Ayat Al Qur’an Tentang Cinta – Peran cinta dalam pribadi Muslim sangatlah penting. Kecenderungan menjalin hubungan “serius” dengan Allah, dengan sesamanya, dan berusaha merawat amanah Allah (:bumi) dengan ikhlas bisa dilakukan jika seorang muslim mempunyai dasar cinta yang kuat. Tanpa cinta maka usaha tersebut akan sia sia.

Cinta pada Allah bagi seorang hamba lebih merupakan pengikat. Kecintaan tersebut akan menggiring seorang hamba pada ikhlasnya pengabdian (: ibadah).

Cinta itu sendiri, atau yang dikenal dalam bahasa Arab Mahabbah berasal dari kata Ahabba-Yuhibbu-Mahabbatan, yang secara bahasa berarti mencintai secara mendalam, kecintaan, atau cinta yang mendalam (Musthofa, 2013). Munawwir (1997) dalam Hasan (2016) juga menjelaskan makna yang sama, bahwa Mahabbah berasal dari kata Ahabba-Yuhibbu-Mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai atau kecintaan yang mendalam.

Al-Maḥabbah adalah bentuk masdar dari kata kerja ḥababa atau ḥabba, yaḥubbu, ḥubbān atau al-maḥabbah yang berakar pada hurup; ḥa dan ba yang mempunyai makna, melazimi dan tetap. Pengertian tersebut mengandung arti dengan melazimi sesuatu secara tetap akan menimbulkan keakraban. Pertalian tersebut membawa kepada persahabatan yang akhirnya dapat menimbulkan rasa cinta (al-maḥabbah) atau keinginan bersatu. (Damis, 2010).

Musthofa (2013) menjabarkan, mengambil penjelasan dari Jamil Shaliba, bahwa Mahabbah (cinta) adalah lawan dari kata al-Baghd (benci). Al Mahabbah dapat pula berarti al Wadud, yakni yang sangat pengasih atau penyayang. Mahabbah adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang menyenangkan. Jika kecenderungan itu semakin menguat, maka namanya bukan lagi mahabbah, tetapi berupa menjadi ‘isyaq (asyik-masyuk). Dalam definisi al-Muhasibi, mahabbah diartikan sebagai “kecenderungan hati secara total pada sesuatu, perhatian terhadapnya itu melebihi perhatian pada diri sendiri, jiwa dan harta, sikap diri dalam menerima baik secara lahiriah maupun batiniah, perintah dan larangannya; dan pengakuan diri akan kurangnya cinta yang diberikan padanya.

Terminologi maḥabbah mengadung penjelasan akan kecenderungan hati secara keseluruhan kepada sesuatu, kepada yang menyenangkan, perhatian terhadapnya melebihi perhatiaan kepada diri sendiri, jiwa dan harta, sikap diri adalah menerima baik secara lahiriah maupun batiniah, perintah dan larangannya dan pengakuan diri akan kurangnya cinta yang diberikan kepadanya (Ahmad, 2005 dalam Ilyas, 2017).

Memaknai Cinta Pada Allah

Menjelaskan konsep cinta kepada Allah kurang menarik apabila tidak dilihat dari sudut pandang sufistik. Kajian sufistik bahwa Mahabbah (cinta) adalah mata rantai keselarasan yang mengikat sang pecinta kepada kekasihnya, suatu ketertarikan kepada kekasih, yang menarik Sang pecinta kepadanya, dan melenyapkan suatu dari wujudnya, sehingga pertama-tama ia menguasai seluruh sifat dalam dirinya, kemudian menangkap zatnya, dalam genggaman qudrah (Allah). (Anwar, 2010) dalam Hasan (2016).

Lebih lanjut, Danis (2010) menjabarkan bahwa hakikat al-maḥabbah adalah keinginan bertemu dan bersatu dengan yang dikasihi. Danis (2010) membagi wujud al-maḥabbah mejjadi dua, yaitu; al-maḥabbah milik Tuhan dan al-maḥabbah milik manusia. Al-Maḥabbah milik Tuhan diberikan kepada hamba-Nya dalam bentuk rahmat dan nikmat, sedang al-maḥabbah bagi manusia mempunyai dua obyek yaitu; Tuhan dan selain Tuhan. Dari sinilah terdapat perbedaan antara al-maḥabbah bagi orang beriman dengan tidak beriman.

Munculnya cinta seseorang kepada Rabb terwujud dalam bentuk pengorbanan. Musthofa (2013) menjelaskan bahwa cinta hamba kepada Tuhannya adalah suatu rasa manifestasi yang dapat mengantarkan ke derajat yang lebih tinggi, sempurna dan suci. Kedudukan yang tinggi ini menuntut manusia untuk berkorban demi penciptanya, sebagaimana yang dilakukan oleh seseorang kepada orang yang dicinta. Seorang pecinta harus mencintai obyek yang di cinta dengan hati yang tulus. Ia harus rela berkorban demi yang di cintai sebagai bukti atas cintanya.

Proses pengorbanan tersebut dilalui dengan berusaha mensucikan diri, agar lebih dekat pada Illahi. Berbagai tingkatan (maqam) dilalui, untuk mencapai tingkatan tertinggi, yaitu ma`rifatullah. Dengan berbagai macam usaha pensucian diri, maka bertambahlah cerahnya mata batin dalam melihat kemakhlukan diri serta kesadarannya yang tinggi akan kasih sayang Illahi, kasih sayang yang selalu dirasakan dan tiada pernah henti. Bagi seorang mukmin, cinta memiliki kedudukan dan rasa yang tiada tara, seorang mukmin tidak akan merasakan manisnya iman, sehingga ia tidak merasakan hangatnya cinta. Ia harus memiliki cinta sebagai syarat kesempurnaan iman (Hasan, 2016).

Baca Juga : Bertemu Rasulullah Dalam Keadaan Terjaga

Seorang hamba yang telah mempunyai kecintaan pada Rabb nya akan tampak pada kondisi hati yang ridla (kepuasan hati), syawq (kerinduan) dan uns (keintiman). Unsur al-ridla bisa diartikan ketaatan tanpa disertai banyak penyangkalan seorang pecinta terhadap kehendak Yang Dicinta. Juga diartikan wujud ketaatan hati terhadap semua keputusan Allah dan kepasrahan jiwa dalam menyikapi qadla dan qadar Allah, artinya manusia memantapkan hati dan menerima secara total terhadap segala keputusan Allah dengan bahagia. Sedang al-syawq adalah kerinduan sang pecinta untuk bertemu dengan Kekasih. Dalam kondisi ini, jiwa manusia terasa terbakar oleh perasaan rindu kepada Allah. Sementara al-uns adalah kondisi kejiawaan yang dialami manusia ketika merasa dekat sekali dan menangkap kehadiran Allah tanpa ada penghalang. Kondisi cinta yang sempurna, di mana seorang hamba akan selalu mengingat Allah di dalam hati, kebahagiaan, kesenangan, kerinduan membara dan keintiman mendalam kepada Allah (Mazumi, 2015).

Ayat Alqur’an Yang Berkenaan Dengan Cinta

Bukti kecintaan seorang yang beriman adalah mengesampingkan cintanya kepada makhluk dan lebih memilih cinta kepada Allah. QS:Al-Baqarah : 165 menjelaskan ;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

 “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”

Q.S. At-Taubah ayat 24 menjelaskan bahwa ;

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya: Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik

Lebih lanjut Q.S. Al-Munafiqun: 9 menjelaskan ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allâh. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi”

Cara mewujudkan bukti cinta kepada Allah yaitu dengan mengikuti seruan Nya, sebagaimana firmanNya :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya : “Katakanlah, Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Al-Imran: 31).

Rasa kasih sayang yang diberikan allah sebab iman dan amal sholeh

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang” (Q.S. Maryam : 96).

Q.S. Ar-Ra’d : 28 menjabarkan lebih lanjut ;

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Implementasi Cinta Pada Allah SWT pada kehidupan seorang Muslim

Cinta seorang Muslin kepada sang Khaliq termanifestasikan dalam kesungguhan untuk menjalin ukhuwah islamiyah lebih umum lagi ukhuwah basyariah.

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

Artinya: “Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang” (Q.S. Al-Balad :17)

Manifestasi kecintaan hamba kepada Rabb nya dalam bentuk kesediaan menjadikan Rosullulah Muhammad SAW sebagai suri tauladan dan melaksanakan amal saleh sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ketaatan kepada Allah harus seiring dengan ketaatan kepada Rosul – Nya,Q.S. An-Nisa’ ayat 59 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya…”

Allah menegaskan bahwa ketaatan pada rosul – Nya sebagi bukti ketaatan kepada Allah.

Q.S. An-Nisa’ ayat 80

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Artinya: “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.

Perintah untuk taat pada rosul – Nya dijadikan sebagai bukti ketaatan kepada Allah, karena pada pribadi beliau terdapat teladan yang baik.

Q.S. Al-Ahzab ayat 21 menegaskan bahwa

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Q.S. Al-Hujurat ayat 1 menjelaskan ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Pengaruh al-maḥabbah dalam akidah, menyebabkan akidah tersebut semakin kuat, tidak ada keraguan sedikitpun. Pengaruhnya  dalam bidang akhlak adalah membentuk pribadi yang bermoral tinggi, menjadi manusia yang sempurna, bersih dari segala bentuk pelanggaran karena, perbuatannya dikendalikan oleh Allah swt. Hal tersebut, dibuktikan dalam bidang sosial kemasyarakatan dengan sikap yang suka membantu sesamanya, menyebarkan perdamaian, dan saling kasih mengasihi, sehingga menjadi rahmat di tengah-tengah masyarakat (Damis, 2010).

Baca Juga : 12 Penyakit Rumah Tangga, Segera Atasi Sebelum Terlambat

Kesimpulan Danis (2010) diperkuat oleh hasil penelitian Riyadi (2008) setelah menelaah 11 ayat di Alqur’an, yaitu bahwa Allah menjelaskan tentang cinta sebagaimana yang dimiliki oleh Mukmin ; cinta kepada Allah dan Rosul-nya, cinta kepada keimanan yang termanifestasi pada amal amal sholih, mencintai kaum beriman dengan menjalin ikatan persaudaraan, mencintai orang tua dan kerabat, cinta kepada kesenangan hidus dan perhiasan dunia. Seperti pasangan lawan jenis yang memberikan ketenangan hidup, anaka – anak sebagai penyejuk mata dan penyambung garis keturunan, harta benda bahkan kendaraan – kendaraan untuk kemudahan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

  • Damis, Rahmi (2010)  Al-Mahabbah Dalam Al-qur’an  (Kajian Tafsir). Disertasi :  Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (Uin) Alauddin Makassar
  • Hasan, Abu (2016). Konsep Cinta Kepada Allah dalam Alqur’an, Telaah atas pemikiran Al Alusi dalam Ruhul Maani Q.S Al Imron:31). Skripsi : Prodi Ilmu Alqur’an dan Tafsir Fakultas Ussuluddin dan Filsafat. Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya
  • Ilyas, Roudlotul Jannah (2017). Mahabbah Sesama Manusia Dalam Perspektif Al-qur’ān. Skripsi : Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh
  • Mazumi, Fikri (2015)  Konsep Cinta Sufi Rabi’ah al-‘adawiyyah. Jurnal :  MIYAH VOL.XI NO. 02 Agustus Tahun 2015
  • Musthofa, Anwar (2013) Konsep Mahabbah Dalam Al-Quran (Telaah Tafsir Maudlui). Skripsi : Program Studi Tafsir Hadis Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Stain) Tulungagung

Baca Juga : Hikmah Beriman pada Hari Akhir

Tanggapan