Apa itu Ilmu, Ibadah, dan Tingkatan Manusia – Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Pohon tanpa buah masih banyak manfaatnya untuk paru-paru dunia, sumber oksigen, cadangan air di dalam tanah, kayunya bermanfaat, tempat tinggal makhuk lain, burung dan sebagainya.

  • Pohon tanpa buah masih banyak manfaatnya, daripada tidak ada pohon sama sekali.
  • Pohon dengan buah, tentu lebih bermanfaat. Pohon adalah nilai utama, buah adalah nilai plus.

Amal tanpa ilmu, mardudatun la tuqbalu. Amal tanpa ilmu, ditolak tidak diterima.

Ilmu, walau tidak diamalkan, tetap mulia dan abadi, karena ilmu itu sifat Khalik. Sedangkan ibadah itu tidak abadi, karena sifat makhluk.

Ilmu yg bermanfaat adalah ilmu yang diajarkan Nabi SAW, seimbang untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Menjadi rahmat bagi semesta Alam.

Ilmu tidak akan hilang dengan ujub. Amal akan terhapus dengan ujub.

Tiga Derajat Orang Berilmu

Ada tiga derajat orang dalam mengamalkan dan menyebarkan ilmunya, yaitu :

1. Derajat Al Alim

Yaitu orang yang memiliki ilmu cukup untuk skala lokal, kebutuhan masyarakat sekampung, sedesa, sekecamatan. Ia ibarat parit, sungai kecil. Mencukupi kebutuhan air untuk skala kecil, sekampung. Parit, atau sungai kecil, mudah sekali keruh jika hujan, mudah tercemar, terpengaruh hoax dan isu-isu agama, politik dan provokasi.

2. Derajat Al-Allaamah

Yaitu orang yang memiliki ilmu cukup untuk skala kabupaten. Ia bisa mencukupi berbagai permasalahan dan kebutuhan masyarakat sekabupaten. Ia ibarat sebuah sungai besar, tidak mudah tercemar dan kotor, tetapi tidak kuat menghadapi hujan lebat, longsor, dan banjir. Orang tipe ini, tidak mudah terpengaruh isu-isu agama, politik, dan propaganda, kecuali jika isu dan permasalahannya skala nasional.

3. Derajat Bahrul Fahhaamah

Yaitu orang yang berilmu sangat banyak, ujung keilmuannya tidak terukur. Bahrul Fahhamah, adalah samudera. Keilmuannya sudah seperti samudera yang mencukupi kebutuhan manusia satu negara, hingga satu benua. Samudera ilmu tidak akan tercemar walaupun dihujankan limbah kotoran dari alam dan oleh manusia jutaan ton setiap hari.

Tiga Macam Manusia Bermanfaat

Dari sisi peran dan fungsionalnya manusia diciptakan, setiaknya ada 3 macam manusia :

1. Manusia ahli fikir

Mereka lebih banyak berfikir dan mengaktualisan pemikirannya melalui lisan, tulisan, dan tindakan. Makhluk yg bisa berfikir hanyalah manusia. Ia memiliki akal. Karena fikiran jugalah, manusia berbeda, membangun peradaban, mewariskan pengetahuan, dsb.. Seringkali, perbedaan pemikiran menjadi laknat dan kehancuran jika dilandasi emosi dan egosentris yg tinggi. Juga bisa menjadi rahmat, ketika perbedaan pemikiran dijadikan sebuah pembejalaran yg terus menerus dan saling mengasah. Sejatinya, lawan diskusi dan debat, adalah kawan dalam berfikir.

2. Manusia ahli dzikir

Mereka lebih banyak berdzikir dibanding berfikir. Ahli dzikir sejati, tidak akan pernah melepaskan diri selain melantunkan pujian keagungan Tuhan. Tidak pernah beradu pemikiran, berdebat, menulis, dan tidak mengaktualisasikan dirinya ke publik. Cukuplah, setiap helai nafasnya untuk Tuhan, urusannya dirinya dengan Tuhan.

3. Manusia ahli Ikhtiar

Mereka jarang berfikir dan berdizikir, kerena perannya di dunia adalah roda-roda penggerak keseimbangan alam, kehidupan. Ia banyak bekerja, beraktifitas, dan menghabiskan waktunya tidak untuk berfikir maupun berdzikir.

Ketika kita mengambil ibroh dari burung, kita akan merasa kurang bertasbih. Suara kita tidak lebih indah dari burung.

Ketika kita mengambil ibroh dari kerbau, kita akan merasa tidak lebih mulia darinya yg ikhlas membajak sawah demi padi dan nasi untuk manusia.

Ketika kita mengambil ibroh dari kuda, mungkin kita merasa tidak lebih tabah dari kuda yg setiap hari rela menanggung beban berat muatan manusia dan dilecut dengan cambuk. Mereka tidak mau marah dan mengeluh.

Semua hewan tidak berfikir, perseteruan hewan hanyalah tentang makanan, pasangan, dan wilayah.

Manusia diberi pemikiran, perseteruannya terjadi juga di pemikiran.

Banyak amaliyah akhirat yang menjadi amaliyah dunia. Dan banyak juga amaliyah dunia yang menjadi akhirat. Semua tergantung niat. Seperti berkhutbah dan mengajar ilmu karena mencari uang, maka menjadi amal dunia. Namun makan dan minum akan menjadi amaliyah akhirat dan bernilai pahala jika niatnya supaya ibadahnya bertenaga dan tenang.

Baca juga : Sifat-sifat manusia menurut islam

Tanggapan

Berikan Tanggapan :

Mohon beri tanggapan
Silahkan masukkan nama Anda