy” ‘Sorga di Khatulistiwa’ yang memuja keindahan dan kebesaran tanah air Indonesia yang dilantunkan sendiri oleh penciptanya, serta juga Syair “Biladiy” ‘negeriku’ yang mengobarkan kecintaan pada tanah air dan semangat perjuangan kemerdekaan. (Prof. Dr. Muhajir, Jakarta 2012)

Sejarah pertama kali mencatat, yaitu tanggal 17 Desember 1946, Bung Karno dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat dengan mengambil tempat Kraton Jogyakarta. Tanggal 29 Juni 1949 setelah tentara Belanda meninggalkan Jogyajarta, pasukan Republik Indonesia yang sedang bergeriliya bersama rakyat masuk kembali ke Jogyakarta. Kemudian diakhir tahun 1949 Pemerintah RI pindah ke Jakarta, dan saat itu pulalah tahun 1950 – 1970 Mama KH. Abdullah bin Nuh bersama Ibu Mursyidah (istrinya) hijrah ke Jakarta. (Prof. Dr. Muhajir, Jakarta 2012)

Jakarta dan UI-nya 1950 – 1970

Bersama dengan kembalinya Ibu kota RI ke Jakarta, Mama KH. Abdullah bin Nuh dengan istrinya yang kedua pun ikut serta ke Jakarta. Dari tahun 1950 hingga 1964 di Jakarta Mama KH. Abdullah bin Nuh meneruskan jabatannya di Yogjakarta yakni di Radio Republik Indonesia pusat sebagai Kepala bagian Siaran Bahasa Arab (1950-1964).

Setelah melalui liku-liku hidup dan mengarungi surutnya gelombang perjuangan, keluarga Mama KH. Abdullah bin Nuh menetap di Jakarta selama kurang lebih 20 tahun, yaitu mulai tahun 1950 – 1970. Di Jakarta inilah beliau menjadikan Ibu kota sebagai arena pengabdiannya kepada Allah swt dan kepada hamba-Nya. Beliau mengajar ngaji para asatidz/ Mu’alimin, memimpin Majlis-Majlis Ta’lim , menjabat sebagai Kepala Seksi Bahasa Arab pada Studio RRI Pusat. Selain itu juga aktif dalam kantor berita APB (Arabian Press Board) dan Ketua Lembaga Penyelidikan Islam (1964-1967).

Kemudian selama tiga tahun berikutnya menjabat Rektor Kepala di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada Jurusan Bahasa Arab, dan pemimpin Majalah Pembina. Menurut himpunan karya Mama KH. Abdullah bin Nuh yang dilakukan oleh KH.M. Syakur Yakub, Mama KH. Abdullah bin Nuh mengisi majalah tersebut dengan lebih dari 90 karya tulisnya, selama menjabat kepala Redaksi majalah Pembina (1962-1971). Melalui majalah ini Mama KH. Abdullah bin Nuh banyak mengungkapkan gagasannya tentang persatuan umat Islam atau Ukhuwwah Islamiyyah (Abudin Nata 2005).

Selain jabatan tetapnya itu, Mama KH. Abdullah bin Nuh juga melaksanakan dakwahnya di dalam maupun di luar negeri. Selama di Jakarta Mama KH. Abdullah bin Nuh menghadiri berbagai pertemuan dan seminar Internasional seperti di Saudi Arabia, Yordania, India, Irak, Iran, Australia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Beliau juga menjadi peserta konferensi Isam Asia-Afrika (KIAA) sebagai anggota panitia dan juru penerang yang terampil (Ensiklopedia Islam 1999:20).

Bogor 1970-1987

Disamping itu pada tahun 1959 sebelum kepindahan ke kota Bogor, beliau telah aktif memimpin pengajian-pengajian di Bogor, yaitu:

  1. Majlis Ta’lim Sukaraja ( Rd. Hidayat)
  2. Majlis Ta’lim Babakan Sirna ( Rd. Hasan)
  3. Majlis Ta’lim Gang Ardio (KH. Ilyas)
  4. Majlis Ta’lim Kebon Kopi ( Mu’alim Hamim)

Dan akhirnya pada tanggal 20 Mei 1970 Mama hijrah dari Jakarta ke Bogor.

Kepindahan keluarga Mama KH. Abdullah bin Nuh ke Bogor tahun 1970 adalah kepulanganya ke kota ini untuk ketiga dan terakhir kalinya. Di kota ini seluruh perhatian difokuskan kepada pendidikan agama. Mewadahi kegiatannya, disana bersama dengan tokoh-tokoh terpenting di kota ini, termasuk diantaranya H. Hartadikariya, mantan Bupati Bogor, H. Wiradisastra, mantan Jaksa tinggi, dan H. Dzulkifli Lubis, mantan Wakasad RI, KH. Abdullah bin Nuh medirikan Yayasan Islamic Centre Al-Ghazaly, dengan tujuan “membantu program pemerintah Indonesia dalam membina mental bangsa, memajukan pendidikan, menjunjung tinggi syi’ar agama Islam, dan menggalang kekuatan ukhuwwah Islamiyyah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya.

Mama’ dan ”Al-Ghazaly” nya

Yayasan Islamic Centre “AL-GHAZALY” ialah pusat pendidikan Islam terdiri dari Pesantren, Majlis Ta’lim, Sekolah Umum dan Madrasah Diniyah). Yayasan tersebut sudah tidak asing lagi bagi ummat Islam warga Bogor dengan memiliki empat lokasi yaitu: “AL-GHAZALY I” di Kotaparis, terdiri dari: Ponpes (Sunni Asy’ari Syafi’i), TK, SD + Diniyyah, SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA. “AL-GHAZALY II” di Cimanggu Taman (SD IT dan SMP IT Abdullah bin Nuh), “AL-GHAZALY III” di Cimanggu Barata (TPA dan RA) dan “AL-GHAZALY” IV di Cibogor (Perumahan Guru)

YIC “ALGHAZALY” adalah Mazro’atul Aakhiroh (ladang akherat) Mama. Tempat Mama memberikan pelajaran kepada para Ustadz dan Kyai-kyai yang berada di sekitar Bogor, bahkan ada pula yang datang dari Jakarta, Cianjur, Bandung, dan Sukabumi’.

Majlis-Majlis Ta’lim yang ada dalam asuhan Mama memiliki cabang-cabangnya di berbagai daerah, seperti:

  1. Di pesatren Al-Ghazaly (Kotaparis), Al-Ihya (Batu Tapak), Al-Husna (Layungsari), Nurul Imdad (Babakan Fakultas, belakang IPB), Nahjussalam (Sukaraja), Bogor, (1962-1970)
  2. Islamic Centre cabang Darmaga, dengan pesantren yang diberi nama Lembaga Pendidikan Insan Kamil.

Kesemuanya itu adalah tempat pengabdian Mama setelah usianya lanjut. Bagi Mama tiada hari tanpa kuliah shubuh. Kegiatan rutin setiap minggunya adalah hari Senin sampai dengan kamis di Majlis Ta’lim Al-Ihya, Jum’at sampai dengan Ahad di Al-Ghazaly, sedangkan Ahad siang (ba’da dzuhur) di Nahjussalam Sukaraja.

Selain itu, Mama juga mengadakan pengajian khusus untuk para pemuda dan pelajar, mahasiswa/ mahasiswi. Demikian kegiatan mama di “Al-Ghazaly” yang tidak mengenal istirahat.

Mama dan “Nahjussalam” Nya

Nahjussalam ialah pesantren idaman Mama yang belum terlaksana dengan sempurna dan tentunya wajib kita lanjutkan sampai tuntas. Jauh sebelum merencanakan “Nahjussalam”, Mama pernah mengutarakan keinginannya kepada salah seorang muridnya: “Mama ingin sekali punya pesantren”. Kemudian muridnya itu bertanya: “di daerah mana Mama ingin mendirikan Pesantren itu? Di Bogor, Timur, Ciluar atau Cianjur?” Mama menjawab: “ Sukaraja”. Muridnya masih penasaran, kemudian melanjutkan pertanyaannya: ”Kenapa ingin di Sukaraja?” Beliau menjawab:

  1. Ingin dekat dengan makam eyang Mama (Kanjeng Dalem)
  2. Melaksanakan amanat Mama Ajengan Manshur (Bilamana Mama Ajengan Manshur Wafat, harus diteruskan oleh beliau).
  3. Ingin istirahat total

Maka pada hari Sabtu tanggal 01 Muharam 1404 H, bertepatan dengan tanggal 08 Oktober 1983, dimulailah pembangunan fisik Pesantren Nahjus Salam yang diprakarsai oleh para putra Almarhum Rd. H. Jamhur Ciwaringin Tanah Sewa beserta sesepuh dan warga Sukaraja Hasanudin. Bangunan Pesantren tersebut selesai pada akhir bulan Rajab tahun itu juga. Peresmian yang langsung diisi oleh Mama dilaksanakan hari Jumat tanggal 25 Rajab 1404 H/27 April 1984, dan hari Ahad tanggal 12 Syaban (lebih kurang 2 minggu setelah peresmian) dimulai pengajian di Nahjus Salam.

Keinginan Mama selalu terkabul, sukses Dan Barokah. Maunahnya mulai nampak dan terlihat oleh khalayak ramai. Padahal setelah mengamati dan selalu memperhatikan gerak-geriknya, Mama memiliki keutamaan (kelebihan) ilmu, dan maunahnya telah terlihat dan terasa sejak Mama mulai menetap di Bogor.

Kira-kira tahun 1973 Mama berziarah kepada seorang Kyai yang telah dianggap Wali oleh para ulama yang tahu tentang keadaan kyai itu. Ada tiga keanehan yang sangat mencolok pada pribadi mama saat itu.

Pertama, Bukan Mama yang masuk ke kamar Kyai yang sedang sakit berat itu, tetapi justru Kyailah yang datang menemui Mama di ruang tamu.

Kedua, Mama memohon didoakan oleh kyai itu, tetapi keadaan sebaliknya yang terjadi, yakni Kyailah yang meminta didoakan. Akhirnya Mama-lah yang berdo`a. Kyai bersama penulis mengamini.

Ketiga, Ketika Mama permisi, kyai itu mengantarkan sampai ke pintu gerbang pekarangan rumahnya, sedangkan Kyai itu tidak pernah melakukannya terhadap siapapun.

Dengan ketiga hal yang mengandung keanehan itu, membuktikan bahwa derajat Mama sudah lain dari pada yang lain. Kembali kepada obrolan Mama mengenai “Ingin istirahat total” ini merupakan isyarat bahwa kepulangan Mama ke Rahmatullah telah mendekat. Karena hanya Wafatnya hamba kekasih Allahlah yang termasuk dan boleh dikatakan. “Istirahat Total”.

Permohonan Mama ingin istirahat total dikabulkan oleh Allah swt.Pada hari senin malam selasa, jam 19.15 WIB bada isya, tanggal 26 Oktober 1987 bertepatan dengan 04 Robiul Awwal 1408 H beliau pulang ke Rahmatullah. “Innaa Lillaahi wa Inna Ilaihi Roji`uuna. (KH. Ahmad Zaini Dahlan, 1987 M)

Bogor dan Madrasah P.S.A 1970-1987

Pada tahun 1927 Mama KH. Rd. Mama KH. Abdullah bin Nuh pulang dari Mesir ke Indonesia (Cianjur). Pada akhir tahun 1927 pergi ke Bogor (Ciwaringin). Beliau mengajar:

  1. Di Madrasah Islamiyyah yang didirikan oleh Mama ajengan Rd. Haji Manshur.
  2. Para Muallim yang berada disekitar Bogor.

Pada awal tahun 1928 beliau pindah ke Semarang tetapi tidak lama yaitu hanya 2 bulan, kemudian kembali ke Bogor. Lalu pulang lagi ke Cianjur dan beliau membantu (jadi guru bantu) mengajar di Al-I’anah, waktu itu nadhirnya Rd H. M. Sholeh Al-Madani (sekitar tahun 1930). Setelah itu beliau pergi lagi ke Bogor kedua kalinya dan bertempat tinggal di Panaragan. Pekerjaan beliau adalah:

  1. Mengajar para Kiyai.
  2. Jadi korektor percetakan IKHTIAR (Invertaris S.I.)

Pada tahun 1934 di Bogor (di Ciwaringin) didirikan Madrasah P.S.A. (Penolong Sekolah Agama). Maksud didirikannya PSA adalah untuk mempesatukan Madrasah-Madrasah yang ada disekitar Bogor Yang berada di bawah asuhan Mama Ajengan Rd. H. Manshur.

Selain memimpin madrasah-madrasah, juga mengajar di MULO (SLTP). Pada tahun 1939 Madrasah P. S. A. pindah ke jalan Bioskop (Jl. Mayor Oking, yang sekarang dipakai Mesjid). Dari tahun 1939 sampai dengan 1942 beliau tetap bertempat tinggal di Panaragan dan setiap hari mengajar ngaji para Kyai.

Walaupun Mama KH. Rd. H. Abdullah bin Nuh ilmunya telah begitu banyak, tetapi selama di Bogor beliau masih terus menambah ilmunya dari seorang ulama (Mufti Malaya) yaitu Sayyid Ali Bin Tohir.

Thoriqoh Mama

Ketika Mama masih tinggal di Jakarta (Gang Paseban) penulis sempat mengantar Mama pulang ke Jakarta dari Bogor, kira-kira tahun 1969. Di dalam bus antara Cibinong – Cisalak, Mama menerangkan

Tentang Thoriqoh: “Bahwa thoriqoh itu bukan hanya wirid saja, tetapi kemasyarakatanpun bila didawamkan disertai ikhlas termasuk thoriqoh juga”. Dalam kesempatan itu Mama menghikayatkan juga seseorang yang sholih: “ Pekerjaan seseorang itu adalah menangani fardhu kifayah (mengurus mayyit sampai menguburkannya dan menjenguk diwaktu masih sakitnya), dia jadi wali.”

Thoriqoh Mama ada tiga:

  1. Mengajar
  2. Muthola`ah
  3. Mengarang

Di mana saja Mama tinggal, Mama betah, asal Mama bisa menjalankan yang tiga itu dengan tenang, yang mudah-mudahan pulangnya Mama ke Rahmatullah pun demikian adanya, hijrah kepada keridloan Allah swt. Aamiin. (KH. Ahmad Zaini Dahlan, 1987)

Amanahnya Mama Abdullah bin Nuh

Di dalam mengarungi dunia yang penuh dengan godaan dan sarat dengan fitnah, Mama memberikan  Amanah kepada penulis tentang cara menghadapi manusia-manusia di abad modern ini, yaitu harus berpendirian :

  • Khumul = Tidak ternama
  • Malamih = Menampakkan roman muka
  • Tawakal kepada Allah swt.

Insya Allah selamat dari godaan dan fitnah. (KH. Ahmad Zaini Dahlan, 1987)

Saudara-saudara kandung Mama adalah:

  1. Rd. H. Mariyah (Jakarta)
  2. Rd. H. Aminah (Cianjur)
  3. Rd. H. Djuariah (Cianjur)
  4. Rd. Zaenab (Cianjur)
  5. Rd. Saodah (Cianjur)
  6. Rd.M.Yusuf Dahlan (Cianjur)
  7. Rd.H.SamrahFuady (Bandung)

Ahlu Bait Mama

A. Ibu Canjur dan putra-putrinya:

Ibu Cianjur adalah Almarhumah Ny. Rd. Mariyah (Ibu Nenden). Adapun Putra-putrinya adalah.

  1. Rd. Ahmad (Tanggerang) (Almarhum)
  2. Rd. Wasilah (Tanggerang) (Almarhumah)
  3. Rd. Hj. Romlah (Kotaparis, Bogor) (Almarhumah)
  4. Rd. Hilal (Sukaraja, Bogor) (Almarhum)
  5. Rd. Hamid (Australia)

B. Ibu Bogor dan putra-putrinya:

Ibu Bogor adalah Dra. Hj. Mursyidah (Ummul Ghazaliyyin). Adapun Putra-putrinya adalah:

  1. Rd. Aminah (Kotaparis, Bogor) (Almarhumah)
  2. Rd. Aisyah (Kotaparis, Bogor) (Almarhumah)
  3. Rd. Hj. Mariyam (Kotaparis, Bogor) (Almarhumah)
  4. Rd. Zahiro (Kotaparis, Bogor) (Almarhumah)
  5. Rd. Zulfa (Balitro, Bogor)
  6. Rd. H. M. Mustofa (Kotaparis, Bogor)

Keistimewaan Mama KH. Abdullah bin Nuh selaku ulama Indonesia adalah kemampuannya menciptakan syair-syair berbahasa Arab dalam berbagai bentuk dan isi seperti keagamaan, pujian dan kecintaan kepada tanah air Indonesia. Jumlah syairnya adalah 118 judul, dan seluruhnya terdiri dari 2.371 bait. Dua syair diantaranya, seperti sudah disebut sebelumnya, telah dibacakan dihadapan raja Saudi.

Karya-karya tulis Mama KH. Abdullah bin Nuh

  1. Karya-karya tulis dengan bahasa Indonesia yang terbentuk buku diantaranya, yaitu:
  2. Al-Islam
  3. Islam dan Materialisme
  4. Islam dan Komunisme
  5. Islam dan Pembahan
  6. Keutamaan Keluarga Rosulullah
  7. Islam dan Dunia Modern
  8. Risalah As-Syuro
  9. Ringkasan Sejarah Walin Songo
  10. Riwayat Hidup Imam Ahmad Muhajir
  11. Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten
  12. Pembahasan Tentang Ketuhanan
  13. Wanita Dalam Islam
  14. Zakat dan Dunia Modern
  15. Karya-karya tulis dengan Bahasa Arab yaitu berbentuk natsar (karangan bebas) dan syi’ir (puisi)

Selain mengarang Mama KH. Abdullah bin Nuh juga menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan Sunda.

  1. Diantaranya terjemahannya kedalam Bahasa Indonesia adalah:
  2. Renungan
  3. O’anak
  4. Pembebasan dari Kesesatan
  5. Cinta dan Bahagia
  6. Menuju Mukmin Sejati (Minhajul-Abidin, karangan terakhir Imam Al-Ghazaly)
  7. Adapun yang beliau terjemahkan kedalam bahasa Sunda diantaranya berjudul:
  8. Akhlaq
  9. Dzikir
  10. Sebagai seorang ahli bahasa Arab Mama KH. Abdullah bin Nuh menyempatkan dan menyusun kamus bersama sahabatnya H. Umar Bakry, diantara kamusnya adalah:
  11. Kamus Arab-Indonesia
  12. Kamus Indonesia-Arab-Inggris
  13. Kamus Inggris-Arab-Indonesia
  14. Kamus Arab-Indonesia-Inggris
  15. Kamus bahasa Asing (Eropa), berkisar hubungan:
  16. Diplomatik
  17. Politik

Total karya Mama KH. Abdullah bin Nuh yang berhasil dikumpulkan sejumlah enam puluh lima kitab, yang terdiri dari bahasa Arab, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Sunda. Ada beberapa kitab karya beliau yang dicetak dan disebarkan pihak lain, mama ABN hanya mengucapkan : “Alhamdulillah, dakwah bil Qolam mama ada yang bantu.”

Mama telah tiada

Meninggalkan kita

Telah pulang ke Rahmatullah

Akan menerima Keridhoan Allah

Kita yang ditinggalkan

Wajib melanjutkan

Amanat Mama kita laksanakan

Thoriqoh Mama kita jalankan

“Mudah-mudahan riwayat hidup Mama’ yang ringkas ini menjadi cermin untuk kita semua, kaum muslimin-muslimat, baik tua maupun muda. Dan tulisan ini masih banyak kekurangan dan membutuhkan masukan, koreksian tambahan sejarah yang belum tercatat dari Murid-Murid Mama yang menyebar di seantero jagat raya ini. Juga bagi yang memiliki tulisan peninggalan Mama kami keluarga menunggu untuk kita abadikan demi menghidupkan Mama’ dalam tauladan kita semua.”

Baca juga : Raden Aria Wiratanudatar Cikundul Cianjur

Daftar Pustaka Sumber

  1. YIC Al-Ghazali,Yayasan Islamic Centre “Al-Ghazaly”, Sejarah dan Perkembangannya, Bogor: 29 Maret 1998.
  2. Amiruddin Sujadi, Pemikiran Pendidikan K. H. R Mama KH. Abdullah bin Nuh, Jakarta UIN, 2008.
  3. H. Abuddin Nata, M.A, Prof, Dr< > Tokoh-tokoh Pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada.
  4. Faizuddin, Ait, Riwayat Singkat Rd. H. Muhammad Nuh dan Banu Nuh, Jakarta: 18 Oktober 1996.
  5. Mursyidah, Mama KH. Abdullah bin Nuh, Riwayat Hidup al-Marhum Mama K. H. Mama KH. Abdullah bin Nuh, Bogor: Zadul –Ma’had al-Ghazali, 2005.
  6. Cahaya Sufi, Riwayat Hidup Mama, Jan 2009.
  7. Rosidi, Ayip dkk, ensiklopedi Sunda, Jakarta: Pustaka Jaya,
  8. Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ikhtiar Baru van Hoeve, 1997.
  9. KH. Ahmad Zaini Dahlan, Riwayat Mama KH.Abdullah bin Nuh, Bogor, 13 Robi’ul Tsani 1408 H/4 Desember 1987 M
  10. Prof. Dr. Muhajir, Riwayat Hidup Abdullah bin Nuh, Jakarta 2012.

Tanggapan