Amalan di Bulan Ramadhan – Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Keberkahan ini tampak pada semua ibadah yang dimudahkan, pahala yang dilipatgandakan serta dibukanya pintu maaf lebar lebar. Ramadhan adalah bulan dimana umat Islam berusaha kembali membangkitkan kesadaran nurani untuk khusyuk dan tawadhu beribadah dan beramal shaleh. Tulisan ini merangkum beberapa amaliah dan ibadah yang masyhur dilakukan muslim dalam menghidupkan ramadhan.

Ghozali (2007) mengutip hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata, ‘Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda:

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

Artinya : “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga  dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka ia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan an-Nasa`i).

Demikian mudah Allah SWT menerima ibadah hamba sebagaimana mudahnya Allah memberikan maaf kepada hamba yang sungguh sungguh bertaubat. Selanjutnya Ghozali (2007) menyebutkan setidaknya ada beberapa amalan penting di bulan Ramadhan yang harus dilakukan, antara lain ;

1. Puasa

Ahmad (2009) mendefinisikan puasa sebagai rukun Islam yang keempat. Kata ‘puasa’ adalah terjemahan dari kata “shaum” atau “shiyam” yang menurut bahasa berarti menahan diri. Menurut istilah syariat Islam berarti menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami-istri sejak dari terbit fajar shadiq sampai terbenam matahari.

Allah SWT memerintahkan berpuasa di bulan Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam. Firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمُمْن

Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah:183)

Puasa di bulan merupakan penghapus dosa-dosa yang terdahulu apabila dilaksanakan dengan ikhlas berdasarkan iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. متفق عليه

Artinya : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya telah lalu.” Muttafaqun ‘alaih.

2. Membaca al-Qur`an

Membaca al-Qur`an sangat dianjurkan bagi setiap muslim di setiap waktu dan kesempatan. Rasulullah SAW bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه

Artinya : “Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya (yaitu, orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya)”. HR. Muslim.

Rasulullah SAW selalu memperbanyak membaca al-Qur`an di hari-hari Ramadhan. Diriwayatkan al-Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan tadarus al-Qur`an bersama Jibril as di setiap bulan Ramadhan.

Bagi umat Islam iqro’ al Qur’an merupakan bentuk ibadah istimewa dimana tiap ayat yang dibaca merupakan Kalamullah (firman Allah SWT). Menghayati iqro’ al Qur’an hakikatnya merupakan ikhtiar hamba dalam upaya berdialog dengan Tuhannya.

Gayung selalu bersambut, yaitu bahwa Allah senantiasa mengganti ibadah tersebut dengan pahala berlipah. Ahmad (2009) Iqro’ al Qur’an bertujuan menyelami makna dan kandungan Al Qur’an untuk selanjutnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, untuk membiasakan diri membaca Al Qur’an sehingga dapat memperlancar dan memperbaiki bacaannya.

3. Menghidupkan Malam-Malam Bulan Ramadhan dengan Shalat Tarawih Berjamaah.

Ghozali (2007) menjelaskan bahwa shalat tarawih disyari’atkan berdasarkan hadits ‘Aisyar radhiyallahu ‘anha, ia berkata:”Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada waktu tengah malam, lalu beliau shalat di masjid, dan shalatlah beberapa orang bersama beliau. Di pagi hari, orang-orang memperbincangkannya. Ketika Nabi I mengerjakan shalat (di malam kedua), banyaklah orang yang shalat di belakang beliau. Di pagi hari berikutnya, orang-orang kembali memperbincangkannya. Di malam yang ketiga, jumlah jamaah yang di dalam masjid bertambah banyak, lalu Rasulullah SAW keluar dan melaksanakan shalatnya. Pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jamaah, sehingga Rasulullah hanya keluar untuk melaksanakan shalat Subuh. Tatkala selesai shalat Subuh, beliau menghadap kepada jamaah kaum muslimin, kemudian membaca syahadat dan bersabda, ‘Sesungguhnya kedudukan kalian tidaklah samar bagiku, aku merasa khawatir ibadah ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya.” Rasulullah SAW wafat dan kondisinya tetap seperti ini. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

4. Menghidupkan malam-malam Lailatul Qadar

Ada beberapa malam, yang dimalam itu, Allah menurunkan berkah yang berlipat ganda. Malam itu terselip di akhir akhir Ramadhan. Lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan yang pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kedamaian sampai terbit fajar. Pendapat paling kuat bahwa ia terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, terlebih lagi pada malam-malam ganjil, yaitu malam 21, 23,25,27, dan 29.

Firman Allah SWT :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

Artinya : ”Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS.al-Qadar :3)

Menghidupkan Lailatul qadar adalah dengan memperbanyak shalat malam, membaca al-Qur`an, zikir, berdo’a, membaca shalawat.

5. I’tikaf terutama di malam-malam Lailatul Qadar

I’tikaf dalam bahasa adalah berdiam diri atau menahan diri pada suatu tempat, tanpa memisahkan diri. Sedang dalam istilah syar’i, i’tikaf berarti berdiam di masjid untuk beribadah kepada Allah dengan cara tertentu sebagaimana telah diatur oleh syari’at. I’tikaf merupakan salah satu sunnah yang tidak pernah ditinggal oleh Rasulullah SAW.

Beberapa tujuan iktikaf seperti yang ditulis Ahmad (2009) antara lain ; Merenungkan kembali kedudukan kita sebagai hamba dan khalifah Allah untuk memakmurkan bumi yang bertanggung jawab langsung kepada-Nya. Memperbanyak tafakur, zikir dan puji-pujian untuk mengingat keagungan Allah. Memperbanyak doa memohon ridha Allah atas setiap gerak langkah dan ucapan kita. Mencari-temukan keutamaan dan kemuliaan Lailatul Qadar, anugerah Allah yang diperuntukan bagi hamba-Nya di bulan suci Ramadhan.

Rosulullah mengajari kita untuk menyambut malam dengan ibadah. Ihya’ul laili (mengidupkan malam) dengan memperbanyak dzikir dan wirid merupakan bukti kesediaan kita untuk bersama sama dengan Allah. Berlama lama dalam i’tikaf, ditengah kesunyian malam, memunajadkan harap dan menyuarakan doa merupakan bentuk ibadah  yang sangat disukai Allah, dan moment ini menjadi teramat istimewa sebab dilakukan di malam ramadhan.

6. Memperbanyak Sedekah

Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas ra, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ

Artinya : “Rasulullah r adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan saat Jibril umenemui beliau ”HR. al-Bukhari.

Seakan Rosulullah menyambut kehadiran bulan untuk mengasah kepekaan kepekaan dan memupuk kepedulian terhadap penderitaan sesama, terutama mereka yang kurang beruntung, para fakir dan miskin.

Tidak penting berapa nominalnya, yang terpenting adalah keihlasan beramal kepada Allah melalui ketersediaan untuk berbagi. Sedikit bagi kita, akan terasa besar bagi mereka yang membutuhkan. Terasa menggembirakan lagi apabila shodaqoh tersebut diberikan langsung kepada yang membutuhkan. Sambil tersenyum kita ulurkan tangan dan yakinlah mereka akan menyambutnya dengan penuh suka cita, sebagai pertanda turunnya rahmat Allah kepada kita. Moment ramadhan hendaknya diisi dengan ibadah ibadah yang bisa menyampaikan kita pada rahmat Allah SWT.

Secara umum, Ramadhan adalah bulan latihan untuk menempa diri. Bulan tidak makan dan tidak minum untuk perbaikan metabolisme tubuh. Bulan dimana kita ‟dipaksa‟ untuk melakukan aktivitas terbaik dengan istirahatnya tubuh dari makan dan minum. Bulan dimana kita mengaktifkan sel-sel tubuh yang lain, yaitu potensi otak dan hati kita.

Bulan dimana kita bisa mendapatkan pahala dimana di bulan-bulan sebelumnya kita belum tentu mendapatkannya. Bulan dimana dengan solat sunah saja kita mendapat pahala yang sama besarnya dengan solat wajib. Bulan dilipatgandakannya pahala. Bulan dimana kita bisa berkesempatan meraih pahala, rahmat, hidayah dan ampunan-Nya.

Semoga kita diberikan kemudahan untuk menjalankan ibadah di Bulan ramadhan… aamiiin.

Tanggapan