Arti Istiqomah Dalam Islam – Pribadi paripurna (Al Insanul Kamil), merupakan pribadi ideal yang diharapkan terbangun dalam diri tiap Muslim.

Ajaran Islam, sebagaimana yang dicontohkan Rosulullah SAW, mengarahkan seorang muslim pada pribadi paripurna, baik dalam berilmu, bersikap ataupun berperilaku. Dengan demikian ketika seorang muslim, dengan kelengkapan hidup yang meliputi raga, ras, rasio dan rukun tersebut mulai bergerak ke satu titik dan membentuk pola pikir dan prilaku yang sama sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam (tawhid al fikroh), maka interaksi sosial bisa terjadi dengan harmonis, damai dan saling melengkapi (al shuhbah).

Proses tersebut akan berjalan sesuai dengan fungsinya fungsinya (al tathbiq) yaitu mempengaruhi individu lain untuk membentuk kelompok sosial sesuai dengan norma dan tata nilai sebagaimana yang termaktub dalam ajaran islam. Dari sinilah terbangun masyarakat Islam, sebuah masyarakat yang memiliki kemuliaan. Untuk menuju ke arah itu hal terpenting yang dibutuhkan adalah perilaku Istiqomah pada pribadi tiap muslim dalam menjalankan “tiap detail” ajaran Islam, sebagaimana yang akan kita bahas berikut ini.

Pengertian Istiqomah dalam Islam

Bentuk lafad Istiqomah yang diambilkan dari fi’il madhi istaqoma secara bahasa mengandung arti berusaha berdiri secara tegap. Hal ini tidak lepas dari asal katanya yaitu lafad qoma .sedang perubahan dari qoma menuju Istiqomah hanyalah bentuk ikutan pada wajan istaf’alan yang masdar simaiinya istif’alan. ta marbuthoh pada lafad istaqoma merupakan bawaan dari keumuman /simaa’i orang arab ketika melafadkan Istiqomah (Maksum, dalam Makromi, 2014).

Semisal dengan itu Shihab (2003) dalam Hadi (2018) juga menjelaskan kata istiqomah terambil dari kata qama yang pada mulanya berarti lurus/tidak mencong. Kata ini kemudian dipahami dalam arti konsisten dan setia melaksanakan apa yang diucapkannya. Istiqomah berarti ia melaksanakan kebaikan secara konsisten, dimana saja dan kapan saja ia berbuat baik

Kajian terminologi Istiqomah, Makromi (2014) menjelaskan tentang Istiqomah dengan beberapa pengertian ;

  1. Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang Istiqomah ia menjawab; bahwa Istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)
  2. Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”
  3. Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”
  4. Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”
  5. Al-Hasan berkata: “Istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan
  6. Mujahid berkata: “Istiqomah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt”
  7. Ibnu Taimiah berkata: “Mereka berIstiqomah dalam mencintai dan beribadah kepadaNya tanpa menengok kiri kanan”

Beberapa definisi diatas menjelaskan bahwa istiqomah adalah menjaga kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun) dan berkomitmen terhadap perintah dan larangan mengikhlaskan amal sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT.

Konsep Istiqomah Dalam Alqur’an

QS Fushshilat: 30-32 memberikan penjelasan tentang istiqomah :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ . نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ .  نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ .

Artinya : ” Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

QS Al-Ahqaaf: 13- 14 menjelaskan lebih lanjut tentang istiqomah :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ . أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai Balasan atas apa yang telah mereka kerjakan ”

Ibrahimy (2015) menafsiri ayat di atas bahwa Istiqomah (konsisten) yang berarti teguh dalam berpendirian, teguh dalam berkeyakinan, teguh dalam berperilaku, teguh dalam berbuat, serta teguh dalam rutinitas peribadatan.

Lebih lanjut  Ibrahimy (2015) menjelaskan akan adanya korelasi antara keimanan dengan perilaku istiqomah. Kita dapat memulai memahami korelasi lman terhadap pemaknaan Istiqomah tersebut dengan melihat pada kalimat yang berbunyi: “…kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka”, dimana kalimat ini didahului oleh kalimat lain yang bcrbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah”. Keduanya memberi kesan kepada kita bahwa adanya sikap meneguhkan pendirian itu berhubungan erat dengan adanya satu sifat keimanan yang menyatakan keyakinan tentang Allah Ta’ala sebagai Tuhan.

Baca juga : Ayat Al Qur’an Tentang Cinta

Pada kesimpulannya Ibrahimy (2015) menyatakan bahwa sikap meneguhkan pendirian itu merupakan penjelasan tentang istiqomah, dan sikap meyakini bahwa Allah Ta’ala sebagai Tuhan merupakan penjelasan tentang keimanan. Dua hubungan makna yang bersama saling memberi satu pengertian.

Hadist Nabi SAW menyandingkan keimanan dengan istiqomah sebagai pengejawantahannya :

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 38]

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abdu bin Hamid, Ad-Darimi, Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, Ibnu Hibban dari Sufyan bin Abdullah As-Saqofi (Seseorang telah bertanya kepada Rasulullah “wahai Rasulullah beritahukan kepadaku suatu amalan dalam Islam yang tidak akan kutanyakan kepada selain engkau wahai Rasulullah”, Rasulullah kemudian bersabda: “katakanlah aku beriman kepada Allah SWT dan istiqomahlah”). Tirmidzi menjelaskan bahwa hadist ini derajatnya adalah hasan shahih.

Pentingnya Istiqomah Dalam Interaksi Dengan Sesama

Lebih jauh, konsep istiqomah juga penting diterapkan dalam menjalin hubungan “baik” dengan sesama manusia. Berupaya untuk menjalin hubungan agar tetap baik dan menjaganya sampai akhir merupakan perwujudan dari penerapan konsep Istiqomah dalam keseharian kehidupan Muslim. Sebagaimana diketahui bahwa setiap muslim harus melakukan perannya sesuai dengan norma dan tata nilai Islami sebagai upaya membentuk tatanan masyarakat ideal. Hubungan interpersonal yang dipraktekkan Nabi saw bersama para sahabat dapat berkembang dengan baik, karena setiap muslim bertindak sesuai dengan perannya masing masing dan tetap istiqomah dalam perannya tersebut.

Pengembangan Makna Istiqomah Dalam Beribadah

Mengutip penjelasan Ibrahimy (2015) tentang makna Istiqomah dalam beribadah :

Pertama: Istiqomah beraqidah, artinya memberi peluang bagi akal untuk mencari, meneliti dan menemukan kebenaran (al Haq). Dan hanya al Qur’an-lah petunjuk segalanya. Bukan malah ber-Taqlid buta, mengikuti prasangka-prasangka (awham), mitos (khurofat), atau takhayul yang semuanya tak memiliki bukti nyata, dan tak teruji kebenarannnya.

Kedua : Istiqomah dalam perangai, artinya mengambil satu sikap tengah tengah antara dua perangai, yakni antara al Jubn (terlalu penakut) dan at Tahawwur (berani tanpa perhitungan ).

Ketiga : lstiqamah dalam perbuatan, artinya berbuat sesuatu tanpa melampaui batas, tidak keterlaluan dalam satu urusan atau teledor dalam urusan yang lain

Keempat : Istiqamah dalam suluk, artinya tetap atau rutin dalam satu ibadah tertentu (mudawamah) yang sudah menjadi kebiasaannya.

Penutup

Dengan demikian istiqomah merupakan ‘jalan” seorang Muslim dalam meniti kedekatan kepada Allah SWT melalui ajaran Islam, sebagaimana yang disampaikan oleh Rosul – Nya. Dalam konsep Istiqomah, ajaran Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya akan selalu dipegang teguh dan menjadi prinsip hidup.

Makromi (2014) menjelaskan bahwa Karakterstik Pribadi yang Istiqomah memang erat kaitannya dengan keteguhan untuk selalu berada di jalan lurus yang luas atau berbuat mendekati jalan lurus yaitu disekitar Garis Keseimbangan Optimum dengan ketulus ikhlasan semata-mata karena ridha Allah.

Baca Juga : Hikmah Beriman pada Hari Akhir

Istiqomah dalam menjalankan syariat Allah dan menjadi dalam seluruh aktifitas penghambaan dan pensucian jiwa, pada akhirnya mengarahkan pada terbentuknya pribadi pribadi muslim yang mencapai kemuliaan di hadapan Allah Swt , seorang Pribadi paripurna (Al Insanul Kamil).

Dalam banyak aspek, istiqamah merupakan suatu ruh atau energi spiritual yang karenanya keadaan menjadi hidup dan juga menyuburkan amal manusia secara umum. Oleh karena semua amal tergantung niatnya, dan niat erat kaitannya dengan keikhlasan dan ridha Allah semata, maka istiqamah dalam banyak aspek akan berkaitan dengan kontinuitas atau konsistensi untuk selalu berada di Shiraathal Mustaqiim dengan pengolahan jiwa atau nafs manusia atau penyucian jiwa (Makromi, 2014).

Sekian ….

Semoga bermanfaat. Silahkan berbagi tulisan ini melalui tautan sosial media di bawah ini.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ibrahimy, Ahmad Azaim. 2015. Integrasi Iman & Istiqomah Dalam Membentuk Manusia Paripurna (Al-Insan Al-Kamil). Jurnal Lisan Al-Hal : Volume 7, No. 1, Juni 2015.
  2. Hadi, Kharis Abdurrohaman. 2018. Konsep Istiqomah Dalam Menuntut Ilmu (Studi Terhadap Al-Qur’an Surat Fushshilat Ayat 30). Skripsi :  Program Studi Pendidikan Agama Islam (Pai) Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
  3. Makromi. 2014. Istiqomah Dalam Belajar (Studi atas Kitab Ta’lim Wa Muta’allim). Jurnal : Volume 25 Nomor 1 Januari 2014

Tanggapan