Pengertian Ahlus Sunnah wal Jamaah – Istilah Aswaja atau Ahlus Sunnah wal Jamaah sering digunakan untuk menyebut kaum atau komunitas yang menganut paham teologi (kalam) Asy’ariyah- Maturidiyah, menganut fiqh empat madzhab, utamanya Syafi’iyah dan tasawuf mengikuti pola pemikiran Imam al- Ghazali dan Syaikh Junaid al Bagdadi (Mufid, 2013).

Ahlusunnah adalah penganut sunnah Nabi, wal-Jama’ah penganut I’itiqad jamaah sahabat-sahabat Nabi. Kaum Ahlussunnah wal-Jama’ah adalah kaum yang menganut I’tiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad Saw dan sahabat sahabat beliau. I’tiqad Nabi dan sahabat-sahabat itu telah termaktub dalam alqur’an dan sunnah Rasul secara terpencar-pencar, belum tersusun secara rapi dan teratur kemudian dikumpulkan dan dirumuskan secara rapi oleh seorang ulama ushuluddin yang besar yaitu Syekh Abu Hasan Ali al-Asy’ari (lahir di Basrah tahun 260 H) (Supyanto, 2012).

Konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Misrawi (2010 yang dikutip Sholihah (2018) menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah golongan yang berpegang teguh kepada sunnah Nabi, para sahabat, dan mengikuti warisan para wali dan ulama. Secara spesifik, Ahlussunnah wal jamaah yang berkembang di Jawa adalah mereka yang dalam fikih mengikuti Imam Syafi‟i, dalam aqidah mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy‟ari, dan dalam tasawuf mengikuti Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Hasan al-Syadzili

Munawir (2016) mendefinisikan Aswaja sebagai kepanjangan dari “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”. Artinya orang-orang yang menganut atau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, dan Wal Jama’ah berarti mayoritas umat atau mayoritas sahabat Nabi Muhammad SAW. Jadi definisi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yaitu: “Orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan mayoritas sahabat (maa ana alaihi wa ashabii), baik di dalam syariat (hukum Islam) maupun aqidah dan tasawuf.”

Lebih lanjut (Munawir (2016) menjelaskan bahwa Istilah Aswaja dalam masyarakat indonesia adalah Ahlus sunnah wal-jama’ah. Ahlus Sunnah Wal-jama’ah terdiri dari tiga kata yakni: 1). Ahl, berarti keluarga, golongan atau pengikut, 2). Al-sunnah, berarti segala sesuatu yang telah diajarkan oleh rosulullah baik berupa perkataan, perbuatan dan ketetapan, 3). Al- Jama’ah berarti apa yang telah disepakati oleh para shohabat Rosulullah SAW.

Baca Juga : Sejarah Islam Nusantara yang Jarang Diketahui

Bisa disimpulkan bahwa paham aswaja atau ahlu sunnah wal jama’ah adalah penganut tradisi Nabi Muhammad SAW, mengikuti kebiasaan para shahabat Nabi dan menerapkan ajaran tersebut dalam kesehatan kehidupannya baik dalam aqidah, syariat maupun “laku” tasyawuf nya.

Di Indonesia sendiri faham ini dianut oleh mayoritas umat Islam. Mudahnya paham ini dalam mendapatkan penganut di mayoritaas Umat Islam Indonesia sebab konsep moderat (washatiyah) yang diusung khususnya dalam keyakinan (aqidah), syari’ah maupun praktik tasawuf sesuai dengan “budaya” masyarakat Indonesia.

Dalam perkembangan konsep Aswaja, awalnya dinilai akomodatif terhadap tradisi lama (local tradition), kemudian berkembang mengikuti trend puritan, yaitu ikhtiar untuk memperjuangkan “kemurnian” doktin dan tata cara peribadatan, yang dimaksudkan agar corak Islam terlihat semakin murni. Pada perkembangannya “progres” Pemurnian ajaran ASWAJA dari tradisi lama dan budaya lokal melahirkan gerakan modernis tetap bersandar pada kaidah berfikir atau istimbat al hukmi yang berlaku dalam madzhab ini.

Masuknya Aswaja di Indonesia Dan Perkembangan Pemahamannya

Proses masuknya aswaja seiring dengan proses masuknya Islam ke Indonesia itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa hubungan dagang antara penduduk pribumi dengan pedagang Arab, Persia, India dan Cina, menjadi “jalan”bagi penyebaran agama Islam dan khususnya paham Aswaja, paham keagamaan yang dianut oleh para saudagar dan ulama. ditengarai para habaib dan sayid Hadramaut memberikan pengaruh besar pada “model” penerapan peribadatan penduduk nusantara.

Pada perkembangannya paham ini diklain oleh beberapa organisasi keagamaan besar yang muncul di Indonesia. Muhammadiyah, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Al Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan tentu saja Nahdlotul Ulama (NU). Akan tetapi ada perbedaan mendasar tentang pengamalan paham ini dalam keseharian kehidupan warganya.

Mufid (2013) menjelaskan bahwa Muhammadiyah, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Al Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, meski jelas-jelas menganut faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak pernah disebut sebagai kaum ASWAJA. Sebabnya, Muhammadiyah dan organisasi-organisasi tersebut dalam pemahaman dan pengamalan Islam lebih menekankan kepada kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah, menolak taklid kepada ulama, pemurnian aqidah, dan pengamalan tasawuf tanpa tarekat (Azra, 2012, dalam Mufid, 2013).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah

Sementara itu, NU sebagai pendukung ASWAJA, menambah praksis ibadah dengan taqlid kepada ulama, mengamalkan apa yang disebut dengan fadha’il al-a’mal, dan tarekat. Konstelasi penerapan paham aswaja di kalangan umat islam di Indonesia mulai melunak dan ada kecenderungan telah terjadi konvergensi (keadaan menuju pada satu titik pertemuan.

Setidaknya itulah yang digambarkan oleh Mufid (2013) bahwa telah banyak pengikut NU atau Aswaja, terutama di perkotaan yang mengikuti praktik ibadah salat Tarawih 8 rakaat dan salat Idul Fitri maupun Idul Adha di lapangan. Sebaliknya, penganut “aliran baru” juga tidak menolak diajak “istighosah”, selamatan dengan membaca tahlil dan surat Yasin.

Sekat budaya (cultural barrier) yang memisahkan keduanya telah runtuh. Hal itu disebabkan terjadinya dialog wacana dan dialog kehidupan yang intensif antara keduanya. Munculnya generasi muda dari kedua belah pihak yang mengakui adanya pluralitas, sehingga muncul paham “agree in disagreement”, membuat mereka memandang perbedaan pemahaman keagamaan dalam perspektif yang luas. Pertukaran pendidikan diantara kedua kelompok ini juga terjadi secara masif. Banyak anak orang NU yang sekolah di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah, dan sebaliknya banyak anak Muhammadiyah yang masuk pesantren milik kyai NU. Dalam perkembangannya faham Ahlu Sunnah wal Jamaah di kalangan NU sendiri juga sudah tidak lagi ekslusif, melainkan telah menjadi inklusif yang menerima pikiran-pikiran dari luar.

Baca Juga : Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama

Selanjutnya, menurut Mufid (2013) sebagaimana yang dikutip dari Ismail (2001)  bahwa NU dan Muhammadiyah sepakat bahwa keduanya adalah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang tidak lagi menempatkan pertarungan politik sebagai tujuan yang dominan. Bahkan dalam perkembangan pemikiran keagamaan, kedua kelompok ini telah menerima Pancasila sebagai dasar negara yang bersifat final.

Disisi lain muncul gerakan keagamaan yang relatif baru. Mereka mengklain bahwa faham keagamaa Islam yang dianut mengikuti pemahaman Aswaja. Faham dan gerakan Salafi (demikianlah mereka sering disebut) mengklaim dirinya sebagai ASWAJA, padahal dalam hal furu’ mereka berbeda dengan kelompok NU. Keseharian pengikut mereka tampil beda dengan mengenakan jubah panjang (jalabiyah), sorban (imamah), celana yang menggantung (isbal) dan memelihara jenggot (lihyah). Perempuannya mengenakan pakaian hitam-hitam yang menutupi semua tubuh dan wajah mereka, kecuali mata.

Jika menyelenggarakan walimah, undangan dipisahkan dengan tabir antara laki-laki dan perempuan. Khutbah, ceramah dan pengajian yang mereka lakukan selalu dimulai dengan iftitah yang standar dan sama, mengacu pada iftitah khutbah Nabi SAW. Oleh banyak ahli, kelompok ini disebut gerakan neo-fundamentalism non-revolusioner Salafisme kontemporer merupakan Wahabisme yang dikemas ulang mengikuti pikiran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Andul Wahab serta merujuk kepada pemegang otoritas fatwa Wahabi kontemporer seperti Abdul Azis bin Abdullah bin Baz (1912-1999) dan Muhammad Nasirudin Al-Bani (W. 1999). (Mudzhar, 2012, dalam Mufid 2013).

Peran Penting Aswaja Dalam Upaya Deradikalisasi Paham Radikalisme

Radikalisme merupakan fenomena yang semakin marak di Indonesia dalam beberapa tahun akhir. Radikalisme keagamaan sebagai paham dari organisasi Islam radikal memiliki karakteristik, penggunaan jalan kekerasan. Opini publik menegaskan bahwa radikalisme ditengarai sebagai pemicu lahirnya terorisme. yang menjadi sebuah ekstra ordinary crime.

Eksistensi organisasi Islam radikal diakui merupakan ancaman bagi masa depan Islam Indonesia yang dikenal dengan karakter ramah, toleran dan humanis. Penafian yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal terhadap kearifan nilai-nilai kultur Indonesia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Naim (2015) merupakan langkah awal dari identifikasi ancaman. Lebih lanjut Naim (2015) menjelaskan, karena tidak menghargai terhadap nilai-nilai kultur Indonesia maka Islam radikal sering menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan realitas budaya yang telah mengakar kuat di masyarakat.

Tidak jarang kelompok Islam radikal menggunakan jalan kekerasan dalam melaksanakan aktivitasnya. Jalan kekerasan yang mereka tempuh akan memicu timbulnya kekerasan demi kekerasan berikutnya. Jika Islam radikal terus mengembangkan sayap ke berbagai bidang kehidupan maka kehidupan damai dan toleran akan semakin sulit untuk kita temukan.

Baca Juga : Apa itu NU?

Dari kerangka inilah organisasi Islam arus utama (mainstream) merasakan perlu untuk memberikan respons aktif-konstruktif agar organisasi Islam radikal tidak semakin menggeliat dan menancapkan akar pengaruhnya. Infiltrasi (baca : penyusupan) gerakan Islam radikal dilakukan secara masif, khususnya terhadap generasi muda. Pilihan terhadap generasi muda ini cukup efektif dan strategis, karena generasi muda pada umumnya belum memiliki pengalaman matang dalam persoalan keagamaan.

Terlebih sebetulnya mereka memiliki semangat yang tinggi dalam mendalami agama. Oleh karenanya mereka mudah untuk didoktrin dengan ideologi tertentu. Generasi muda yang direkrut ke dalam kelompok Islam radikal biasanya sangat ideologis dan siap berjuang secara totalitas dengan kompensasi apa pun demi menjalankan visi dan misi organisasinya.

Salah satu upaya yang penting untuk dilakukan demi mencegah berkembangnya Islam radikal adalah melalui pelajaran tertentu. Pelajaran yang disampaikan di kelas adalah media terstruktur dan sistematis yang memungkinkan siswa mengetahui, memahami dan mengamalkan sebuah ajaran secara lebih baik. Melalui sebuah pelajaran, siswa biaa memahami apa itu Islam radikal, karakteristiknya, bahayanya, dan berbagai aspeknya secara komprehensif. Salah satu pelajaran yang dapat mencegah radikalisasi adalah pelajaran agama Islam yang berasas Aswaja.

Pengetahuan agama Islam yang berasas Aswaja ( Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā‘ah) memiliki potensi yang besar untuk menjadi counter atas semakin menguatnya arus Islam radikal. Hal ini disebabkan karena Aswaja merupakan sistem teologi yang moderat. Ajaran Aswaja dapat dijadikan sebagai sarana membangun pemahaman Islam yang toleran, inklusif dan moderat. Selain itu, Aswaja yang tertanam sebagai pengetahuan, pemahaman dan sikap merupakan modal penting untuk bersikap kritis dalam menghadapi dinamika sosial keagamaan yang semakin kompleks. (Fitriyah, Umam, 2018).

Ikhtiar NU Dalam Upayanya Membentengi Dari Masuknya Padam Radikalisme

Di NU sendiri upaya membentengi dari masuknya padam radikalisme agama disamping menegakkan prinsip-prinsip ajaran ahlu sunnah wal jama’ah dan prinsip dasar organisasi telah disadari oleh pendiri NU sendiri. Menurut Munawir (2016) KH. Hasyim Asy’ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), dan juga merumuskan kitab Itiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagai penegasan garis pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ”versi” NU. Pada perkembangan selanjutnya, kedua kitab tersebut, diejawantahkan dalam Khittah NU, yang dijadikan dasar dan rujukan sebagai warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan, dan po1itik.

Lebih lanjut Munawir (2016) menegaskan bahwa khusus untuk membentengi keyakinan warga NU agar tidak terkontaminasi oleh paham-paham sesat yang dikampanyekan oleh kalangan modernis, KH. Hasyim Asy’ari menulis kitab risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang secara khusus menjelaskan soal bid’ah dan sunah. Sikap lentur NU sebagai titik pertemuan pemahaman aqidah, fikih, dan tasawuf versi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah berhasil memproduksi pemikiran keagamaan yang fleksibel, mapan, dan mudah diamalkan pengikutnya. Dalam perkembangannya kemudian para ulama’ NU di Indonesia menganggap bahwa Aswaja yang diajarkan oleh KH Hasyim Asy’ari sebagai upaya membumikan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta ta’addul (keadilan). Prinsip-prinsip tersebut merupakan landasan dasar dalam mengimplimentasikan Aswaja.

Wassalam,….

Daftar Pustaka

Fithriyah, Mustiqowati Ummul dan Umam, M.Saiful (2018). Internalisasi Nilai-Nilai Aswaja Dalam Pendidikan Islam Sebagai Upaya Deradikalisasi Menuju Good Citizen. Seminar Nasional Islam Moderat. UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018. ISSN : 2622-9994

Mufid, Ahmad Syafi’i (2013). Paham Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dan Tantangan Kontemporer dalam Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 12. September – Desember 2013

Munawir (2016). Aswaja NU Center dan Perannya sebagai Benteng Aqidah. Jurnal : SHAHIH – Vol. 1, Nomor 1, Januari – Juni 2016. ISSN: 2527-8118 (p); 2527-8126 (e).

Naim, Ngainun (2015). Pengembangan pendidikan Aswaja Sebagai strategi deradikalisasi. Jurnal : Walisongo, Volume 23, Nomor 1, Mei 2015.

Sholihah, Firdayatus (2018). Nilai-Nilai Filosofis Teologi Ahlus Sunnah Wal Jamaah Dan Implementasinya Dalam Tradisi Amaliyah nahdliyin (Studi di Kampung Gedung Jaya Rawa Pitu Tulang Bawang). Skripsi : Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Supyanto (2012). Konsep Ahlussunnah Waljama’ah Dalam Perspektif KH. Hasyim Asy’ari Dan Peran Politik NU Dalam Persiapan Kemerdekaan RI. Skripsi : Kementerian Agama Republik Indonesia Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon 2012 M/1434 H

Tanggapan